Byantara menatap layar ponselnya cukup lama. Kalimat singkat itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Di depan rumahmu. Napasnya tertahan. Sekilas pandangannya kembali tertuju pada Meylin yang masih terlelap, wajahnya tenang, bulu matanya bergetar halus, seolah dunianya tidak punya beban apa pun. Pemandangan itu justru membuat d**a Byantara semakin sesak. Aku seharusnya sudah jujur… Penyesalan itu datang terlambat, menekan tanpa ampun. Ia belum pernah benar-benar menceritakan masa lalunya dengan Dewi. Bukan karena ingin menyembunyikan, melainkan karena ia takut, takut melukai hati Meylin, takut kehilangan ketenangan yang baru saja ia rasakan. Ketakutan itu mencengkeram Byantara lebih kuat dari udara malam yang dingin. Ia takut… takut Meylin marah, takut Meylin berpikir bah

