Berapa harga sebuah perjuangan? Jika bertanya pada Oriana, maka dia akan menjawab itu setara dengan kehilangan orang tua saat SMP, tinggal bersama bibinya dalam keterbatasan, memiliki adik yang sering membuat masalah, tidak bisa pergi kuliah dan mengejar impian, serta bekerja membanting tulang.
Namun, seakan itu belum cukup. hidup kembali mengujinya dengan kematian bibinya beberapa hari lalu. Dia dan adiknya diusir dari rumah bibinya dan dianggap tidak memiliki tali persaudaraan apa pun. Setidaknya, dia masih memiliki tabungan yang dia kumpulkan dari gaji magang. Oriana menggunakannya untuk mencari indekos yang lebih kecil.
Terkadang, Oriana berpikir, apakah ada gadis berusia sembilan belas tahun lain yang memiliki hidup seberat hidup yang dia jalani?
Tentu saja ada, orang yang tertimpa bencana, yang hidup dalam kekeringan sehingga sulit mendapatkan makanan, dan remaja yang tinggal dalam zona perang. Keadaan mereka jauh lebih buruk darinya.
Namun ….
Bunyi pesan baru yang masuk pada ponsel Oriana berhasil menghentikan langkah gadis itu menuju rumah. Hari sudah malam, dan pekerjaannya baru selesai beberapa saat lalu.
Itu adalah pesan dari Hannah.
Saat Oriana membukanya, dia melihat bagaimana teman-temannya sedang bersenang-senang di sebuah tempat mewah yang ia yakini dipesan oleh Gray, temannya di SMK.
“Saat bermain biliar, aku selalu teringat denganmu, Oriana. Pasti akan menyenangkan jika kau ikut.”
Oriana menyeringai. Munafik.
Hal-hal seperti inilah yang kerap membuatnya goyah.
Oriana terus meyakinkan dirinya bahwa ia tidak membutuhkan itu semua. Namun, dalam hati kecilnya, dia merasa benar-benar iri pada hidup mereka. Ia juga ingin pergi bersenang-senang seperti gadis seusianya. Pergi ke tempat-tempat bagus, mengabadikan dalam foto, dan mempostingnya di akun media sosial. Ia juga ingin pergi kuliah, mendapat dosen yang menyebalkan, dan mengeluh tentang tugas kuliah.
Gadis itu mengembuskan napas panjang, tiba-tiba merasa lelah secara fisik dan batin. “Mengapa hidupku terlihat semakin susah dan susah?” gumamnya.
Hannah, yang baru saja mengirim pesan, merupakan sahabatnya sewaktu SMK. Orang-orang bilang Oriana beruntung karena memiliki lingkungan pertemanan yang terdiri atas orang-orang kaya, yang mampu menyewa satu bioskop hanya untuk bersenang-senang.
Itu benar. Namun, saat Oriana mengalami kesulitan seperti ini, mereka semua pergi, bahkan hanya mampir untuk memamerkan keistimewaan mereka.
“Kita malang sekali, ya, Oriana,” kata Jihan, teman kerja yang seusia dengannya.
“Mengapa kau berpikir begitu?” tanya Oriana sambil menata rokok di rak di belakang mereka.
“Teman-temanku pergi kuliah dan bersenang-senang dengan teman kampus mereka.” Dia memulai. “Sementara aku, hanya berdiri di sini seharian, menatap rak-rak makanan, dan dipaksa untuk tersenyum kepada semua orang.”
Oriana hanya menunjukkan senyum prihatin kepadanya, tahu persis apa yang dia rasakan.
“Aku ingin memakai baju bagus, berdandan, dan pergi ke tempat yang bagus. Mengenakan parfum cokelat yang sedang hits, dan melihat seorang lelaki tertarik kepadaku,” keluhnya. “Tapi, yang bisa kulakukan hanya berdiri di sini sepanjang hari. Apa kau merasakan hal yang sama, Oriana?”
Oriana mengangguk dengan cepat. “Hidup memang tidak adil kepada orang-orang seperti kita.”
“Kau benar.” Jihan mendengkus. “Rasanya sulit untuk bergaul saat kau tidak kuliah, bahkan teman-teman kita menjadi berbeda setelah pergi ke sana. Memangnya, mereka mendapatkan tambang emas atau bagaimana sih.”
“Hei!” Oriana memprotes. “Impianku adalah pergi kuliah dan memiliki pekerjaan yang lebih bagus, kau tahu. Aku merasa tersinggung saat kau berkata seperti itu.”
“Ah, iya, kau benar. Aku hampir lupa,” kata Jihan dengan bibir mengerut. “Tapi, tidak peduli seberapa banyak kita bekerja keras, rasanya keadaan tidak berubah.”
Dia adalah Jihan, rekan kerja Oriana yang sering mendapat shif bersamanya. Mereka lulus pada tahun yang sama, dan seperti Oriana, Jihan juga tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan biaya. Ini bukan kali pertama gadis itu mengeluh tentang takdirnya. Berbicara seolah dialah orang dengan takdir paling buruk.
Setidaknya, kau memiliki keluarga yang utuh, batin Oriana, sementara bibirnya membentuk senyuman. Jihan tidak akan mengatakan hal yang sama andai kehilangan orang tua dan keluarga satu-satunya. Rasanya, bukan hanya takdir yang bersikap buruk, tetapi seolah tidak ada tempat di dunia ini yang cocok untuknya. Seolah tidak ada harapan yang perlu Oriana kejar.
Seolah hidupnya berakhir detik itu juga.
Oriana mengembuskan napas dan mengambil ponselnya.
Anda yakin akan membisukan status dari Diandra?
Ya.
Anda yakin akan membisukan status dari Hannah?
Ya.
Oriana tersenyum dan mematikan ponselnya. Mereka sangat berbeda. Ia harus menyadari itu. Dan, ini adalah hidup yang harus dia perjuangkan, tidak peduli seberapa sulit hal mungkin terjadi.
“Omong-omong, Oriana, apa yang akan kau lakukan setelah pulang nanti?” Jihan bertanya dengan sorot penasaran.
“Aku … akan mencari pekerjaan,” jawab Oriana sambil tersenyum cerah.
***
PEKERJAAN pertama yang ia datangi adalah bagian administrasi pada sebuah jasa furniture. Dia melihat informasi iklan ini di koran kemarin, dan menaiki angkutan umum untuk pergi ke lokasi.
“Apa kau memiliki pengalaman di bagian administrasi?” tanya seorang pria tua yang merupakan pemilik usaha itu.
“I—iya?” Oriana berkedip. “Aku pernah bekerja di bagian administrasi saat PKL dahulu.”
“Ah, begitu.” Raut wajahnya berubah menjadi kecewa sementara ia menimbang-nimbang.
“Aku mendapat nilai sempurna saat itu, jadi aku yakin aku akan dapat mengatasi ini dengan baik.” Oriana buru-buru menawarkan, berharap perkataannya dapat menggerakkan hati pria itu.
“Kau cukup baik,” katanya, “Tapi, lulusan SMK atau SMA tidak diterima di sini.”
Pekerjaan kedua yang ia incar adalah pelayan di sebuah restoran yang membuka lowongan di sosial media bagi wanita.
“Aku juga bekerja sebagai kasir di minimarket, jadi aku sudah memiliki sedikit pengalaman tentang hal seperti ini.”
Si penyeleksi mengangguk. “Itu akan jadi nilai tambahan, tetapi tinggi badanmu tidak memenuhi kualifikasi sebagai pelayan,” katanya, menatap lurus-lurus pada Oriana.
Bahu Oriana turun dengan kecewa. “A—apa? Tapi, persyaratan itu tidak ditulis di informasi lowongan yang kulihat.”
