50. Penyesalan yang Terlambat

1156 Kata

“Me… Meylin…” Suaranya patah. Hampir tak terdengar. Tidak ada jawaban. Yang ada hanya tubuh Meylin yang semakin mengecil, seperti ingin lenyap dari hadapannya. Bahunya bergetar pelan, seolah menahan sesuatu yang lebih berat dari sekadar rasa sakit fisik. “Meylin… astaga… Aku… aku sudah…” Byantara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya terputus-putus. Bahunya ikut bergetar. Hanya beberapa detik sebelum ia bangkit dan dengan tergesa menarik selimut, menutupi tubuh Meylin yang tampak pucat. Ada perasaan malu dan jijik pada dirinya sendiri saat ia menatap wajah cantik yang kini hambar, kehilangan cahaya. Rasa bersalah itu menghantamnya tanpa ampun, menghancurkan, menelanjangi seluruh egonya. Penyesalan itu menusuk lebih tajam daripada luka apa pun yang pernah ia rasakan. Ia t

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN