2. Sampai kapan

1236 Kata
Kesabaran tidak pernah ada batasnya, tapi ingat, manusia tidaklah sama. Ada yang sabar dan bertahan, ada yang bosan lalu saling meninggalkan. *** Tak terasa, 4 jam sudah siswa-siswi SMA Bimatama lewati dengan 2 mata pelajaran yang menurut sebagian besar mereka sangat membosankan dan inilah waktu yang mereka tunggu-tunggu, yaitu waktu istirahat, begitupun dengan Rainaya. Ia langsung bergegas merapihkan buku-buku pelajarannya. "Makan yuuk, gue laper!" Ajaknya pada Rani dan Chaca yang mana mereka adalah teman yang terbilang dekat. "Kuy!" Seru mereka. Kemudian berlalu meninggalkan kelas yang memang sudah lumayan sepi. "Nay, tunggu dulu deh!" Ucap Rani memegang bahu Naya agar berhenti. "Kenapa?" Tanya Naya dengan mengerutkan keningnya. "Lo tau gak-- "Nggak." "Njir, gue belum selesai ngomong, dengerin dulu!" kesal Rani. "Hehe iya maaf, kenapa?" Tanya Naya kembali. "Kemarin Erza ngan-- "Ekheem!" Dehem seseorang yang berhasil membuat Rani menghentikan kalimat yang akan dirinya ucapkan. "Erza.. kamu mau kemana?" Tanya Naya yang senang bertemu dengan Erza. Erza hanya mengangkat bahu tak tahu. "Iihhh, kok nyebelin sih!" kesal Naya. Entah kenapa Erza malah tersenyum melihat tingkah gadisnya itu. "Aku mau nemuin kamu di kelas, tapi gak ada jadi aku mutusin buat langsung ke kantin!" Jelas Erza menjawab. "Bareng kita aja yuk!" Ajak Naya dan Erza pun mengiyakanya. "Ayooo jalaan!" Naya menarik lengan Erza namun, "Ya tuhan, gue lupa harus ngumpulin kertas ulangan yang kemarin!" Pekik Rani dan membuat Chaca ikut tersadar. "Kok gue baru inget yah!" Heran Chaca dengan tampang polosnya. "Ya udah kita kumpulin sekarang, Nay lo sama Kak Erza aja yah! Daaah.." ujar Rani yang berlalu begitu saja bersama Chaca. Naya pun menganggukan kecewa. Padahal dirinya ingin sekali menghabiskan waktu bersama kedua temannya itu. "Kamu udah ngumpulin?" Tanya Erza. Naya mengangguk pasti, "udah doong pacarnya Erza harus rajin." Jawabnya. Erza hanya menanggapinya dengan senyuman dan mereka pun kembali berjalan menuju kantin. "Za kemarin ada dikelas ada yang nangis pas aku tanya kenapa dia bilang pacarnya selingkuh." Ujar Naya dengan sesekali melirik kearah Erza yang fokus pada lorong kelas yang lumayan penuh dengan siswa berlalu-lalang. "Terus kenapa?" Tanya Erza. "Kamu gak bakalan selingkuh kan?" Pertanyaan Naya mampu membuat Erza menghentikan langkahnya dan beralih menatap Naya datar. "Pertanyaan aneh." "Aku kan cuma mastiin doang..." Ucap Naya dan mereka kembali melanjutkan langkah. "Tapi aku gak suka." "Iya maaf kalo itu udah nyinggung kamu," sesal Naya, namun didetik kemudian. "Tapi bentar kok kamu kesinggung sih, harusnya kalo kamu gak selingkuh kamu gak akan tersinggung dong! Oh atau jangan-jangan kamu--" lanjut Naya penuh curiga. "Kok kamu diem?" Tambahnya. Erza tetap diam dengan terus berjalan. "Kamu beneran selingkuhin aku?" Erza masih saja diam. "Tega kamu Za..." Lirih Naya dan Erza pun menghentikan langkahnya. Erza menutup mata sekilas, menghela nafas berat dan kemudian ia tersenyum semanis mungkin. "Aku-- "KAMU TEGA!" Sentak Naya kemudian berlari entah kemana. "Argh!" Erza menggeram tertahan. "See Za, sekarang apa yang bakal lo lakuin?" Tanyanya pada diri sendiri. Erza pun memutuskan untuk pergi menuju kantin sendiri dan membiarkan Naya menenangkan diri atau pun menangis sejadi-jadinya. Karena jika Naya menangis di depan Erza, sudah pasti itu tidak akan Erza biarkan. "Woy lagi ngapain?" Tanya Samsul yang baru saja datang bersama Aland. "Lagi minum doang." Jawab Erza. "Jadi pengeeen..." rengek Samsul pada Erza. "Jijik, kalo pengen ya ambil." ujar Erza. Samsul dan Aland masih terdiam menatap Erza. "Gue yang bayar." Lanjut Erza dan, "Naah ini yang ditunggu tunggu..." Pekik Samsul semangat. "Makan boleh gak Za?" Erza menganggukan kepalanya, "pesen aja." Erza berdiri dari duduknya. "Ini uangnya, gue cabut duluan." Ujar Erza seraya berlalu meninggalkan kantin. "Naya..." gumam Erza seraya terus mengedarkan pandanganya. "Rani!" Panggil Erza. "Kenapa Kak?" "Naya mana?" Tanya Erza to the point. "Lah bukanya tadi bareng Kakak yah," heran Rani