“Ah, itu adalah kesalahan kami. Kami benar-benar meminta maaf.”
“Benar-benar,” umpat Oriana begitu ia keluar. “Bagaimana mungkin kau lupa memasukkan persyaratan penting seperti itu? Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk datang kemari.”
Gadis itu menatap penuh harap ke dalam map cokelat yang ia bawa sejak tadi.
Selanjutnya harus berhasil, batin gadis itu.
Pekerjaan ketiga yang Oriana coba adalah mendaftar sebagai penjaga kios di salah satu mall. Pekerjaan ini cukup mudah. Menyambut pelanggan yang datang, melayani kebutuhan mereka, dan membantu mempromosikan produk yang baru. Dengan pengalamannya sebagai kasir, Oriana yakin dia dapat dilihat oleh penyeleksi kali ini.
Namun, harapan itu menjadi surut saat keraguan timbul dalam wajah pria yang mewawancarainya.
“Pengalamanmu cukup berharga,” Dia memulai. Nada suaranya membuat sorot mata Oriana meredup.
“Tapi, setidaknya, kau harus lulusan Diploma untuk bisa bekerja di sini.”
“Sungguh menjengkelkan,” omel Oriana sambil berjalan keluar. “Aku tidak akan mendaftar pekerjaan di sini jika seorang lulusan diploma, kau tahu!” Gadis itu memandang sinis pada suasana mall yang cukup ramai. “Memangnya, siapa juga yang ingin menjadi penjaga kios saat memiliki ijazah diploma.”
Sebelum berlanjut pada lowongan yang keempat, Oriana menyempatkan diri untuk mampir di sebuah warnet. Umumnya, mencari pekerjaan akan lebih mudah jika dia mencari melalui jaringan media sosial. Terlebih, ada aplikasi khusus yang bertujuan untuk memudahkan mencari pekerjaan.
Anda harus merupakan lulusan S1 atau D1 untuk bisa mendaftar
“Wah,” Oriana mendengkus. “Benar-benar. Kau bahkan hanya ingin menerima lulusan kuliah,” umpatnya pada layar komputer. “Lupakan saja, aku tidak akan mendaftar pada aplikasi bodoh seperti ini!”
Gadis itu termenung selama beberapa saat. Menatap kosong pada layar komputer yang menampilkan halaman lowongan pekerjaan. Oriana menyisir rambut lurusnya ke belakang dan mendengkus.
“Apakah benar-benar tidak ada tempat untuk seorang lulusan SMA di dunia ini?” gumamnya, menatap putus asa pada map cokelat di sisinya.
Rasa muak dan gejolak tidak enak timbul pada perutnya saat ia menempuh perjalanan menuju pekerjaan yang keempat. Rasanya seperti dia mulai lelah dengan semua ini. Mencari pekerjaan, benar-benar hal yang sulit untuk dilakukan.
Namun, kali ini ia mendaftar sebagai petugas kebersihan di sebuah mal. Oriana yakin ia akan berhasil. Tidak memerlukan keahlian khusus, tidak membutuhkan ijazah yang tinggi, dan tinggi badan tidak akan dipermasalahkan. Itu benar-benar pekerjaan yang tepat.
“Maaf, lowongan itu sudah diisi oleh orang lain pagi ini,” kata seorang wanita berpakaian rapi yang memegang kendali atas mall tersebut.
“Bagaimana dengan tugas lain?” Oriana tampak putus asa. “Apa tidak ada pekerjaan lain yang bisa kulakukan? Aku bisa membersihkan kamar mandi atau apa pun jika ada.” Oriana menunjukkan senyum penuh permohonan.
Namun, wanita itu hanya menggeleng lemah. “Maafkan aku.”
Oriana menghela napas dengan kecewa. “Bukan kesalahanmu,” katanya, sebelum pergi dengan langkah gontai, menggenggam map cokelat yang mulai berkerut karena keringat.
