Bab 2. Hanya Taruhan

1078 Kata
"Yohan, kamu benar-benar hebat!" kata Daniel yang disambut gelak tawa oleh Adli dan Azmi, mereka bertiga merupakan sahabat karib Yohan. Yohan sendiri adalah siswa yang cukup populer di Sekolah, ia tidak hanya pandai dalam bidang akademik, non akademik pun berhasil ia kuasai ditambah wajah rupawannya yang begitu mengagumkan membuat sebagian besar siswi jatuh hati padanya bahkan hampir setiap hari Yohan mendapat kado berupa makanan atau barang-barang kecil juga puluhan surat cinta. Jangan bayangkan jika teman-teman Yohan juga sama berprestasinya dengan siswa unggulan ini, mereka hanya murid bobrok yang berlangganan keluar masuk ruang BK, ketiganya seringkali disebut 'Badboy' Sekolah. Yohan sendiri tidak mempermasalahkan perihal lingkup pertemanannya karena ketiga orang ini juga adalah sahabat yang selalu bersama sedari kecil dan mereka kenal dekat dengan keluarganya termasuk Dev. Bagi Yohan, selama ia bisa membentengi diri dan terus berusaha untuk mencapai kesempurnaan yang selalu Yohan tanamkan dalam diri, ia tidak perlu membuat batas berdasarkan nilai. "Kami melihatnya, Yohan, kami memperhatikan dirimu!" tambah Adli dengan perkataan yang begitu ringan, ia hanya berpikir bahwa Yohan juga bersenang-senang dimalam itu. Keempat sekawan ini tengah berkumpul dibelakang gedung bekas ruang kelas yang sudah tidak ditempati dan jarang sekali ada orang yang datang ke Basecamp mereka ini. Yohan terdiam, ia menunduk sembari duduk bersandar pada tembok bangunan dengan warna cat yang mulai pudar, ia menatap sepatunya dengan perasaan yang begitu sendu, hatinya hancur. "Aku tidak menyangka kamu bisa seberani itu." Azmi yang duduk disamping Yohan, menepuk pundak pemuda yang terlihat murung ini. "Kalian melihatnya?" tanyanya lemah, mendadak Yohan seakan lupa bahwa malam itu, sebelum ia memberanikan diri merenggut kesucian Shea, dirinya dan teman-temannya ini berkumpul bersama didekat Klinik milik Dev, ia bahkan berkata dengan sumbar bahwa mereka harus menonton aksinya. "Tentu saja, bukannya kamu yang meminta kami untuk melihatnya," kata Adli dengan lantang. "Aku tidak menyangka, tubuh Shea ternyata putih bersih seperti kapas, aku sampai iri padamu, Han," tambah Azmi dengan wajah memerah. "Jangan bilang kalian melampiaskan hasrat kalian sendiri dengan membayangkan tubuh Shea," ucap Daniel yang kembali disambut gelak tawa oleh teman-temannya kecuali Yohan. Yohan justru mengepalkan tangannya, ingin sekali dirinya melampiaskan seluruh kekesalan pada ketiga orang yang biasa ia sebut sebagai teman. Untuk pertama kali, Yohan benci telah bersahabat dengan mereka dan pada akhirnya, ia terjebak dalam lingkaran pertemanan yang buruk. "Ini uangmu," Daniel mengulurkan tangannya menyodorkan lima lembaran uang berwarna merah kehadapan Yohan, "Uang taruhan kita, kau sudah menang." "Kami bertiga sudah mencoba mendekati Shea tapi tidak berhasil, kau hebat, Yohan," kata Azmi. Yohan menatap lembaran uang yang sudah tak lagi berguna dimatanya, ia melakukan semua ini bukan untuk uang yang sekarang ia lihat wujudnya. Namun, untuk menghadapi tantangan dari teman-temannya ini, amarah dalam diri Yohan sudah mencapai ubun-ubun, ia akan mengambil uang itu lalu melemparkannya ke wajah mereka yang telah membuatnya terbelenggu oleh penyesalan yang bagai Neraka. Yohan mengeratkan genggaman tangannya, ia sudah siap menghajar orang-orang yang tidak akan pernah lagi dirinya sebut sebagi seorang teman, Yohan meraih uang itu dengan kasar dan ... "Bagaimana rasanya mempermainkan diriku? Menyenangkan?!" Tiba-tiba, suara parau seorang gadis terdengar, membuat keempatnya sontak mengalihkan pandangan kearah sumber suara. Keempat orang ini bergeming, mereka terpaku mendapati keberadaan seorang gadis yang berurai air mata diunjung sana, gadis yang tidak lain adalah Shea. Wajah Yohan yang semula pucat pasi berubah merah seiiring rasa panas yang menjalar keseluruh tubuh, belum sempat ia beranjak dan menghajar orang-orang yang mendorongnya melakukan perbuatan keji itu, ia sudah tertangkap basah oleh Shea. Yohan tidak ingin Shea salah paham terhadapnya. "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Yohan dengan suara bergetar dan tubuh yang gemetar pula. Rasa sesak sudah memenuhi d**a Shea, ia sudah tidak mampu lagi untuk berkata, tubuhnya lemah karena sedari tadi mendengar seluruh perbincangan mereka, pelecehan yang ia terima ternyata belum membuat mereka puas, mereka menabur garam diatas lukanya dengan menertawakan kejadian pilu yang ia alami ditambah membicarakan tentang tubuhnya yang semakin membuat Shea merasa terhina. Sungguh! Jika melenyapkan keempat orang ini adalah tindakan yang dihalalkan, tentulah ia akan menghabisi mereka sekarang juga. Tatapan mata Shea pada Yohan begitu dingin, ia membenci pria yang selalu diagung-agungkan karena prestasi. Tapi pada kenyataannya, remaja tanggung itu tidak lebih dari seonggok sampah. Dibanding berdebat dengan Keempat orang ini, Shea memilih untuk berbalik kemudian melangkahkan kakinya setengah berlari untuk menjauhkan diri dari mereka yang mungkin saja akan kembali menodainya. Yohan beranjak dan dengan cepat ia mengejar Shea untuk memberi penjelasan, langkah Yohan lebih cepat dibanding langkah Shea sehingga ia dengan mudah meraih pergelangan tangan gadis itu dan membuatnya berhenti. PLAK! Belum sempat Yohan memulai penjelasan, sebuah tamparan keras mendarat pada pipinya. Rasa panas dan perih ia rasakan. Namun, rasa sakit justru lebih mendominasi dalam hati, mata Yohan berkaca-kaca, dirinya menahan air mata yang sudah berdesakan ingin keluar. Shea menarik tangannya kasar, ia mundur beberapa langkah menjauh dari Yohan, "Apa aku pernah berbuat salah padamu?! Apa aku pernah menyakitimu?!" tanya Shea dengan nada tinggi diiringi butiran air mata yang terus saja jatuh, ia sudah mencoba menahan kesedihannya namun tidak bisa. Mulut Yohan seakan terkunci, ada sesuatu yang besar dalam tenggorokannya hingga menghalangi dirinya untuk bersuara, Yohan hanya menggelengkan kepala lemah. "Lalu, kenapa kau menyakitiku?! Kenapa merenggut sesuatu yang berharga dariku?! Kenapa begitu mudahnya kau menghancurkan hidupku hanya untuk beberapa lembar uang?! Kenapa?!" nada bicara Shea berapi-api, ia tidak terima dengan pelecehan dan seluruh penghinaan yang ia terima. "Bu-bukan ..." Yohan tidak mampu untuk menjelaskan, ia merasa dirinya hanya seorang pengecut saat ini. "Aku sangat membenci dirimu, Yohan." nada bicara Shea mulai turun, ia tidak lagi berapi-api. Walau ucapan serta tatapan matanya sangat tajam, "Aku sangat jijik melihatmu, mulai sekarang anggap saja kita tidak saling mengenal, jauhi aku sejauh mungkin!" meski dengan suara yang pelan tapi terselip ketegasan didalamnya. Shea meninggalkan Yohan yang terdiam, ia berlari sembari menyeka air mata yang terus saja turun. Shea berlari pada jalan setapak yang akan membawanya kembali ke gedung Sekolah, ia menghela napaa berat dan bersiap untuk bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Di Sekolah sendiri, Shea tidak memiliki banyak teman, hampir tidak ada karena ia memang seorang yang pendiam dan tidak banyak bicara, meski begitu ia adalah seorang yang ramah dan murah senyum. 'Luka yang telah kau torehkan, aku tidak akan melupakannya.' benak Shea, kebenciannya pada Yohan sudah tersimpan rapat dalam hati. Yohan hanya menatap punggung Shea yang mulai menjauh, perkataan 'Benci' begitu menusuk hatinya. Apalagi, perkataan itu keluar dari mulut seorang gadis yang sangat ia cintai. Dirinya juga tidak mampu mengejar Shea karena merasa tidak pantas untuk hal itu. "Shea, Ma-maafkan aku," ucap Yohan lirih tatkala Shea sudah tidak berada dalam pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN