Melayani

1007 Kata
Datanglah ke apartemen ku. Sebuah pesan datang dari Sei. Neira menyambut pesan itu dengan senang hati. Hubungan terlarang yang ia jalani menjadi begitu menyenangkan dan mendebarkan. Apalagi Sei pria yang sangat tampan. "Nona, tuan Sei menyuruh anda segera datang," ucap Johan yang merupakan tangan kanan Sei. Pria itu sepertinya menerima pesan dari Sei untuk mengingatkan nya. "Baik, tapi aku akan pamit pada Mr Jo," jawab Neira. Dia tidak mungkin membiarkan pria itu tersinggung dengan pergi begitu saja. "Silakan." Tidak ingin membuang waktu percuma, Neira mendekat pada Mr Jo. Dia berbincang sejenak agar Mr Jo mengerti. Beruntung pria itu tidak mempersulit dirinya. Johan menemani Neira keluar studio, akan tetapi mereka dicegah oleh Seina, Riris dan Yura. Ketiga gadis itu nampak tidak terima dengan fakta kalau ditendang dari agensi. "Dasar tidak tahu diri! Kamu pasti menjual tubuhmu pada p****************g," maki Siena. Orang-orang yang berada di sana segera melirik ke arah Siena dan Neira. Mempermalukan dirinya di depan orang banyak memang menjadi tujuan Siena. Dan disadari benar oleh Neira. Keributan yang dibuat oleh gadis itu bisa membuatnya dalam masalah. Neira tahu kalau tidak boleh diam. Dunia hiburan sangat menyukai gosip seperti ini. "Jangan bicara sembarangan. Aku dipilih debut karena suaraku jauh lebih bagus dari mu. Tarian ku juga lebih baik darimu," debat Neira. "Kalau kamu masih penasaran kita bisa battle sehingga kamu tidak lagi bicara omong kosong." Seina, Riris dan Yura terdiam. Mereka jelas takut kalau harus duel dengan Neira. Tidak ada satupun yang bisa menandingi suara Neira dan keahlian gadis itu dalam menari. "Aku tahu kalian takut jadi lebih baik jangan menyebar gosip yang tidak berguna." Johan menyukai cara Neira membungkam gadis yang iri padanya. Tindakan gadis itu membuatnya tidak perlu bekerja untuk menyelesaikan masalah jika sampai Seina menyebar gosip. Jadi ia akan memberi pelajaran pada gadis yang mencari gara- gara itu. "Apa kamu meragukan kredibilitas kami sebagai agensi?" tanya Johan. "Dengan tindakanmu ini, kamu mengubur langkah mu menjadi artis. Aku pastikan tidak akan ada yang akan menerima mu di agensinya." Seina memucat karena tidak sadar sudah menyinggung manager studio rekaman ini. "Ti- tidak... Tolong maafkan aku." Akan tetapi Johan tidak menggrubis Seina. Dia mengajak Neira menuju mobil yang sudah menunggu di depan lobi. Neira tahu ke mana mobil ini akan pergi, dia hanya berharap agar tidak ada Paparazzi mengintai ataupun menyadari kalau mobil ini adalah merk Johan. Seorang tangan kanan dari Sei. "Silakan, kita sudah sampai Nona," ucap Johan. Setelah itu ia memberi card untuk bisa masuk ke penthouse Sei. Neira mengangguk antar senyum. Sebelum ia masuk ke lift yang berada di basement untuk menuju ke lantai apartemen berada --- dia menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu kalau Sei pasti menginginkan sesuatu dari dirinya. Neira melangkah kakinya di pintu masuk apartemen. Dia seolah memasuki dunia lain yang belum pernah tersentuh olehnya sejak kecil. Kemewahan yang memanjakan mata, fasilitas dan segala hal di sini begitu indah. Neira seakan jatuh cinta dengan kesempurnaan penthouse ini. "Oh kamu sudah datang," ucap Sei. Jika tadi mata Neira dimanjakan dengan keelokan penthouse sekarang matanya diberi pemandangan yang luar biasa dari sosok di depannya. Sei