Karma

1049 Kata
“Tuhan, kalau memang kehadiran-Mu nyata ... buktikanlah. Aku mohon, aku mohon, aku mohon, selamatkan Aulia,” cicit Ralia. Walau sudah sedalam yang ia mampu, sudah sekuat mungkin menahan, tetapi nyatanya sekujur tubuh Ralia gemetaran. Ingin rasanya ia berlari pergi ketika suara tangis sang ibu yang berdiri sembari menatap ke jendela ruang instalasi darurat menggema jelas, memenuhi ruang tunggu. Ralia tidak pernah membenci rumah sakit sebelumnya, tetapi kali ini, ia sungguh-sungguh benci berada di tempat ini. Sang ayah—Arif yang juga duduk dengan berjarak tiga kursi dari tempat Ralia berada pun coba memanjatkan doa sebanyak yang ia hafalkan. Penyesalan yang lebih besar dari sebuah gunung, menghantam dadanya. Mengimpit paru-paru hingga Arif seakan lupa bagaimana caranya bisa bernapas. Arif menyesali semuanya, termasuk nasib yang membuat ia harus berpisah dengan ibu Ralia. Arif berpikir, kalau saja ia tidak menyerahkan Aulia pada sang mantan istri, mungkin saja Aulia baik-baik saja bersamanya di Surabaya. Ralia meremas-remas tangannya sendiri. Rasa dingin yang sedari tadi berkubang di telapak kaki, merambat naik melewati punggung. Sontak Ralia mengangkat dagu dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya berdiri di sebelah Marini. Ralia ingin menjerit, tetapi yang bisa ia lakukan hanyalah menatap dengan matanya yang telah berlinang air mata. Bola mata Ralia bergerak-gerak. Bibirnya masih terkatup rapat-rapat. Apa yang dilihatnya ... entah nyata atau wujud dari ketakutannya sendiri. Ralia melihat seorang gadis yang serupa dengan wajahnya, gadis yang seharusnya sedang berjuang untuk kembali hidup di dalam ruang ICU. Gadis yang katanya ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Gadis yang berdiri di samping Marini dengan mata sendu menatap Marini. Gadis itu berwujud padat. Nyata ada di hadapan Ralia. Semilir angin seakan membantu Ralia untuk bisa berdiri tegak. Ia ... berniat menghampiri 'sesuatu' yang berdiri tepat di samping Marini. Sosok yang sama persis seperti dirinya, sosok itu ... berwajah pusat, bertelanjang kaki dan diyakini Ralia sebagai Aulia. Aulia yang seharusnya sedang kritis di dalam ruang ICU. Namun, baru selangkah ia menggerakkan kaki, tiba-tiba sosok itu menoleh. Mata mereka bertemu, Ralia tidak pernah melihat kesedihan yang nyata tergambar dalam wajah gadis itu. Jantung Ralia yang sedari tadi sudah berdegup kencang mendadak berhenti dalam satu hitungan dan semua cahaya direnggut paksa darinya. *** Apa yang kamu suka? Ralia, ini, ambil permen aku. Perlahan Ralia membuka mata. Plafon putih pucat menjadi hal pertama yang dilihatnya. Ia kembali memejamkan mata kemudian menoleh ke sebelah kiri. Meski agak terkejut karena melihat tangannya telah dipasangi alat infus, Ralia yang masih lemas tidak bisa banyak bergerak coba kembali mengangkat kepala, tetapi rasa pening menghantam lebih dahulu. “Lia? Kamu dengar ayah? Lia?” Ralia kembali menoleh ke arah lain. Kini Arif yang ternyata menggenggam erat tangan kanan Ralia mulai menitikkan air mata. “Ayah,” cicit Ralia. “Ya, Allah. Alhamdulillah, kamu akhirnya bangun. Maaf, Ralia, maaf, maafkan ayah,” sesal Arif. “Ayah.” Arif sudah berusaha keras menghentikan tangisnya, tetapi semua ketakutan ... pemikiran kalau mungkin ia kehilangan Ralia, melesak, menghantam d**a. Ia tidak sanggup membayangkan hal itu. “Maaf, seharusnya, seharusnya ayah ingat kamu. Seharusnya