Ponsel Byantara yang tergeletak di meja bergetar pelan. Satu kali. Lalu berhenti. Beberapa detik kemudian, kembali bergetar, kali ini lebih lama. Byantara melirik sekilas layar yang menyala. Nama itu muncul, tanpa hiasan, tanpa nada khusus. Dewi. Meylin yang sedang merapikan meja sempat menoleh, tapi tidak bertanya. Ia hanya melanjutkan kegiatannya, seolah memberi ruang seperti kebiasaannya selama ini. Lagipula Byantara tidak ke perusahaan, bisa jadi itu panggilan dari perusahaan. Byantara menatap layar itu cukup lama. Entah kenapa, kali ini tidak ada gugup, tidak ada rasa bersalah, tidak ada dorongan untuk segera menjawab. Yang ada justru kelelahan yang tenang. Keputusan yang sudah bulat. Ia mengangkat telepon. “Halo,” ucapnya singkat. Di seberang sana, suara Dewi terdengar cer