Dia memutuskan itu akan menjadi pekerjaan terakhir yang ia kejar untuk hari ini. Malam nanti, ia bisa mencari lebih banyak lowongan di sosial media, meski Oriana tidak yakin dia akan cukup kuat untuk melakukannya.
Dia berjalan ke lingkungan yang sedikit kumuh dan padat. Oriana terpaksa memilih tinggal di sini karena biaya sewa yang cenderung murah. Hingga dia terkejut saat mendengar suara benda terbanting saat membuka pintu.
Di dalam rumah, dia melihat Haris tampak mengobrak-abrik dapur dan lemari pakaian Oriana.
“Haris! Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan panik, berusaha menghentikan pemuda SMP itu.
“Lepaskan aku!” Haris menepis tangan Oriana dengan kasar. “Kenapa tidak ada makanan sama sekali, Kak?! Apa kau tidak tahu jika aku sudah lapar sejak tadi?!” bentak Haris, membuat Oriana bergidik ketakutan.
“Maaf,” jawabnya, “Kakak belum sempat memasak sebelum pergi kerja dan terpaksa pulang terlambat karena beberapa urusan.”
Saat bibi mereka masih hidup, biasanya makanan telah tersedia di meja makan setiap Haris pulang sekolah atau bermain. Namun, Oriana merasa sangat lelah setelah pindah rumah dan tidak sempat memasak apa pun kali ini.
“Setidaknya, tinggalkan uang untukku! Tidak ada sepeser pun uang di lemari bajumu!”
Oriana membelalak kaget. “Jadi, karena itu kau mengacak-acak baju kakak?! Itu tidak sopan, Haris!”
“Ah, bodo amat!” katanya sambil membanting lemari pakaian di depan wajah Oriana. “Cepat masakkan sesuatu untukku!” titahnya. Pemuda itu berlalu pergi sambil menendang bakul nasi dengan kasar, lalu membanting pintu.
Oriana tidak bisa menyalahkan sikap kasar adiknya. Dahulu, Haris adalah anak yang baik. Namun kemudian orang tuanya meninggal dan Oriana sibuk bekerja hingga tidak ada seorang pun yang memberinya cukup kasih sayang. Akibatnya, pemuda itu memilih bergaul dengan gengnya yang kurang baik.
Sambil menahan tangis, Oriana meraih bakul nasi dan menghampiri tempat penyimpanan beras. Dia mengembuskan napas saat melihat beras yang tersisa tidak cukup untuk porsi dua orang.
Oriana terdiam, dan air mata mulai berkumpul di kelopak matanya. Dia merasa sangat lelah setelah seharian mencari kerja, dan harus menghadapi adik yang kasar. Bahkan, rumahnya kini tampak sangat berantakkan.
Tanpa sadar, satu per satu air mata mulai jatuh membasahi pipi Oriana. Gadis itu mencoba menghapusnya, tetapi justru jatuh lebih banyak hingga tidak bisa ia bendung lagi.
Ya Tuhan, mengapa hidupku terasa sangat berat?
“Rasanya benar-benar sulit,” isaknya sambil merangkul bakul nasi dalam pangkuannya.
Napasnya mulai tersendat, dan Oriana terus menangis, telanjur kehilangan arah untuk berhenti. Hingga tiba-tiba ia mendengar dering notifikasi dari ponselnya.
Itu adalah pesan dari Asha, sahabatnya.
Pekerjaan ini benar-benar cocok untukmu, Oriana.
Gadis itu segera membelalakkan mata saat melihat foto berisi lowongan untuk menjadi pemandu biliar di sebuah tempat latihan.
Oriana cepat-cepat menghapus air matanya. Membaca persyaratan dan informasi lebih lanjut beberapa kali. Kemudian kembali menangis terharu.
Kuharap, yang ini akan berhasil.