Sarah beranjak dari duduknya setelah pamit undur diri. Baru tiga langkah menuju pintu terdengar panggilan yang membuatnya terpaku.
"Dinda, tunggu!"
Deg,
'Ckk, kenapa dia harus memanggilku dengan nama itu.' Nama panggilan Dinda hanya diberikan Alfian untuk Sarah.
Merasa bukan namanya yang dipanggil, Sarah memilih melangkah lagi menuju pintu keluar.
"Saya minta berhenti disitu, Ra!"
Sarah terpaksa membalikkan badan karena suara dosennya yang menggelegar. Dia tidak enak kalau sampai Pak Pram tahu cara komunikasinya dengan Pak Mahesa kurang baik.
"Bapak memanggil saya?" Sarah meletakkan jari telunjukknya mengarah ke dadanya dengan sikap dibuat setenang mungkin, meski sebenarnya rasa gelenyar aneh itu tiba-tiba menghinggapi tubuhnya.
"Memangnya ada orang selain kamu?"
Sarah memutar matanya jengah.
'Sabar, Ra! Ini di kampus, dia dosenmu bukan mantanmu.' Hati kecilnya menyuruh mengalah.
Alfian berdiri dan melangkah mendekati Sarah yang masih di posisi dekat pintu keluar.
"Mas Alfian mau apa? Jangan macam-macam!"
Gugup jelas mendera Sarah karena sang mantan kian mengikis jarak hingga membuatnya memejamkan mata.
Sedetik dua detik, tak terjadi apa-apa.
"Silakan keluar, jangan lupa tutup pintunya!" Ini ruang ber AC.
"Astaghfirullah. Demi apa coba, dia melakukan ini."
Sarah berlalu dengan wajah yang bisa dipastikan sudah bersemu merah karena malu dikerjai dosennya.
Sementara itu, Alfian di dalam ruangnya tak henti-hentinya mengulas senyum karena berhasil mengerjai mantannya.
Di lorong kampus, Sarah hanya menghentakkan kakinya berkali-kali. Dua hari ini, dia merasa nasibnya kurang beruntung. Pertama dia ceroboh karena sudah tertidur di kamar hotel bersama orang asing dan kali ini dia harus ketemu mantan yang dulu mau melamarnya.
Kala itu,
Sarah bersiap menerima pinangan Alfian yang datang bersama keluarganya dari Jakarta. Alfian saat itu sedang studi pascasarjana di Yogya. Keluarganya tidak menyetujui keduanya pacaran, alhasil lamaran pun diadakan. Sarah sedang bersiap ditemani eyangnya Bu Rita dan Pak Wijaya. Sementara itu, umi Aisyah dan abi Randy sedang membujuk Risma adik perempuan Sarah satu-satunya untuk menghadiri acara. Risma tidak terima kalau Alfian melamar kakaknya, sedangkan dia punya rasa pada laki-laki itu. Risma membujuk umi abinya untuk menjadikan pinangan Alfian untuk dirinya.
Risma yang dipenuhi emosi dan sifat irinya terhadap sang kakak sampai mengeluarkan kata-kata kalau Sarah hanya anak angkat umi abinya. Sarah anak yatim piatu tidak berhak memiliki kebahagiaan melebihi dirinya yang anak kandung. Bagai disambar petir, Sarah dibuat tercengang. Dia tak sengaja mendengar percakapan mereka bertiga dari balik pintu kamar orang tuanya saat ingin memanggil keduanya.
Memilih mundur dari lamaran Alfian, Sarah memutuskan pergi ke Bandung untuk kuliah di kota kembang itu. Dia tidak bisa membenci Risma adiknya. Bagaimanapun Sarah sudah menganggap Risma sebagai adik yang amat disayanginya. Umi Aisyah dan Abi Randy sudah dianggapnya sebagai orang tua kandung meski kenyataan pahit harus diterimanya saat berumur 18 tahun.
Kini, Sarah sudah dua tahun menetap di Bandung. Dia berusaha melupakan sosok yang pernah mengisi hari-harinya saat menjelang kelulusan SMA.
"Sarah kalau melamun jangan di tengah jalan!"
"Astaga, Pak Pram. Maafkan saya, Pak!"
Sarah beringsut ke pinggir untuk memberikan jalan bagi dosen seniornya.
"Bagaimana urusan dengan Pak Ma..."
"Pak Mahesa?"
"Nah, iya."
"Alhamdulillah, sudah beres, Pak. Besok saya ke MTG untuk menerima hasil keputusan magang."
"Baiklah, semoga sukses magangnya ya. Jangan lupa bawa nama baik kampus dan juga dosbingnya!"
"Eh, siap, Pak."
'Duh, bawa nama baik dosbing gimana caranya kalau yang membimbingku Mas Alfi.'
"Ra, kenapa mukanya manyun gitu. Habis kena semprot Pak Pram, ya? Makanya kalau part time kira-kira dong, dah untung Pak Pram perhatian sama mahasiswi teladan kayak kamu. Kalau itu aku, udah ditinggalin sama beliau," cerocos Aldo.
Sahabat Sarah yang satu ini sedang duduk bersama pacarnya Tiana.
"Ishh, cowokmu kok cerewet banget sih, Na?"
Sarah mencebik kesal teringat ulah sang dosen mantan. Dia mendaratkan pantatnya di sisi pinggir gazebo yang sudah diduduki dua sahabatnya.
"Ada apa sih, Ra?" Kali ini Tiana yang bertanya dengan suara lembut. Perasaan Sarah yang tadinya menggebu pun kian surut.
Helaan napas panjangnya terasa melegakan.
"Nggak apa-apa, aman Tiana sayang."
"Ciih, aman apanya. Wajahmu tampak tak baik-baik saja tahu, nggak?"
"Kamu memang nggak pandai berbohong, Ra," ledek Aldo.
"Ckk, kalian ini dibilangin ngeyel. Pak Pram baik hati jelas-jelas tidak memarahiku. Beliau memberi wejangan supaya aku serius PI nya. MTG perusahaan bergengsi, jadi aku harus membawa nama baik kampus dan dosbing."
"Oh...." Tiana dan Aldo kompak dengan ekspresinya.
"Ngomong-ngomong soal dosbing, masih Pak Pram ya?"
Tiana mencoba mengintrogasi Sarah yang sudah memudar senyumnya.
"Eh, kok cemberut? Beliau sibuk ya?"
Sarah mengangguk tetapi tetap diam seribu bahasa.
"Lalu siapa gantinya, Ra?" lanjut Aldo dengan mimik penasaran. Tiana pun menunggunya dengan pandangan tak beralih dari Sarah.
"Dosen baru," ucap Sarah dengan suara lemah.
"Eh, tunggu dulu. Kamu dosbingnya Pak Mahesa?"
Aldo sudah menganga tak percaya sampai tangan Tiana terpaksa menutup mulutnya.
Sementara itu, Sarah justru menyandarkan badannya di pinggiran tiang gazebo sembari memejamkan mata.
"Pak Mahesa siapa, Al?"
Tiana merasa baru mendengar nama itu.
"Dr. Alfian Mahesa, dosen baru yang gantengnya nggak ketulungan. Kemarin masuk kelas penjualan, banyak mahasiswi histeris. Duh, aku kalah telak nih."
"Ish, jangan macam-macam."
Tiana sudah mengancam Aldo dengan bogeman tangan membuat Aldo mengangkat kedua tangannya.
"Ampun, sayang. Kamu kan calon istriku."
"Ra, beneran dosbingmu Pak Mahesa? Asyik dong, gantinya Pak Pram dosen muda dan ganteng." Ucapan Tiana dan Aldo sudah membuat telinga Sarah membengkak.
"Kalian ini, nggak tahu apa. Pak Mahesa itu menyebalkan. Dia sudah bikin aku kesal."
Dua sahabat itu hanya dibuat melongo.
"Kamu sudah ketemu Pak Mahesa, Ra?" tanya Tiana lirih yang diangguki Sarah.
"Lalu?"
"Lalu apa? Barusan tadi habis ketemu Pak Pram trus ngadep, dia ngeselin tahu."
"Kok kamu panggil dia sih, Ra. Panggil beliau gitu, Pak Mahesa dosen kita lho."
"Biarin aja."
"Astaga, Ra. Jangan segitu bencinya kamu sama Pak Mahesa."
"Antara benci dan cinta beda tipis lho, Ra. Hati-hati kamu sama Pak Mahesa, tahu-tahu terpesona!" Peringatan Aldo membuat jantung Sarah berdegup kencang.
"Astaghfirullah, iya-iya. Amit-amit aku sama dosen ngeselin kayak dia." Sarah sudah menepuk jidatnya, sedangkan dua sahabatnya hanya tertawa melihat tingkahnya.
"Kamu sudah lihat Pak Mahesa, Al?"
"Belum."
"Yang mana sih beliau, penasaran tingkat akut, nih," ungkap Tiana.
"Sudah-sudah, jangan sebut namanya di depanku dong. Kepalaku jadi pening."
Tiana dan Aldo heran melihat Sarah yang biasanya cuek dengan laki-laki, kini dibuat pusing oleh dosen barunya.
"Kenapa harus pusing, Ra. Bukannya kamu anti cowok ya kan, Na. Kamu pasti nggak akan tergoda oleh Pak Mahesa. Kecuali...."
Aldo menjeda kalimatnya membuat Sarah menatapnya serius. Sarah menegakkan posisi bersandarnya lalu membenahi kunciran rambutnya.
'Ah, kalian tidak tahu siapa Pak Mahesa di masa laluku,' batin Sarah.
"Kecuali apa, Al?"
"Kecuali Pak Mahesa yang tertarik padamu," seru Aldo.
Uhuk,uhuk.
"Nggak usah tersedak gitu, Ra. Nih, minum dulu!" Tiana sudah memukul Aldo.
Tiana memicingkan mata, dari kejauhan ada laki-laki tampan sedang berjalan menuju gazebo.
"Dinda."
Deg,
"Suara itu," guman Sarah yang seketika berubah tegang. Tiana dan Aldo pun ikut tercengang melihat arah pandangan laki-laki itu menuju ke Sarah.