dan Erza pun langsung berlalu pergi. Erza berhenti di sekumpulan siswi yang entah sedang membicarakan apa, mereka langsung terdiam saat Erza mendekat kearah mereka. "Kak--kak Erza..." "Kalian liat Naya?" "Daripada nyari Naya mending nyari aku aja Kak." ucap salah satu siswi dengan beraninya. Erza menatap siswi itu tajam. "Gua nyari Naya bukan cabe-cabean!" Tekan Erza dan berhasil membuat siswi tersebut merengut kecewa. Erza kembali mencari Naya dengan terus berkeliling dan sesekali menanyakan pada siswa ataupun siswi yang berada di sana. "Arrghh sial! Naya kamu dimanaa..."geram Erza pada dirinya yang tak berhasil menemukan Naya. "ERZAAAA...!" Teriak Naya tepat dari arah belakang Erza. Teriakan itu sontak membuat Erza berbalik, "Naya kamu--- "Kamu kok baru nyari aku?harusnya kan dari tadi nyariinya! Kamu nyebelin tau gaaak, nyeeebeeeliiin!udah seling--" Ucapan Naya terhenti saat Erza tiba-tiba saja memeluknya. "Aku gak selingkuh." Tiga suku kata yang berhasil membuat Naya sedikit lega. "Beneran?" Erza terlihat memandang kearah lain. "Zaa ih..." Kesal Naya seraya menarik-narik seragam yang Erza kenakan. "Iya, aku gak selingkuh." Naya tersenyum mendengar itu namun di detik kemudian senyuman itu kembali hilang, "tapi tetep yah aku kesel sama kamu, kenapa pas aku lari kamu nggak ngejar aku? Kenapa kamu malah ke kantin? Kenapa kamu gak langsung nyari aku?heum?" Ceroscos Naya tanpa jeda. Erza menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Aku kan butuh tenaga buat nyari kamu, jadi aku tadi minum dulu." Naya terlihat mengerutkan keningnya tak percaya, "Kamu bohong, pasti kamu selingkuh kan di kantin tadi?Ayo ngaku?" Tuduh Naya. "Ng-- "Siapa selingkuhan kamu heum? Sini biar aku jambak rambutnya sampe botak, aku cakar mukanya sampe rusak, sampe kamu gak mau selingkuh sama dia lagi!" Tantang Naya yang malah membuat Erza tertawa ringan. "Kenapa heuh? Eggak ada yang lucu!" "Kamu lucu," dan sekarang Erza malah tertawa. Naya semakin menyiratkan kemarahanya. "Kamu ngetawain aku?" Tanya Naya yang terdengar lebih serius. Seketika Erza menghentikan tawanya. "Aku cemburu Za," ucap Naya. "Aku tau." Naya menatap Erza dengan air mata yang masih tersisa. Erza langsung saja memeluk Naya dengan erat. "Jangan natap aku kayak gitu, itu buat aku terluka. " Lirih Erza mengelus lembut kepala Naya. "Tapi kamu jahat, aku cemburu malah kamu ketawain..." Rajuk Naya melepaskan pelukan Erza. "Ya udah aku minta maaf yah, sekarang aku anterin kamu ke kelas, bentar lagi masuk pelajaran." Ucap Erza hendak merangkul pinggang Naya namun Naya malah menjauh. "Aku masih marah sama kamu!" Tekan Naya dan berjalan terburu-buru. namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti dan kembali berbalik menatap Erza yang masih berada di tempat semula. Naya menghentak-hentakan kakinya dengan kesal. "Erzaaa kejaaar kek!" Dari jarak yang cukup jauh Erza terlihat Erza terkekeh geli melihat tingkah Naya. "Sudah kuduga." Ucap Erza dalam hati dan berjalan menghampiri Naya yang kini tengah melipat kedua tanganya di depan d**a dengan bibir yang mengerucut. "Marahnya gak konsisten." Ujar Erza seraya mengusap surai rambut gadisnya itu dengan lembut. "Kamunya aja yang gak peka." Erza hanya tersenyum dan mengelus kepala Naya lembut, "Iya, kapan sih aku bener." "Eh tapi kamu benerkan gak selingkuhin aku?" "Masih belum beres juga ternyata." Gumam Erza dalam hati. Erza hanya tersenyum sebagai sebuah jawaban, "sekarang kamu masuk, pulang nanti aku jemput kamu ke kelas okay?" Naya menganggukan kepalanya setuju. "Jangan ngambekan mulu, cape." ujar Erza menghapus sisa air mata yang masih menempel di ujung mata Naya dengan ibu jarinya. "Kamu cape?" Selidik Naya "Sial salah ngomong lagi gue!" "Bukan aku, tapi mata kamu sama hati kamu pasti cape sendiri. Ya udah aku ke kelas yah..." Pamit Erza,namun sebelum itu Erza menitipkan Naya pada Rani. "Apaansih Za, kayak ke anak kecil aja dititip-titip!" Kesal Naya yang langsung masuk ke dalam kelas begitupun Erza, ia berlalu meninggalkan kelas Naya. "How long i should do this god?" Gumam Erza dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN