Galih hidupnya kembali hampa seperti dulu ketika dia di campakkan, memang kini bukan salah wanitanya tapi mungkin salah dia yang tidak berani mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya. Galih terlalu takut jujur hingga akhirnya meninggalkan suatu penyesalan yang akan terus dia ingat sampai akhir hayatnya. Bagaimana dirinya harus menjalani kehidupan setelah ini? waktunya masih panjang dan dia harus menggunakan semuanya dengan sebaik-baiknya. Apakah dia akan memilih sendiri sampai Tuhan mempertemukan dirinya dengan wanita lain? ataukah dia bertahan dengan segala rasa cinta yang masih tersimpan di dalam hatinya. Semuanya terasa sunyi begitupun hati dan perasaan yang dia miliki saat ini. Siang malam tiada bedanya baginya, hanya ada kesepian dan dirinya begitu depresi ketika melihat wanita

