Chapter 6 - Ego

1560 Kata
Harry muncul dari lift bersama dengan Andy, bodyguardnya. Mata Harry tampak sedemikian berapi-api saat melihat Kinan keluar dari unit didepannya dan diikuti dengan keluarnya pria asing. Ada bayangan kekesalan saat dia melihat bahwa gadis yang dia ‘minati’, keluar dari unit apartment laki-laki lain. Apalagi laki-laki lain itu keluar dalam keadaan bertelanjang d**a. Membayangkan apa yang mereka lakukan didalam sana saja sudah membuat  kepala Harry memanas.“Kinan?” Harry mencoba meyakinkan bahwa itu adalah Kinan. Kinan menoleh ke arah suara yang memanggil namanya dengan begitu keras. “Pak Harry?” gadis itu terkejut. Jadi yang tadi memanggilnya adalah Pak Harry. 'Darimana pria itu tahu namanya?' Batin Kinan dengan keterkejutannya tentang kehadiran Pak Harry yang belum usai. “Apa yang kau lakukan disitu?” Tanya Harry pada Kinan. Sedangkan Kinan sendiri seperti membisu, begitu terkejut melihat Harry yang sama terkejutnya dengan Kinan.  “Ikuti aku, Kinan!” perintah Harry kemudian sambil berjalan menuju pintu apartmentnya. Kinan bahkan sudah merasa sangat terintimidasi saat Harry menyuruh Kinan mengikutinya. Dia merasa sangat terancam sekarang. Lebih terancam daripada saat menghadapi si bule gila, Edgar. Dengan langkah gontai, Kinan meninggalkan Edgar yang masih menatapnya didepan pintu apartmentnya. Entah apa yang membuatnya begitu, dia seketika tertarik pada gadis itu. Kinan telah hilang dibalik pintu apartment Harry. Sedangkan Edgar masih terpaku didepan pintu, dia sedang berpikir keras,”Did he mention her name? Kinan?” Dia kemudian mengangguk-anggukan kepalanya kemudian segera masuk kedalam apartmentnya. ****** Harry menekan beberapa digit angka pada pintu apartment. Itu adalah nomor pin untuk mengakses masuk kedalam unitnya. Dia menoleh kebelakang, pria asing itu masih berdiri disana dengan celana pendek tanpa baju. Harry benar-benar sangat kesal melihatnya seperti itu. Pria itu menatap Kinan dengan gumaman lalu  mengumbar senyum yang terkesan menggoda. ‘Apa yang dia lakukan dengan Kinan barusan? Ada apa dengan penampilannya yang tanpa baju itu? Apa dia pikir, dia itu sangat atletis? Apa aku harus meminta Andy mengurusnya saja? Erghhh!’ batin Harry mulai meracau kesal. “Ayo masuk!” Harry menyuruh Kinan masuk. Gadis itu meremas tasnya kemudian mengikuti perkataan Harry. “Kamu pulang saja, Ndy. Tugasmu selesai hari ini.” Perintah Harry, dan Andy hanya mengangguk kemudian bergegas pergi. Andy membalik badan dan pandangan nya bertemu dengan Edgar. ‘Apa yang dia lakukan dengan pria asing ini? Apa dia mengenalnya?’ Andy berusaha mencerna pemandangan yang baru saja dia lihat. ’Tapi pantas jika semua lelaki dengan mudahnya tertarik pada Kinan. Dia memang menarik, bahkan aku mungkin akan mendekatinya jika Pak Harry tak menginginkannya.’ Andy melangkahkan kaki pergi dari apartment itu dengan pikiran konyolnya. ****** “Jadi apa yang baru saja kalian lakukan?” Tanya Harry pada Kinan yang berdiri mematung disamping sofa ruang tamu tanpa mendudukinya. “Sa.. Saya.. Ti.. Tidak melakukan apapun, Pak..” suara Kinan terdengar gemetaran. “Benar begitu?” Harry melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang berbatasan langsung dengan ruang wardrobe. Dia ingin segera mandi dan mengganti bajunya. Seharian ini benar-benar membuatnya sangat lelah. Apalagi dengan ditambah pemandangan yang membuat kepalanya memanas barusan. “Iya, Pak…” Kinan merasa itu juga bukan urusan Harry jika dia ingin bersama siapapun dan melakukan apapun. Itu adalah urusan pribadi dan juga hak nya. Dia bukan siapa-siapa Kinan kan? “Hmm, duduklah. Tunggu aku sebentar.” Kinan menuruti perintah Harry. Dia duduk di sofa putih yang berada di ruang tamu, terasa sangat nyaman dan empuk saat saat Kinan mendudukinya. Kinan melihat kesekeliling ruangan yang tampak disekitarnya. Sebesar