Telepon dari ayahnya malam itu benar-benar jadi sebuah harapan yang besar untuk Shasha. Setelah sekilas terlintas keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, mendengar sang ayah yang menangis dan memintanya untuk datang betul-betul membuat hati Shasha sedih sekaligus senang. Harapan di hati Shasha tumbuh lagi. Ia jadi kembali merasa punya tempat untuk pulang dan itu bukanlah Bisma, melainkan ayahnya, seseorang yang jauh lebih penting daripada Bisma. Lewat telepon itu, tidak banyak yang mereka bicarakan. Sepasang ayah dan anak tersebut lebih banyak menangis, menumpahkan kesedihan yang selama ini mereka simpan. Terutama Shasha, ia menumpahkan segala kesedihan atas semua rasa bersalahnya terhadap sang ayah. Shasha pun jadi sadar sebanyak apa kesalahan yang telah dibuat olehnya. Bagaimana

