Sari menangkup kedua telapak tangan dan menempatkannya di depan d**a, kedua matanya tertutup dan bibirnya mulai komat-kamit. Suasana ruangan semakin mencekam saat angin kencang masuk begitu saja ke dalam ruangan.
Api lilin meliuk-liuk tertiup angin, tapi tidak membuatnya padam, seperti api itu adalah api abadi. Raniah perlahan tersadar dari pingsannya saat merasakan hembusan angin yang begitu besar menerpa tubuhnya.
Perlahan kedua matanya membuka, kepalanya yang masih berat ia paksakan menegak, pandangannya melihat keadaan ruangan yang sangat menyeramkan, ditamah angin yang kencang menyapu dedaunan kering di atas lantai.
"Di mana ini? Ah!" Raniah merasakan tangannya diikat ke kursi. "Lepaskan aku!" teriaknya.
"Hahaha!" Suara tawa memekakkan telinga, hingga atensi Raniah tertuju pada suara tawa Sari yang menatapnya nyalang.
"I-ibu Sari, kenapa aku di sini, lepaskan aku!" teriak Raniah seraya menggerakkan kedua tangannya berusaha membuka tali ikatannya.
Keringat dingin mulai membasahi wajah Raniah, padahal angin berhembus sangat dingin, suara tawa Sari terus bergema menambah mencekamnya suasana ruangan itu.
Raniah mulai menangis dan berteriak meminta tolong, memanggil Setya dan Danu Adji. "Kakak Setya, Ayah Danu, tolong!" Raniah masih berusaha, dia semakin takut saat memperhatikan ke sekelilingnya.
Dirinya dikelilingi sinar lilin warna merah yang menambah ketakutan di dalam diri Raniah, saat ini suara gemuruh terdengar, suara tawa Sari semakin kencang memekakkan telinga.
Sosok-sosok makhluk hitam besar bermunculan, tidak hanya satu tapi ada lima makhluk berbadan besar dan berbulu kasar kini mengelilingi Raniah yang terikat. "Aaaahhh!" Raniah berteriak histeris saat melihat makhluk-makhluk menyeramkan yang mengelilingi dirinya.
Jantungnya berdebar kuat, air mata membasahi wajahnya, keringat mengucur hingga membuat leher dan dadanya mengkilap. "Kalian lihat gadis cantik itu! Dia adalah pengantin kalian, nikmati malam ini bersamanya, dan aku akan menonton adegan ini dengan tenang. Setelahnya putri keturunan Irma akan mati kubunuh!" ucap Sari, sangat keji.
Raniah benar-benar merasa pusing, tekananan di dalam dirinya sangat berat, gadis itu merasa putus asa, wajah-wajah menyeramkan di hadapannya sangat terlihat kelaparan dan memberi seringaian buas.
Raniah hanya bisa menutup matanya rapat, memohon di dalam hati semoga yang maha kuasa menunjukkan keagunganNya.
Di saat seperti ini dia begitu merindukan ayah dan ibunya, Raniah dengan segala kepasarahan. "Ibu, ayah, tolong Raniah," lirihnya dalam hati.
Tangan-tangan kasar nan berbulu kasar itu mulai mengoyak pakaian yang Raniah kenakan.
Srak! Srak! Srak!
Dalam sekejap gaun putih yang membalut tubuh gadis itu tak berbentuk lagi, Raniah tak berdaya mempertahankan tubuhnya agar tidak terjamah makhluk terkutuk itu.
Tangisnya luruh dengan mata terpejam saat makhluk-makhluk itu menyentuh kulit kakinya yang halus. "Kak Setya, tolong aku ... Kak!" jeritnya dalam hati.
"Ibu, ayah ... tolong Raniah, ibu ...." Itu semua hanya mampu Raniah ucapakan di dalam hati, yang keluar dari bibirnya hanya isak tangisan yang pilu.
"Haha!" tawa Sari begitu sangat puas, melihat putri dari musuhnya disiksa raga dan batinnya.
"Aaaa! Jangan, aku mohon!" Raniah menjerit histeris saat tangan-tangan besar berbulu kasar itu melebarkan kedua kakinya, wajah mereka menyeringai dengan air liur menetes-netes, sangat menakutkan dan menjijikan.
Sari terus tertawa melihat Raniah yang bergerak gelisah, kepalanya menggeleng kuat.
"Aaargh!"
"Aaargh!"
Suara erangan-erangan keluar dari mulut makhluk-makhluk itu menandakan nafsu yang memuncak, apalagi saat melihat tubuh Raniah yang setengah telanjang saat ini.
Raniah menangis sejadi-jadinya, menjerit sekencang yang dia bisa, Sari mengiringinya dengan tawa dicampur erangan para makhluk itu yang menambah mencekamnya malam yang penuh kekejian.
Di luar sana, mobil Setya tiba, laki-laki itu keluar dari dalam mobil bersama Danu Adji. "Ayo, Ayah! Raniah pasti ada dalam bahaya!"
Setya berlari sekencang sebisa yang dia bisa, masuk ke dalam gedung tua dan mencari, laki-laki itu menaiki anak tangga. Galuh dan Andre yang sedang tertawa pun mendengar suara langkah kaki, mereka berdua segera bersembunyi.
"Kakak kenapa bisa Setya dan ayahnya tahu tempat ini?" bisik Galuh pada Andre.
"Aku tidak tahu, Galuh. Sudah diamlah, kita harus pergi dari sini sebelum dia tahu," ucap Andre.
"Tapi, ibu?" Galuh mengkhawatirkan Sari yang ada di dalam ruangan.
"Sudahlah, lupakan saja ibu, dia pasti bisa menyelamatkan diri."
***
Saat ini Setya dan Danu Adji sudah ada di depan pintu itu. "DYL, apa Raniah di dalam ruangan ini?" batin Setya.
"Iya, Setya, cepatlah istrimu sedang ada dalam bahaya!" DYL memperingati.
"Setya, apa Raniah ada di sini? Cepat dobrak!" Danu Adji benar-benar merasa cemas.
Dengan sekuat tenaga Setya mendobrak pintu itu, tapi seperti ada kekuatan yang menahan pintu hingga sulit sekali dihancurkan padahal pintu kayu itu sudah lapuk, tapi seperti terbuat dari baja saja..
"Ayah, pintu ini sangat kuat, kita harus lakukan sesuatu!" Setya semakin panik.
"Maafkan aku, Setya. Kekuatanku juga tidak bisa menembus pintu ini, pintu ini sudah dilapisi kekuatan hitam yang sangat kuat," ucap DYL yang juga begitu panik.
Setya menyugar rambutnya frustasi, merasa bodoh karena bisa-bisanya dia membiarkan Raniah pergi sendiri, dan beruntungnya DYL memberitahu kalau Raniah tidak ada di mana pun.
Setya langsung meninggalkan pesta bersama Danu, dan menyuruh DYL melacak keberadaan Raniah, saat ini setelah ketemu, dia malah kesulitan menyelamatkan istrinya.
"Setya bantu ayah, kerahkan semua ilmu kebatinanmu, ini akan cukup menguras energi." Danu Adji berkata seraya terus menghitung biji manik tasbihnya.
Setya Adji mengangguk dan berdiri sejajar dengan Danu Adji, mereka mulai memejamkan kedua mata mereka. Mengangkat kedua tangan, dengan mulut melafadz satu kalimat doa, setelahnya menghentakkan kedua tangan ke bawah dan menariknya kembali ke atas, lalu menghentak kuat ke depan.
Saat itu cahaya putih keluar dari telapak tangan keduanya menghancurkan pintu kayu yang sesungguhnya sudah rapuh. Sari yang di dalam ruangan terkejut seketika menghentikan tawanya, Danu dan Setya masuk, di saat itu juga Andre dan Galuh kabur.
"Biadab kamu, Sari!" Danu Adji berteriak saat melihat keadaan Raniah yang mengenaskan.
"Astagfirullah, Raniah!" Setya segera berlari ke arah tubuh Raniah yang tak sadarkan diri.
Keadaan istrinya sangat menyedihkan, Setya sangat geram pada wanita paruh baya yang kini tengah menghadapi ayahnya.
"Haha, kurang ajar kamu Danu Adji, tidak dulu tidak sekarang, kerjaanmu hanya menggagalkan pekerjaanku saja!" Sari begitu sangat kesal, bahwasanya makhluk yang dia panggil sebentar lagi akan mengoyak habis tubuh Raniah, tapi sialnya musuhnya yang satu ini kembali menggagalkannya seperti dulu.
"Dendammu sudah membutakan matamu, Sari. Gadis itu tidak salah apa-apa terhadapmu, kenapa kamu melakukan hal keji padanya!" Danu Adji begitu sangat marah, tangannya mengepal ingn meremukkan tulang-tulang wanita di hadapannya.
"Jangan banyak bicara kamu, Danu. Sekarang juga kita selesaikan urusan kita yang belum tuntas! Hiaa." Sari terbang, melayang memburu Danu.
Danu Adji bersiap dengan posisi kuda-kuda dan satu tangannya menghentak ke atas menerima cahaya hijau dari tangan Sari. Wanita itu memutar pergelangan tangannya dan menghentak untuk menambah energi. Danu Adji tampak mengatupkan bibirnya rapat, laki-laki tua itu tidak menyangka kekuatan ilmu hitam milik Sari cukup tinggi.
Setya membiarkan Raniah lebih dulu setelah melepaskan ikatan tali yang menjerat istrinya dan melepas jasnya untuk menutupi tubuh hampir telanjang sang istri, lelaki itu berlari ke arah ayahnya yang hampir kewalahan. Setya Adji melompat dan menendang tubuh Sari yang ada di udara, seketika tubuh wanita tua itu terpelanting dan membentur tembok.
Keluar darah dari mulutnya, wanita itu terbatuk dan kembali menyemburkan darah. Setya Adji menghampiri ayahnya yang juga terluka dalam, darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Setya Adji merasa cemas dan menyuruh ayahnya untuk mundur. "Ayah, biarkan dia menjadi lawanku, wanita itu sudah berlaku keji pada istriku." Setya Adji menatap nyalang pada wanita dukun ilmu hitam itu, kedua telapak tangannya mengepal dan siap memberi pelajaran berharga.
Sari yang merasa terancam akhirnya berusaha kabur, wanita paruh baya itu berlari keluar ruangan dengan kaki tertatih. "Sari, jangan kabur!" Setya bersiap akan berlari mengejar, tapi Danu Adji mencegahnya.
"Tolong dulu istrimu, kasihan dia." Danu Adji menoleh pada Raniah yang mengenaskan, laki-laki tua itu sampai harus memejamkan kedua matanya karena merasa tidak tega dengan keadaannya.
Setya Adji segera berlari menghampiri istrinya, dan menggendong tubuhnya keluar dari gedung kosong penuh petaka itu.