*** Kanara menatap bayangan dirinya yang terpantul di dalam cermin. Ia menghela napasnya dengan berat. Bibirnya boleh saja berpoles lipstik demi menyamarkan betapa pucat dirinya. Wajahnya pun bisa dia tutupi dengan tumpukan bedak. Namun lemahnya tenaganya tak bisa ia tutupi. Dengan jelas dapat Kanara rasakan betapa ia mudah sekali merasa lelah akhir-akhir ini. Jantungnya terasa tidak normal apa lagi setelah menyaksikan kejadian pagi ini. Kanara kecewa, ya tentu saja namun setelah berpikir ulang bukankah lebih baik jika pada akhirnya Zafi menaruh rasa pada Namira. Dengan begitu Kanara tidak perlu merasa khawatir lagi pada kekasihnya itu. "Apa yang kamu lakukan?" pertanyaan yang datang secara mendadak itu membuat Kanara menolehkan kepalanya. Zafi berdiri tepat di belakangnya sambil meny

