Setelah melewati makan malam bersama yang terasa begitu lama bagi Naka, akhirnya mamanya Tian memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
"De, mama pulang yah!"
"Oh ya sudah ma, mau tian anterin?"
"Ga usah, nanti mama minta supir mama buat jemput kesini."
"Bareng naka ajah tante, sekalian naka juga mau pulang." tawar naka.
"Ga usah, kamu disini ajah dulu, supir tante juga udah on the way ko." tolak mama Tian.
"Ya sudah, aku anterin mama ke lobby bawah dulu yah ka, kamu tunggu sini ajah!" perintah tian yang dijawab dengan sekali anggukan oleh naka. Lalu naka menyodorkan tangannya ke mama Tian dan mencium punggung tangan kanan mamanya Tian, sambil berkata "Hati-hati yah tante di jalan."
Mamanya Tian sedikit kaget atas perlakuan naka, sopan juga nih anak batin mama Tian. "Iya, terima kasih, saya pulang duluan yah." sahut mama tian sambil melenggang keluar dan jalan menuju ke arah lift bersama Tian. Sesampainya di lift...
"Kamu masih sama dia de?" tanya mama Tian dan dijawab dengan sekali anggukan oleh Tian.
"Mama pikir kamu ga serius sama dia, mama pikir kalian hanya saling berbagi kehangatan!" sambung mama Tian.
"Mah, ga gitu, aku serius sama Naka, bahkan tian berencana mau meminang naka mah."
"Gimana ceritanya, kamu sama dia berbeda keyakinan tian, gimana kedepannya!"
"Tian berencana ikut Naka mah." jawab tian sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu gila Tian, mama ga pernah mengajarkan kamu sebagai anak durhaka, sebagai seorang pengkhianat. Sebagai umat Tuhan yang baik, semestinya kamu tidak mengambil keputusan ini Tian. Mama ga pernah mengajarkan kamu menduakan Tuhan mu tian!" diluar dugaan tian, mamanya ternyata sangat amat tidak menyetujui keputusan tian.
"Tapi mah,-"
"Ga ada tapi-tapian, mama ga suka, lebih baik kalian berpisah Tian, mama ga siap menerima Naka, mama juga ga siap kehilangan kamu. Ini sudah keputusan mutlak, kamu pilih dia atau mama yang sudah mengandung kamu selama 9 bulan, merawat kamu dari kecil sampai sekarang!"
"Mah..."
"Udah, Mama ga mau denger hal ini lagi, segera kamu akhiri hubungan kamu dengan dia, setelah itu ikut mama kembali ke Belanda, bantu mama mengurusi perusahaan mama."
"Ga mah, aku ga mau, ga bisa nerusin perusahaan mama, bukan passion ku mah, passion ku yah masak, aku mau tetep disini!" jawab tian.
"Ya kalau kamu mau tetep disini, kamu segera tinggalin naka, sudah mama mau pulang, pak udin sudah sampai tuh. Kamu baik-baik yah, kemungkinan mama balik ke Belanda lusa."
"Ya mah, nanti Tian anterin ke bandara, hati-hati yah mah." pamit Tian dan mencium pipi kanan dan kiri mamanya.
Setelah mamanya sudah pergi, tian masih direlung dengan kesedihan dan kebingungan, baru saja dia dan naka merasa kebahagiaan namun dalam sekejap, cita-cita mereka langsung hancur dan direnggut karena restu dan keyakinan. Tian yang sudah mantap akan menyebrang keyakinan menjadi ragu karena baginya mamanya adalah segalanya. Semua perintah dan keputusan mamanya bersifat mutlak dan Tian tidak pernah berani menolak semua perintah mamanya.
Disisi lain, tepatnya di dalam apartment Tian, Naka duduk gelisah di ruang tamu, sedih tentu karena gesture yang diperlihatkan oleh mama Tian sangat terlihat penolakkan. Sambil melihat cicin yang sudah terlanjur melingkar di jarinya, tanpa naka sadari, bulir-bulir air mata meluncur jatuh melintasi pipi mulusnya. Tiba-tiba bunyi password pintu terbuka terdengar, pasti Tian sudah kembali batin naka.
Tian langsung memeluk naka yang sedang duduk di sofa ruang tamunya dan menenggelamkan mukanya ke dalam ceruk leher naka.
"Sayang?" panggil naka sambil mengelus kepala tian dan merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Bisa kah kamu menginap malam ni ka, aku beneran butuh kamu." pinta tian yang masih memeluk erat naka.
"Ya sudah, nanti aku ijin mama ku dulu. Hmmm, kamu kenapa?" tanya naka sedikit ragu.
"Aku ajah nanti yang minta ijin ke mama kamu." seru tian.
"Hey, aku tanya kamu kenapa?"
"Aku ga kenapa-kenapa, pengen gini ajah sama kamu." sahut tian yang masih segan melepaskan pelukkannya, padahal Naka sudah merasa sesak.
"Ya sudah, kamu mandi dulu ajah yah, biar bisa langsung istirahat."
"Apa yank, biar bisa langsung enak-enak!" sahut tian sambil memperlihatkan senyum mesumnya.
"Yeuhhh, ga jelas kamu, udah sana mandi dulu, nanti aku siapin baju tidur kamu." perintah naka yang langsung dijawab sekali anggukan oleh Tian dan langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Tian biasanya tidur bertelanjang d**a dan hanya mengenakkan boxernya saja, tapi tidak untuk malam iniNaka langsung menyiapkan baju tidur Tian, yang terdiri dari kaos oblong putih dan boxer hitam. Tian keluar dari kamar mandi dengan handuk bertengger di bawah pinggang dan beberapa tetes air menetes dari rambutnya. Naka tergiur, tentu saja, siapa yang tidak tergiur jika kekasih hati berpenampilan sexy seperti itu, rasanya ingin mengintip bagian pinggang kebawah yang tertutup handuk.
"Sayang, ngecesss tuh!"
Reflek Naka langsung mengusap bibirnya, "Dih, ga juga!"
"Tapi kenapa kamu langsung ngusap bibir kamu, hahah."
"Ga tau, reflek, udah gantian aku mau mandi, tuh baju kamu udah di kasur." sambung naka dan langsung melangkah ke kamar mandi.
Seselesainya Naka mandi, Tian sudah tertidur dan masuk ke alam mimpi, Naka segera merebahkan badannya ke atas kasur tepat di samping Tian. Naka yang masih tidak bisa tidur, langsung memiringkan badanya menghadap Tian, memperhatikan wajah Tian sambil mengelus kepalanya selama 30 menit, mengecup pipi kanan dan kirinya, kemudian jidatnya dan sekilas bibirnya.
"Aku ga tau apa yang kamu pikirkan, masalah apa yang kamu hadapi, aku cuma mau kamu tau, apa pun yang terjadi antara kita berdua, aku akan tetap sayang dan cinta sama kamu, always sayang, always!" seru naka bermonolog ria dan mengakhirinya dengan kecupan dalam tepat di kening Tian.