84. Aku membencimu

1385 Kata

Pagi itu udara terasa dingin, meski matahari sudah naik. Byantara mengemudi dengan mata merah dan kepala penuh kekacauan. Surat Meylin masih berada di genggamannya, kertasnya sudah berlipat tidak beraturan, basah oleh keringat dan sisa air mata yang tidak sempat ia sadari. “Aku tidak butuh tanggung jawabmu…” Kalimat itu terus berputar di kepalanya, menghantam tanpa jeda. Setiap kata seolah menertawakan keyakinannya sendiri, bahwa ia masih punya waktu, bahwa Meylin akan menunggunya sampai ia siap bicara. Mobil berhenti di depan rumah ibu Meylin. Byantara turun tergesa, bahkan lupa mematikan mesin. Ia mengetuk pintu dengan napas berat, rasa cemas membuat dadanya sesak. Tidak lama, pintu terbuka. Sarah menatapnya dengan raut terkejut. “Byan? Pagi-pagi begini… ada apa?” “Ibu…” suara By

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN