Byantara merasa bahagia, seolah potongan hidup yang sempat hilang perlahan kembali ke tempatnya. Malam itu terasa berbeda, lebih hangat, lebih sunyi, seakan dunia memberi ruang hanya untuk mereka berdua. Ia mendekat dengan hati-hati, seakan takut satu gerakan ceroboh bisa memecah rapuhnya momen itu. Meylin tidak menyingkir. Tatapan mereka bertaut, napas saling bersentuhan, dan ketika bibir itu akhirnya bertemu, tidak ada kesan tergesa, hanya kerinduan yang ditahan terlalu lama. “Aku rindu padamu, Mey… boleh?” bisik Byantara, suaranya rendah, jujur. Meylin terdiam sejenak. Pipinya memerah, jantungnya berdetak tak beraturan. Namun ia mengangguk pelan, sebuah jawaban sederhana yang membuat d**a Byantara menghangat. Ia menarik napas lega, menahan rasa haru yang nyaris tumpah. Dengan lembut