ayah ingat kalau selama dua hari ini kamu tidak tidur dengan lelap, kamu tidak makan dengan lahap dan kamu juga tertekan karena mencemaskan Aulia,” sesalnya lagi. Ralia ingin sekali mendekap erat Arif, tetapi seluruh bagian tubuhnya seakan mengkhianati. Kepalanya masih terasa pening dan rasa panas semakin nyata menjalar di ulu hati. “Ayah.” Arif mendongak, cepat-cepat ia menyeka air mata lalu menatap Ralia. Arif mengerti akan maksud dari sorot mata Ralia. Anak gadisnya itu meminta penjelasan. “Lia, tadi kamu pingsan. Dokter bilang tekanan darah kamu rendah dan kamu dehidrasi. Asam lambung kamu naik,” ungkapnya. Ralia berusaha keras mencerna apa yang baru saja terjadi. Seingatnya, ia melihat Aulia yang berwajah seputih kertas berdiri di samping Marini lalu ia tidak ingat apa-apa lagi. “Ayah, Aulia, dia—“ “Sayang, kamu tenang dulu. Aulia baik-baik saja.” “Ayah bohong,” sembur Ralia, “semua enggak baik-baik aja! Aulia jelas enggak baik-baik aja! Aku masih ingat dokter ngomong apa sama Ayah, aku bukan anak kecil lagi, aku tahu kalau Aulia sekarat, aku tahu mungkin kalau enggak dibantu peralatan medis, Aulia, Aulia sudah enggak ada. Kemarin, aku lihat arwah Aulia berdiri di samping mama. Aku lihat Aulia berdiri lihat mama, Ayah!” raih Ralia. “Lia ....” Arif kehilangan kata-kata. Semua racauan Ralia bisa ia dengar dengan sangat baik, termasuk masalah Ralia melihat Aulia atau apa pun itu. “Ayah bohong! Aku enggak akan percaya lagi sama Ayah! Ayah selalu bilang kalau semua baik-baik aja, semua baik-baik aja, tapi kenyataannya enggak pernah begitu! Sejak mama pergi ...” Ralia menyusut air mata dengan punggung tangannya kemudian menatap Arif dengan lebih tegas. “Sejak Aulia juga pergi, aku tahu semua enggak akan pernah bisa baik-baik saja! Ayah bohong sama aku!” lanjutnya dengan amarah yang selama ini terpendam sekian lama, meletup dalam satu hitungan. “Lia, ayah minta maaf sama kamu.” “Kenapa? Kenapa Ayah harus minta maaf sama aku?” Arif menunduk semakin dalam. “Jawab Ayah! Kenapa Ayah harus minta maaf sama aku? Aulia kenapa?” “Ayah, ayah minta maaf karena selama ini selalu berusaha keras menyembunyikan apa yang terjadi dari kamu, tanpa ayah pernah sadar kalau kamu sudah semakin dewasa, kamu sudah punya cara pandang sendiri dalam menjalani hidup. Ayah ... berpikir, bagaimana caranya supaya kamu enggak benci sama mama dan—“ “Ini semua emang salah mama!” potong Ralia. Arif dengan cepat menatap Ralia. “Lia, kamu enggak boleh begitu.” “Kenapa? Kenapa aku enggak boleh begitu? Ini semua salah mama! Aku tahu Aulia begini karena mama! Kalau aja mama tetap di samping Ayah! Kalau aja Aulia tetap tinggal di Surabaya, semua ini enggak akan terjadi!” “Lia. Semua berhak bahagia. Ayah enggak bisa tahan mama kamu untuk pergi kalau memang dia enggak merasa bahagia tinggal bersama ayah.” Ralia menggeleng. “ Mama egois, dia egois!” Marini yang sudah menggenggam palka pintu, berusaha keras untuk tetap bisa berdiri walau air mata merebak di seluruh wajahnya. Apa yang dikatakan Ralia memang benar adanya. Ia egois, yang harus disalahkan dalam peristiwa ini adalah dirinya. Seharusnya memang Marini tidak meminta Arif untuk memberikan salah satu dari putri kembar mereka. Seharusnya, Marini sadar waktu itu lebih baik ia melarikan diri sendirian saja dan kini Aulia yang menderita. Aulia yang mendapat karma dari perbuatannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN