Perlahan, hubungan Byantara dan Meylin kembali menemukan iramanya. Hari-hari berlalu dengan tenang di rumah Sarah. Tanpa paksaan, tanpa tuntutan. Meylin mulai terbiasa dengan kehadiran Byantara, dengan caranya yang selalu berhati-hati, seolah takut satu gerakan keliru bisa membuat segalanya runtuh kembali. Ia membantu hal-hal kecil, menyiapkan sarapan, menemani Meylin berjalan di pagi hari, dan selalu ada saat Meylin membutuhkan bantuannya. Malam itu, sebelum tidur, suasana terasa berbeda. Byantara berdiri di samping ranjang, menatap Meylin yang sudah berbaring dengan selimut rapi. Ada ragu di matanya, tapi juga harap. “Aku… boleh?” tanyanya pelan, menunjuk kening Meylin. Meylin menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil sambil tersenyum malu. “Tidak keberatan.” Byantara tersenyum le

