Shenina tak berhenti mengaduk es teh manis yang ada di hadapannya. Daritadi es teh manisnya cuman diaduk, tak kunjung diminum. Entah apa yang sedang dipikirkan Shenina. Eras, yang sedang duduk di samping Shenina, jadi terheran-heran. Tatapan Shenina sangat serius. Dahinya sedikit mengkerut. Padahal yang lagi diperhatikan cuman es teh manis. Shenina terlihat seperti orang yang lagi banyak pikiran. Shenina juga tak berhenti menggerakkan kakinya. Persis seperti orang yang sedang gelisah. Yah, bagaimana Shenina tidak gelisah kalau siang ini Arga tiba-tiba menelepon dan bilang mau bertemu di restoran yang sama yang sekarang sedang dia datangi bersama Eras? Siapa tau kan Arga mau ngajak balikan? Jadi Eras harus buru-buru pergi sebelum Arga keburu datang. “Kamu kenapa?” tanya Eras. “Gapapa,

