“Singkat aja ya, An.”
“Mama … mau bicara apa?”
“Pasti Adam udah cerita ke kamu, ‘kan? Dia udah jelasin semuanya ke kamu?”
Anna mengangguk ragu. Matanya tak lepas dari Ria. Pembahasan ini, pembahasan yang tidak mau Anna bahas lagi hari ini. Tapi siapa siapa sangka, bukan ditanyain kabar, Anna justru langsung diajak membahas masalah inti.
“An, Mama harap kamu mau mengerti dengan situasi yang ada. Anna, Aira udah kasih Mama cucu, udah kasih Adam keturunan. Pasti kamu ikut senang, ‘kan?”
Ingin sekali Anna berteriak tidak. Namun lidahnya sangat keluh. Jangankan berteriak, untuk terbuka saja sulit. Seketika tenggorokan Anna terasa kering, jantungnya berdegup kencang.
“Lebih dari itu, Adam harus bertanggung jawab dengan apa yang udah dia perbuat. Mama bisa jamin kok kalau Adam akan adil sama kamu dan Aira. Nanti, kamu bisa bantu urus anaknya Aira, kalian bisa sama-sama.” Ria kembali berujar.
Ide gila!
Anna masih tetap diam, dia belum mengeluarkan satu katapun. Sungguh, Anna tidak menyangka ibu mertuanya dengan mudah bicara seperti tadi. mengurus dari anak pelakor sama-sama? Haha.
“Anna, kam—”
“Mama sadar ngga sih? Mas Adam di sini itu salah. Dia selingkuh, dia nyelingkuhin aku. Dan Mama dengan bangga menyambut cucu di luar nikah itu? Apa Mama ngga ngertiin perasaan aku sekarang? Apa Mama ngga mikir hati aku sakit dan hancur? Kenapa kalian jahat banget sama aku? Salah aku sama kalian itu apa sampai aku diperlakukan kayak gini?” Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Anna buka suara. Apa yang baru dia sampaikan, itu semua adalah unek-uneknya sejak semalam.
“Kalau kamu bisa kasih anak, Adam ngga mungkin lakuin ini, An. Empat tahun, Anna, udah selama itu kamu masih ngga bisa kasih keturunan.”
‘Tapi sekarang nyatanya aku lagi mengandung anaknya mas Adam,’ batin Anna.
Kepala Anna merunduk, menatap perutnya yang rata. Apa di dalam sana anaknya mendengar semua yang Ria katakan? Semoga saja tidak. Karena perkataan Ria sungguh menyakitkan. Setelah lama diam, Anna kembali mengangkat kepalanya menatap sang mertua.
“Kalau emang kamu ngga mau dimadu, kalian bercerai saja. Bercerai tanpa anak prosesnya cepat kok,” ujar Ria dengan santai tanpa memikirkan perasaan Anna.
Senyum Anna mengembang, kepalanya mengangguk. “Kalau memang itu keputusan yang menurut kalian terbaik, maka lakukanlah. Aku siap mundur, aku ngga akan mempersulit rencana kalian. Tapi satu hal, dikemudian hari, kalian dilarang menyesal atau mengambil hak yang ngga seharusnya. Mama tenang aja, aku udah ngajuin cerai sama mas Adam kok. Aku akan persiapkan semua berkas, nanti aku serahkan ke mas Adam. Kalau mas Adam ngga mau memproses, biar aku yang maju. Bukankah prosesnya akan mudah kalau di dalam gugatan ada perzinahan?”
Ria seketika terdiam. Kata-kata spontannya tadi ternyata langsung diseriusi oleh Anna. Ria benar-benar tidak menyangka kalau Anna akan selegowo ini.
“Perselingkuhan itu hal yang fatal dalam rumah tangga. Lebih dari itu aku ngga siap untuk dimadu. Aku akan mundur, Mama bisa pegang omonganku. Mama udah selesai bicaranya? Kalau gitu aku pamit pulang.” Setelah mengatakan itu Anna langsung berdiri dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Ria yang masih terdiam.
Di parkiran, Anna langsung masuk ke dalam mobil. Sebelum Ria menyusul, Anna buru-buru pergi meninggalkan kafe.
***
Sekitar jam setengah Sembilan malam Anna baru sampai rumah. sepulangnya dari menemui Ria dia memang tak langsung pulang ke rumah. Anna memilih menenagkan diri di taman. Walaupun sempat hujan, Anna tetap tidak beranjak. Alhasil sekujur tubuhnya basah kuyup. Hari ini Anna sudah kacau, kacau yang sulit dideskripsikan.
Sebelum turun, Anna menatap mobil suaminya yang sudah terparkir. Tumben sekali jam segini dia sudah pulang. Biasanya paling cepat jam sebelas. Tanpa merapihkan penampilannya Anna turun dari mobil. Dengan langkah pasti dia masuk ke dalam rumah. Anna tidak melipir ke mana-mana, dia langsung naik ke lantai atas menuju kamar.
Setibanya di kamar, Anna langsung masuk. Dia mendengar kucuran air dari dalam kamar mandi. Bisa dipastikan kalau itu suaminya. Anna tidak menghiraukan. Dia memilih berjalan menuju lemari untuk mengambil baju tidur serta handuk. setelah itu Anna kembali keluar, turun ke lantai dasar. Malam ini Anna tidak akan tidur sekamar dengan Adam, Anna akan tidur di kamar tamu.
Di kamar tamu, Anna tidak langsung mandi. Wanita itu duduk di tepi ranjang sambil melamun. Jika biasanya wanita di luar sana akan meledak-ledak jika mengetahui suaminya selingkuh, berbeda dengan Anna. Dia tidak bisa meledak, tidak bisa melabrak. Karena jujur saja sampai detik ini dia masih syok.
“Maaf, kehadiran kamu harus dibarengin sama fakta yang menyakitkan. Tapi tenang aja, Ibu akan jaga kamu dengan baik. Makasih udah hadir di Rahim Ibu. Maaf juga semisal nanti kamu hadir ke dunia ngga didampingi ayah. Sampai detik ini, Ibu kuat karna ada dan ingat kamu,” ujar Anna dengan suara lirih. Tangannya dengan lembut mengusap perutnya. Anna menunduk, membiarkan air matanya menetas ke paha.
Cukup lama Anna menangis tanpa suara, sampai tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar di telinganya. Buru-buru Anna menghapus air matanya. Namun sial, air matanya terus mengalir. Bahkan semakin deras.
“Ngapain kamu di sini? Naik ke atas.”
“Aku mau tidur di sini, Mas. Kamu tidur aja di atas sendiri,” jawab Anna masih sambil menunduk.
“Pindah, An.”
“Aku ngga mau, Mas.”
“Anna!”
Mendengar bentakan Adam, Anna memejamkan matanya. Disisa-sisa tenaga dan kewarasan, Anna memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Adam. “Kamu belum cukup nyakitin aku, Mas? Apa ngga bisa kasih aku sedikit ruang buat bernafas?”
“Saya bilang pindah ya pindah, kamu dengar ngga?”
“Tapi jawab dulu pertanyaan aku.”
“Apa?”
“Besok, mau kamu atau aku yang urus perceraian kita?”
Adam menatap tajam istrinya. Pria itu masuk dengan langkah gontai. Dengan kasar dia menarik lengan Anna sampai wanita itu berdiri. Kini jarak keduanya sangatlah dekat, Adam bisa melihat mata istrinya yang sangat merah. Begitupun dengan napasnya yang memburu.
“Udah saya bilang, ngga akan ada perceraian diantara kita, Anna. Sampai kapanpun saya ngga akan ceraikan kamu. Paham?” Adam mencengkram lengan Anna hingga wanita itu meringis kesakitan.
Tanpa menunggu jawaban sang istri, Adam menarik Anna keluar dari kamar. Anna memberontak, namun usahanya sia-sia. Kini Adam berhasil membawa Anna masuk ke kamar mereka. Tanpa aba-aba, Adam mendorong tubuh ringkih Anna ke atas kasur. Melihat wajah suaminya yang tegang Anna menggelengkan kepalanya. Tidak boleh, ini tidak boleh terjadi.
“Saya mau kamu malam ini, Anna.”
***