yang memakai kimono santai memperlihatkan bagian depan tubuhnya yang bidang, berlapis bisep yang luar biasa. Neira tidak menyangka kalau tubuh seindah itu yang sudah bergerak di atas tubuhnya tadi malam. "Aku pasti akan memenuhi kesepakatan kita," ucap Neira. "Stripless," desis Sei. Dia yang duduk di sofa sangat elegan dan anggun. Kepercayaan diri Sei seolah mampu mengendalikan apapun yang ada di sekitarnya menjadi daya tarik tersendiri pada pria itu. Neira bahkan tahu jika ia juga menjadi salah satu yang terkena efek kharisma Sei. Satu persatu Neira melepas apa yang melekat di tubuhnya. Dia harus menahan malu kala mata Sei memindainya dengan rakus. "Bagus Neir, kemarilah," panggil Sei. Neira merasa jantungnya berdetak kencang saat langkah kakinya melangkah maju. Iramanya semakin kencang begitu ia tiba tepat di depan Sei. "Good Girls," bisik Sei puas. Dia suka peliharaannya menuruti apapun yang ia inginkan. Fantasi gelap yang selalu ia inginkan untuk di praktekkan pada Sally akhirnya bisa ia wujudkan pada gadis lain. Bagaimana tidak, ia tidak bisa melakukan keinginannya pada Sally yang sakit sakitan. Jadi ia hanya bisa melakukannya pada gadis lain. Kulit Neira serasa disengat saat jari tangan Sei mulai menyentuh kulitnya. Dia tidak bisa mengatakan apakah menyukai sentuhan itu apa tidak. Neira merasakan hatinya terbagi dua, sebab dia membenci sentuhan Sei karena pria itu milik wanita lain, tapi di sisi lain Neira merasa kecanduan dengan keahlian jari- jari Sei yang membuatnya melayang. "Sir..." Neira menggigit bibirnya agar ia tidak mengeluarkan desahan sehingga terdengar desahan. Dia menahan diri agar tidak terhanyut begitu mudah hanya karena jari-jari Sei. Sayangnya ia gagal karena Sei juga menggunakan lidahnya untuk menyentuh area sensitifnya. "Kamu sudah sangat basah, sekarang lakukan tugasmu." Melakukan hal ini untuk pertama kali membuat Neira merasa tegang. Akan tetapi ia harus melakukannya karena sudah mempelajari lewat internet. Ternyata memang sangat mudah dan efeknya begitu besar pada Sei. " Bagus, teruskan..." erang Sei. Bagi Neira pujian Sei menjadi stimulator sendiri hingga ia berusaha melakukan sebaik mungkin. Hanya ini lah yang bisa ia lakukan untuk menjadi terkena. Meski bayangan tunangan Sei menghantui, tapi ia berpikir jika hubungannya dengan Sei hanyalah transaksi tubuh. Bukan percintaan yang bertujuan merebut pria ini. Neira sadar diri jika dirinya sama sekali tidak selevel dengan Sei dan Sally. *** Neira kembali terkapar di ranjangnya. Tubuhnya serasa lelah karena Sei memiliki stamina yang luar biasa. "Pria menyebalkan, dia pergi begitu saja setelah puas," gerutu Neira. Dia masih tidak memiliki tenaga untuk bergerak dan mandi. Jadi Neira memainkan ponselnya untuk menghibur diri. Gunakan kartu yang ada di nakas untuk membeli apapun yang kamu suka. Lakukan apapun agar membuatmu cantik. Neira tersenyum, akhirnya salah satu yang ia inginkan terwujud. Dia bisa membayar biaya rumah sakit adiknya dengan kartu ini. "Maafkan kakak Jihan, kakak terpaksa membayar biaya pengobatan mu dengan uang pria ini," ucap Neira. Dia tidak lagi menangis karena sudah mempersiapkan diri. Saat ini ia tidak lagi memiliki harga diri atau rasa malu karena menjual tubuhnya pada Sei. Kebutuhan perut dan biaya rumah sakit adiknya sudah membuatnya lupa dengan hitam dan putih suatu perbuatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN