2. Mimpi

1641 Kata
        Menggeleng-gelengkan kepala, ternyata setelah nyaris tujuh belas tahun pun, Agni tetap tidak bisa terbiasa dengan semua ini. Tubuhnya akan merinding jika ada interaksi astral yang ia rasakan. Mendesahkan napas, ia sekarang duduk di bangku penonton dan menyaksikan pertandingan voli sahabatnya yang sebentar lagi akan dimulai.         Ia memang seorang indigo, tetapi tentu Agni lebih memilih untuk merahasiakan semua ini dari teman-temannya. Dan tadi ia melihat sesuatu yang terlalu mengerikan, wujud makhluk astral itu benar-benar membuatnya bergetar. Bahkan, ia tidak memberi tahu hal ini kepada kedua orang tuanya, mereka mengira bahwa Agni tidak lagi dapat menyaksikan hal-hal sedemikian.         Yang terpenting, sekarang Agni bisa mengendalikan diri agar tidak berteriak tiba-tiba atau menangis seperti ia kecil dahulu.         “Kamu baik-baik saja?”         Ah, Agni lupa bahwa di sampingnya masih ada Ingga, pemuda itu kini menatapnya dengan lekat.         “Gue baik, kok. Eh, mereka udah mulai.”         Untung saja, sekarang pemuda itu telah mengalihkan tatapannya ke arah lapangan voli.         Diam-diam menghela napas, Agni lantas menatap Amira yang sedang bertanding. Di papan skor sudah tertera pertambahan angka, ia mengembangkan senyum dan mendoakan agar temannya itu bisa memenangkan pertandingan ini.         “Kamu tidak perlu resah, Agni,” ujar Ingga tanpa menatapnya, perkataan pemuda itu tentu membuat Agni kembali menolehkan kepala.         “Tentu, Amira pasti memenangkannya,” jelas Agni.         Ingga menyunggingkan senyuman, tetapi tidak lagi menjawab pernyataan Agni.         Beberapa jam berlalu, pertandingan pun telah selesai, kemenangan berada di tim Amira, gadis itu telihat bergembira dan menolehkan kepala ke sana dan ke sini, sepertinya tengah mencari-cari keberadaan mereka.         Voli putri telah usai, maka Amira memutuskan untuk membersihkan dirinya dahulu sebelum menuju ke kelas untuk menemui Agni.         Sore hari menjelang, seperti permintaan orang tua Agni, ia pun membawa kedua temannya menuju rumah untuk makan malam bersama. Mereka menaiki taksi online, dan kemudian tiba lah di rumah keluarga Agni. Di teras rumah, terlihat Sri yang sudah menunggu kepulangan mereka karena telah mendapatkan kabar darinya.         “Ma, kami datang.”         “Selamat sore, Tante. Apa kabar?”         Mereka menyalami wanita paruh baya itu.         “Sore, kabar Tante baik. Ah, ayo masuk, sudah lama kalian tidak main ke rumah kami.”         Membawa mereka ke meja makan, Amira melebarkan bola matanya karena melihat hidangan yang telah tersaji di atas meja. Ia pun lantas mengomentari karena wanita itu terlihat semangat mempersiapkan semua ini.         “Omong-omong, kalau boleh tahu. Semua ini dalam rangka apa, Tante?” tanya Ingga, memiringkan wajahnya dengan raut wajah cenderung polos yang membuat Agni maupun Amira lantas memutar bola mata bosan.         Tentu saja, ini adalah keahlian Ingga untuk membuat lawan bicaranya luluh karena wajah tampan dan juga kepolosan yang tergambar di raut muka.         “Hanya untuk syukuran saja, tidak ada salahnya kan mengundang kalian makan?”         “Ya, hitung-hitung memberi sedekah sama lo pada.” Agni lantas tertawa sambil memengangi mulutnya.         “Agni, tidak sopan seperti itu, anak ini.”         Setelah mendapatkan teguran dari ibunya, gadis itu hanya bisa menggaruk kepala, dan menyuruh teman-temannya untuk duduk.         Hari menjelang malam, mereka lantas menyantap hidangan yang telah disajikan, suka cita begitu terasa, walau ayah Agni masih bekerja dan akan pulang larut malam nanti. Tidak mengapa, sebab bagi gadis itu bersama orang yang berada di meja makan saja rasanya sudah begitu luar biasa.         Pukul sembilan belas lewat tiga puluh menit, teman-temannya pun memohon pamit. Tentu saja Sri juga mengiyakan, sebab sudah agak malam bagi pelajar dan khawatir orang tua sahabat anaknya ini akan mencari mereka.         Setelah bersalaman, Sri dan Agni yang berdiri di depan teras untuk mengantar pun melambaikan tangan.         “Hati-hati, ya.”         “Iya, terima kasih sekali, Tante.”         “Sampai jumpa di sekolah, Agni. Tante, kami pamit.”         Angin berembus, suasana menjadi lebih sunyi sekarang, Agni dan ibunya pun memutuskan untuk masuk. Gadis itu memandangi sang mama yang tengah melangkah lebih cepat dan tengah membereskan meja. Mendekati, Agni pun membantu ibunya.         Malam yang larut, membuat Agni memutuskan untuk menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Besok adalah hari ketiga pekan olahraga, jadi ia memutuskan untuk tidak belajar. Memejamkan mata karena rasa kantuk yang datang, Agni lantas tersentak dan mengusap-usap matanya agak kasar. Ia tidak ingin tidur untuk saat ini, berusaha untuk terjaga walau matanya mulai lelah dan berat.         Agni ingat, ia mulai membenci saat di mana matanya mulai terpejam, ketika ia terlelap. Namun, manusia tidaklah bisa lepas dari rasa lelah, walau terpaksa, pasti kelopaknya akan tertutup dan membawanya ke dunia abstrak bernama mimpi. Agni sungguh tersiksa semenjak usianya beranjak tujuh belas tahun, sebab semua mimpi indahnya sudah tak bersisa. Dan semakin hari, semakin menjadi.         Semua pada awalnya terasa sangat kabur, bahkan di suatu waktu, Agni tak bisa mengingat mimpinya. Namun, semakin lama—meski samar, ia semakin mengingatnya. Di dalam kabut nan gelap, di dalam hutan ia berlari, dan keesokan harinya di malam yang lain, ia memakai baju pengantin putih dan berdiri di altar bersama sosok seseorang yang menyerupai asap hitam nan pekat.         Lain waktunya lagi, ia berada di sebuah kondisi di mana mereka tengah berdansa. Hal yang paling Agni ingat dari mimpi yang terus berdatangan adalah sosok serbahitam, berambut panjang dengan wajah tak jelas karena ditutupi kabut hitam, tetapi matanya seindah batu rubi dan bersinar merah. Seolah ketika menatapnya, Agni pun terpaku karena begitu memikat.         Mereka mengikuti alunan musik, tubuh sosok serbahitam teramat dingin ketika jari-jari mereka saling menggenggam, dengan kuku runcing hitam menghiasi. Dia mengatakan sesuatu, mencoba lebih dekat dengan memajukan kepala, beberapa saat setelahnya Agni pun diberikan ciuman. Disesab perlahan, kemudian panas dan membara, seolah  semua yang terjadi bukanlah mimpi belaka. Bibir laki-laki itu bergerak mengucapkan kata, berbisik di telinganya.         “Pengantinku, yang selalu kutunggu.”         “HAH!”         Agni tersentak, ia terengah dan menatap ke arah samping kanan dan kiri, lampu di kamar masih menyala, itu berarti ia tadi telah tertidur tanpa sadar. Baru beberapa menit, ia telah dibawa ke dunia mengerikan itu lagi. Agni mendecak, memijat pelipisnya.         “Mimpi-mimpi ini, semakin jelas saja rasanya,” bisik sang gadis, kemudian ia berdiri dan memutuskan untuk ke kamar mandi, membasuh wajah dan menatap pantulan dirinya di cermin.         “Beberapa hari lagi adalah ulang tahun gue yang ketujuh belas, entah kenapa jadi takut mimpi itu akan semakin terasa nyata.” Mendesahkan napas, Agni memutuskan untuk kembali ke tempat tidur. ***         Kantung mata terlihat jelas setelah Agni memutuskan untuk tidak tidur selama semalaman, hal ini lantas menjadi pusat perhatian bagi dua orang temannya, apalagi sekarang ia ditatap intens oleh Ingga, lelaki itu mengerutkan alis dan telihat seperti akan mengomentari sesuatu.         Namun, Agni memutuskan untuk terus berjalan menuju kelas, hari ini ia tidak ingin mendengarkan komentar pemuda yang sering kali berbicara terus terang tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya.         “Wah, kalian sudah datang pagi sekali?”         Amira melangkah menuju dua orang yang sedang saling acuh tak acuh, duduk di samping Agni, sekarang sang gadis berusaha untuk mengusir lelaki yang selalu mengekori ke manapun temannya ini pergi.         “Ingga, sana lo balik ke habitat. Pagi-pagi buat rusak pemandangan.”         “Tidak perlu pedulikan aku, Amira.” Pemuda itu tidak menolehkan pandangannya dari Agni, sebenarnya hal ini sudah dianggap wajar bagi teman sekelas mereka. “Lagi pula, kenapa tidak memedulikan Revandi dan kekasih barunya?” tanya Ingga, sekarang ia menatap Amira, ekpresi wajahnya datar.         “A-apa?”         Gadis itu tergagap, dan lantas menolehkan kepalanya menatap Revandi yang duduk di sudut ruangan paling belakang di wilayah anak laki-laki.         Siapa gadis yang bersama Revandi? Dia bukan dari kelas kami?         Mata tajam dan dingin Ingga menatap Amira yang masih terlihat syok karena pemuda pujaannya baru saja mendapatkan pacar, ketika ia kembali mengalihkan fokus kepada Agni, ia telah dihadiahi pelototan. Mengangkat alis, Ingga lantas melebarkan senyumannya. Seperti menjelaskan bahwa ini semua bukanlah kesalahannya, sebab dari awal Amira memang cenderung pasif jika berhadapan dengan Revandi.         “Kamu terlihat tidak baik-baik saja, Agni,” komentar Ingga akhirnya disuarakan karena melihat wajah Agni yang memang pucat dan cenderung kelelahan karena memutuskan tidak tidur semalaman.         “Lo yang gak baik-baik aja, jangan berulah lagi, Ga.” Gadis itu kini membelai bahu Amira, dan membawanya untuk duduk. “Amira,” ujar Agni, suaranya lirih karena mengerti temannya ini tengah patah hati.         “Gue gak apa, kok.” Amira berdiri, kemudian kembali berbicara, “maaf, gue ke toilet sebentar, ya.” Lengan gadis itu ditahan oleh Agni. “Gue cuma mau sendiri, gak apa, Agni. Makasih, ya.”         Tatapan mata Agni mengikuti Amira yang berlalu dengan tubuh yang lesu, langkah gadis itu terlihat begitu lambat. Setelah punggung itu menghilang di balik tembok, Agni lantas mengeluarkan desah napasnya dan kembali menatap tajam Ingga.         “Apa?”         “Malas gue lihat lo,” aku Agni.         Sebenarnya, ini juga bukan kesalahan Ingga seratus persen, lambat laun pasti nantinya Amira akan mengetahui bahwa Revandi telah kembali memiliki kekasih, hanya saja menurutnya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membocorkan semua ini. Namun, semua sudah menjadi bubur, dan tidak ada yang perlu disesali atau disalahkan, toh sejak awal Revandi bukanlah tipe yang mudah bergaul dengan mereka, paling hanya Ingga yang lumayan dekat dengan pemuda yang merupakan kapten basket tersebut.         “Sudahlah, prihal Revandi, seharunya sejak awal diberitahu, bukan? Amira tidak akan berharap berlebihan lagi. Ini juga demi dirinya.” Ingga menjelaskan, membuat Agni terdiam dan hanya bisa menghela napasnya.         “Ya, hanya saja….”         “Nah, sekarang… bagaimana denganmu? Sepertinya kamu tidak tidur semalaman? Apakah kamu ada masalah?”         Gadis itu mengerutkan alis, kedua tangannya yang berada di atas meja saling bertautan, ia berpikir apakah harus menceritakan hal ini atau tidak. Namun, sepertinya ia memang memerlukan seseorang untuk mendengarkannya. Ia tidak bisa memberitahu orang tuanya, sebab pasti mereka akan khawatir, begitu pula dengan Amira, gadis itu masih bersedih. Apakah ia harus menceritakan sedikit masalah ini kepada Ingga? Lelaki itu sudah mejadi temannya selama di SMA, mengekorinya ke mana pun hingga gosip menyebar di penjuru kelas, apalagi Ingga sebenarnya memang cukup baik. Mungkin, kekuarangan lelaki itu hanyalah ucapan yang cenderung terang-terangan.         “Gue… emm… gue mimpi aneh belakangan ini,” ujar Agni dengan suara mirip bisikan. . . . Bersambung  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN