Hamish Alexander tersenyum puas. Sekarang tidak ada lagi yang bisa mencegatnya untuk mendapatkan cinta mantan kekasihnya kembali, pikirnya. Dimanfaatkannya momen ini sebaik mungkin. Diajaknya Ingga beserta kedua anaknya, si kembar Elena dan Enzo, jalan-jalan mengelilingi indahnya kota Florence dengan mobil maserati merahnya. Begitu tiba sorenya, Hamish mengajak Ingga dan kedua anaknya makan bersama di salah satu restoran yang dikelilingi bangunan-bangunan besar ala Eropa klasik. “Aku merasa tidak enak hati denganmu, Hamish,” ucap Ingga seraya memotong sepiring tiramisu di hadapannya dengan sebuah garpu. “Tidak enak hati kenapa, hm?” “Aku pasti tidak akan bisa membantu kamu membayar semua pesanan kita,” ucap Ingga tak enak hati. Hamish tersenyum ramah. “It’s okay. Anggap saja hadiah dar