unit Edgar, namun berbeda design dan dominansi warna. Apartment Pak Harry memiliki d******i warna emerald. Dengan perpaduan warna putih, terlihat sangat bersih dan mewah. Semua perabotan juga tertata rapi sehingga mengesankan bahwa Pak Harry adalah orang yang pembersih. Ntah mengapa berada diruangan ini sembari menunggu Pak Harry keluar dari ruangan itu membuat hati Kinan merasa sedikit tenang dan melupakan ketakutannya tentang tujuan awalnya datang ketempat itu. Lama mata Kinan menjelajah dan mengagumi setiap benda dan penataan ruangan di apartment itu sembari menunggu Pak Harry. Beberapa kali dia melirik jam yang ada ditangan kirinya. ‘Apa sih yang sebenarnya dia lakukan disana?’ Kinan melirik kembali jam tangannya, sudah pukul 8 malam,’Apa sebaiknya aku memanggilnya saja?’ gumam Kinan sambil melongok kearah ruangan yang tadi dimasuki oleh Pak Harry. “Sudah bosan menunggu?” seorang pria muncul dari dalam ruangan itu dengan mengenakan bathrobe berwarna biru tua, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya masih basah, meneteskan buliran air disekitar pelipisnya. Sedangkan dadanya terekspos dengan jelas dihadapan Kinan, membuat gadis itu menelan ludah. Seksi. Kinan tertegun sekejap lalu mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh bos ayahnya itu. ‘Ya Tuhan, kenapa sepanjang hari ini Kau berikan aku cobaan bertubi-tubi?’ batin Kinan. Jantungnya berdetak dengan kecepatan penuh. Kinan harus memegangi dadanya bila tak menginginkannya melompat keluar. Kinan harus  sadar dia sedang berada dimana dan dia harus mengingat kembali tujuan utamanya ketempat itu adalah bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan tadi siang. “Kamu mau minum apa?” Tanya Harry seraya berjalan kearah lemari es 2pintu yang tentu saja 2x lebih besar dari pada yang ada dirumah Kinan.   “Tidak usah, Pak. Ehm, saya kemari untuk menyelesaikan tentang tadi siang saya tidak sengaja melempar mobil Bapak.” Kinan merasa harus to the point agar tidak berlama-lama ada disitu. “Hahaha.. rupanya kamu gadis yang tidak sabaran ya Kinan?” Harry kembali menutup lemari es setelah mengambil 2 kaleng softdrink. Dia berjalan menuju kearah ruang tamu yang letaknya bersebrangan dengan dapur,”Minumlah ini dulu. Apa kamu tidak haus setelah bersama pria asing tadi?” harry kemudian meletakan minuman dimeja tepat dihadapan Kinan, sementara dia duduk di sofa single yang berdekatan dengan Kinan. “Maksud anda apa, Pak. Saya tidak mengerti.” Kinan mengerutkan dahinya. Dia semakin tidak mengerti kemana arah pembiicaraan Harry. Dia sama sekali tak menyentuh softdrink yang diberikan oeh Harry. “Apa aku harus menjelaskannya dengan detail padamu, Kinan. Kamu pasti tahu yanga aku maksud kan?” kata Harry sembari meneguk minumannya. Kinan terdiam. Dia benar-benar tak mengerti. Otaknya berpikir dengan sangat keras sekarang,’atau, Harry mengira aku berbuat m***m dengan bule tadi?’ pikirnya dalam hati. “Maaf, Pak. Saya sama sekali tidak mengerti apa yang Bapak ucapkan. Saya datang kemari untuk menyelesaikan  permasalahan tadi siang, Pak. Jadi berapa total yang harus saya bayarkan untuk mengganti kerusakan mobil anda, Pak?” Kinan betul-betul tanpa basa-basi sekarang, walaupun dirinya sendiri sedang panas dingin menantikan angka yang akan disebutkan oleh Harry. Dia juga mengetahui Boss ayahnya ini sudah beristri, dia tidak ingin tiba-tiba digrebek di apartment ini. Tentunya itu akan menjadi hal yang sangat memalukan bukan. Sebaiknya hal ini cepat diselesaaikan dan dia dapat segera pulang. Harry memandang Kinan dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa gadis dihadapannya ini begitu to the point, ‘Bukankah seharusnya dia takut padaku? Apa dia tak tahu kalau aku ini atasan ayahnya?’ Batin Harry bergejolak. Kinan benar-benar menggoda hasratnya. “Kamu, benar-benar tak melakukan apapun dengan pria asing tadi?” Tanya Harry pada Kinan lagi. “Sebenarnya itu bukan urusan anda, Pak. Apa yang saya lakukan itu mutlak adalah hak saya.” Kinan merasa sangat aneh dengan gelagat laki-laki dihadapannya ini, sungguh tidak wajar jika ada seorang laki-laki yang sama sekali tidak memiliki hubungan special dengan nya namun berulang kali menanyakan tentang hal yang menurutnya private. “Apa kamu tidak tahu bahwa ayahmu bekerja diperusahaanku? Bagaimana jika aku memecat ayahmu dengan alasan anaknya tentang berbuat kurang ajar padaku? bahwa anaknya sudah merusak mobilku? Bahwa anaknya sudah berbuat m***m dengan seorang laki-laki dihadapanku?” “Apa itu terdengar rasional memecat karyawan dengan alasna pribadi. Ini adalah urusan saya dengan anda, Pak Harry. Tolong jangan melibatkan ayah saya.”  Ntah keberanian darimana yang tiba-tiba merasuki jiwa Kinan, namun kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. “Kalau begitu pulanglah, dan nyatakan besok pagi. Apa aku bisa memecat ayahmu atau tidak.” Laki-laki seperti Harry sangat pantang untuk dilawan. Akan ada akibatnya jika ada yang berani menantangnya. “Pak, anda---” “Ya, aku serius!” potong Harry. Keegoisannya begitu terusik mendengar Kinan meragukan kekuasaan nya atas seluruh karyawannya. Memecat 1 orang karyawan? Apa susahnya bagi Harry Sanders. Harry berdiri dari kursi susuknya, lalu mengangkat tangan mempersilahkan Kinan untuk keluar dari tempatnya. “Pak, tolong… saya.. saya benar-benar tidak melakukan apapun dengan laki-laki tadi. Tolong jangan pecat ayah saya. Saya kan membayar semua kerugian mobil anda, tapi tolong biarkan ayah saya tetap bekerja di perusahaan anda. Saya mohon..” Kinan merosot dari tempat duduknya, dia duduk bersimpuh bertumpu pada lututnya dan terus memohon pada Harry. Ntah mengapa, pemandangan ini membuatnya begitu puas. Pemandangan seseorang yang tengah memohon padanya membuat merasa sangat puas telah mengintimidasi seorang gadis dengan semua kekuasaan yang dia miliki. Harry meraih lengan Kinan. “Kalau begitu biarkan aku memastikan sesuatu.” Dia menarik Kinan menuju ruang kerjanya, ada sebuah sofa dengan bahan bludru berwarna biru tua. Harry melepaskan lengan Kinan disana, Kinan merasa tidak kuasa lagi untuk menahan semua perlakuan Harry pada dirinya. Harry berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sesuatu lalu sibuk memasangnya. Kinan menatap kesetiap sudut ruangan dimana dia berada sekarang. Perasaan bingung, kalut dan takut seketika menghinggapi lubuk hatinya, menyirnakan seluruh keberanian yang beberapa menit lalu muncul dalam dirinya. “Aku tidak akan meminta, aku akan memberimu. Setelah aku memastikan sesuatu.” Harry berbalik badan kemudian berjalan mengahmpiri kearah Kinan. ‘Memberi? Memastikan?’ pikiran Kinan sangat bingung dengan hal itu. Bathrobe Harry tersingkap saat dia berjalan. Menampilkan betis yang kencang ditumbuhi bulu kaki khas pria dewasa hingga sebatas paha. Memang hanya itu yang terlihat oleh Kinan. Gadis itu terlihat menelan ludah. Melihat pemandangan yang seharusnya tidak dia lihat. Menanti tentang apa yang akan dilakukan oleh atasan ayahnya itu. Yang seharusnya juga tidak boleh dia lawan atau dia dan keluarganya akan tinggal dijalanan karena ayahnya akan jobless seketika saat dia berkata ‘tidak’ pada laki-laki dihadapannya itu. Harry semakin mendekat. Dia duduk disamping Kinan. “Tutup matamu!” kata-kata bernada perintah itu membuat Kinan seketika menutup matanya. Harry menelanjangi tubuh gadis dihadapannya itu dengan tatapan penuh nafsu. Kinan mengenakan celana berbahan jeans yang sangat ketat dengan perpaduan kemeja coklat s**u yang 2 buah kancing atasnya terbuka. Sedangkan rambut ikal coklatnya dikuncir asal seperti biasa.  ‘Gadis ini, menggoda hasratku.’ Batin Harry. “Kamu masih perawan, Kinan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN