Juwita duduk di kursi belakang, memandang keluar jendela mobil yang dingin terkena embun gerimis. Perjalanan baru berjalan dua puluh menit, namun suasana dalam kendaraan seakan membeku. Ayah dan Ibu belum mengucapkan sepatah kata pun sejak pagi. Lebih baik begini, pikirnya. Diam lebih baik daripada pertengkaran dengan suara meninggi, piring terbang, atau sumpah serapah yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
Mungkin, di tempat baru, semuanya akan berubah. Mungkin.
Ia tidak merasa senang, juga tidak merasa sedih. Hampa. Sama seperti kebanyakan hari dalam hidupnya. Suara radio yang tiba-tiba menyala membuatnya sedikit mengerutkan kening. Itu lebih baik daripada keheningan yang menyesakkan. Dengan malas, ia menyandarkan kepala ke kaca jendela, merasakan dinginnya menempel di pelipis. Mobil melaju di jalanan yang masih basah, sesekali suara ban menggesek aspal terdengar ketika kendaraan lain menyalip.
Di jok depan, Ibu asyik dengan ponselnya, wajahnya diterangi sinar biru dari layar. Ayah, seperti biasa, fokus pada jalanan. Keduanya lebih mirip rekan kerja yang hidup dalam satu rumah daripada pasangan suami istri.
Juwita mendesah pelan. Kata Ibu, dia terlalu apatis. Kurang peka. Antisosial. Tapi apa salahnya? Sosialisasi tidak pernah terasa menarik baginya, terlebih ketika orang tuanya sendiri tidak pernah mencontohkan interaksi yang sehat. Ia lebih suka berada di dunianya sendiri, dunia yang tidak menuntutnya untuk berpura-pura.
Namun, kalau soal nilai, jangan ditanya. Itu satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan dalam hidupnya. Masuk sekolah baru di semester dua kelas tiga SMA memang konyol, tapi pilihan bukan berada di tangannya. Semua ini karena pekerjaan Ayah yang mengharuskannya pindah ke Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Ibu pun harus menyesuaikan, meskipun bisnis Wedding Organizer-nya sudah cukup terkenal di Medan.
Sambil menghela napas, Juwita mengeluarkan headphone dari ransel hitamnya. Tiga jam perjalanan dengan hanya mendengar radio? Tidak mungkin. Ia butuh distraksi, butuh sesuatu yang bisa membantunya bertahan dalam perjalanan ini. Lagu pertama yang ia putar adalah "Swim" dari Chase Atlantic. Beat-nya harus keras, harus memenuhi telinganya sepenuhnya.
“Taa.”
Suara Ibu menyelinap di sela-sela alunan musik. Dengan malas, ia menurunkan sedikit headphone-nya.
“Besok Ibu nggak bisa nemenin daftar sekolah, ada klien di Aceh.”
“Aman,” jawabnya singkat.
“Ayah juga, Ta. Besok pagi harus langsung ke Pangkalan s**u, ada pertemuan penting.”
“Iyaa, aman. Lagian biasanya juga aku ngurus sendiri.”
Ayah mengangguk, menutup pembicaraan tanpa basa-basi. Hening kembali menyelimuti. Juwita kembali menekan headphone ke telinganya, menaikkan volume sampai dunia di sekitarnya menghilang.
***
Juwita terbangun ketika mobil berhenti di sebuah tempat ramai. Ia mengerjapkan mata, merasakan sesuatu yang lengket di sudut bibirnya. Dengan cepat, ia mengulurkan tangan ke arah Ibu. “Bu, tisu basah.”
Tanpa menoleh, Ibu menyerahkan sebungkus tisu baru. “Nih.”
“Thanks.” Juwita mengambil satu lembar, mengelap bibirnya lalu membuangnya ke tempat sampah kecil di dalam mobil.
Dari dalam kendaraan, ia melihat kesibukan orang-orang di luar. Spanduk besar bertuliskan "Keripik Rindu Gebang" menarik perhatiannya. Ia menoleh ke Ibu. “Bu, ini di mana?”
“Gebang.”
“Masih jauh ke Pangkalan Brandan?”
“Enggak.”
Ia mencari-cari sosok Ayah di antara kerumunan, matanya menangkap pria dengan kemeja biru tua yang tengah memilih keripik. Setelah beberapa saat, Ayah kembali, menyerahkan plastik penuh jajanan ke pangkuan Juwita sebelum kembali ke kursinya tanpa sepatah kata.
Mobil kembali melaju, meninggalkan keramaian. Jalanan semakin sepi, tanda bahwa mereka semakin mendekati tujuan.
***
Gerbang putih dengan tulisan "Komplek Puraka II Pangkalan Brandan" menyambut mereka. Mobil berbelok masuk, melewati jalanan yang lebih sempit. Dari tempat duduknya, Juwita mengunyah dodol sambil mengamati lingkungan baru. Matanya menangkap momen langka—Ayah dan Ibu mengambil dodol dari wadah yang sama, tangan mereka sempat bersentuhan. Tapi, seperti refleks, Ibu buru-buru menarik tangannya. Juwita pura-pura tidak melihat.
Lalu, semuanya kembali seperti semula. Ayah diam. Ibu sibuk dengan ponselnya. Dan Juwita? Ia masih dengan pikirannya sendiri, mencoba menebak seperti apa kehidupannya di tempat baru ini. Tanpa ekspektasi, tanpa rencana. Yang jelas, ia tahu satu hal—hidupnya akan tetap datar. Seperti biasa.