Lisa bangkit dari ranjang, meninggalkan Bram yang masih bergelut dengan selimut tebal di sepanjang tubuhnya. Wanita itu memilih berdiri menghadap jendela dan membuka tirainya yang transparan. Cahaya pagi yang cerah segera menembus kaca, memberikan kehangatan. Bram menatap punggung Lisa dan sibuk berpikir dengan semua kata hatinya. Matanya tampak lebih kelam. Sinar netranya kian menggelap lebih dari biasanya. "Kamu nggak balik ke rumah sekarang?" tanya Bram, melihat jam sudah menunjukkan pukul lima lebih empat puluh menit. "Masih terlalu pagi. Mau kubikinin sarapan?" tawar Lisa. "Apa nggak masalah?" tanya Bram. "Masalah?" tanya Lisa tak memgerti. "Kamu justru melayani lelaki lain dari pada suamimu sendiri. Kamu menghabiskan malam dengan lelaki lain dari pada dengan suamimu sen

