7

1076 Kata
Berta dan Gayatri sejak tadi harap-harap cemas karena Bram belum juga datang. Perayaan ulang tahun perusahaan mereka kali ini benar-benar meriah, hampir setiap sudut ballroom hotel mewah yang ditempati untuk acara itu tumpah ruah dengan makanan dan tamu yang hadir. "Ibu, ini acara akan dimulai, yang pasti ibu harus membuka acara ini," ujar Berta sambil sesekali matanya menoleh ke arah pintu. "Acara tak akan aku mulai tanpa Bram, aku akan memberitahu semua rekan Bisnisku bahwa Bram yang akan menggantikan posisiku, dan akan aku kenalkan Laksmi sebagai pasangannya bukan wanita rendah itu." Suara Gayatri bercampur amarah dan amarahnya agak reda melihat wanita cantik yang baru saja datang. "Lihat Berta, alangkah anggunnya Laksmi, tubuh tinggi semampainya, rambut hitamnya yang tergerai, lihat langkahnya saat menuju ke sini, membuat orang-orang kagum kan? Gaunnya pun aku suka meski agak terbuka, ah dia lebih pantas menjadi seorang model dari pada dokter," ujar Gayatri yang mulai tersenyum saat Laksmi yang semakin dekat dan mereka saling peluk cium saat Laksmi telah berada di depan mereka. "Aku pikir terlambat, mana Bram,  Kak? Kok belum kelihatan?" tanya Laksmi mengedarkan pandangannya, gerakan tubuhnya sungguh menarik siapa saja yang menatapnya, hingga tanpa ia sadari matanya menangkap sosok Bram dan seorang wanita yang terlihat saling tarik. Wanita yang tak lain adalah Meli sejak awal sampai Meli merasa tak layak ia di sana, gaun yang ia pakai ternyata membuatnya tak nyaman. Baru kali ini Meli menggunakan gaun one shoulder dan ia merasa tak nyaman. "Itu kan Bram, mengapa ia tak masuk? Itu pasti istrinya kan Kak Berta?" tanya Laksmi yang baru kali ini melihat Meli meski dari jauh. Gayatri benar-benar menahan marah ia tak menyangka Meli berani hadir di acara ini, sejak awal berkali-kali mengatakan agar Meli jangan hadir di sini. "Berani sekali wanita itu datang ke sini Berta." Suara Gayatri terdengar menahan marah. "Tante harus santai, ingat hipertensi Tante," Laksmi menggenggam tangan Gayatri. "Ibu bilang beneran apa nggak?" tanya Berta tak yakin. "Aku sudah mendudukkan dia, dan dia mengangguk, bahkan mengatakan padaku jika dia memang tak ingin hadir, ternyata dia licik, sama seperti ibunya yang membayangi pernikahan kami sepanjang hayat suamiku." Suara Gayatri terasa saling menyusul dengan deru napasnya menahan marah. "Tante nggak ada yang salah jika hadir di sini kan? Dia istri Bram," ujar  Laksmi dan Gayatri menoleh menatap wanita yang sangat ia harapkan menjadi menantunya. "Tidak, tidak boleh dia ada di sini, hari ini akan aku umumkan jika kau calon istri Bram." "Tanteee jangaaan, Bram sudah punya istri," pekik Laksmi lirih. "Aku tak peduli." Dan Meli sudah berada di depan ketiga wanita yang sejak tadi ia lihat berbicara sambil melihat ke arahnya. Meliana merasa serba salah apalagi melihat tatapan tajam ibu mertuanya. "Untuk apa kau ke sini? Siapa yang mengundangmu ke sini?" Meli hendak menjawab namun dering ponselnya membuat ia segera menjawab panggilan yang ia tahu pasti dari adiknya. Ya ada apa Ibu Kaaaak ... Ibuuu Aku ke sana, tunggu ... "Mas aku akan ke rumah ibu, ibu semakin parah," Meli hanya pamit pada Bram dan bergegas melangkah, Bram yang hendak menyusul istrinya segera ditahan oleh Ibu dan Kakaknya. "Ingat ini ulang tahun perusahaan dan sekaligus ulang tahun Bapakmu, apa kau tega meninggalkan acara yang beberapa bulan kita siapkan dengan susah payah?" Bram hanya mampu memejamkan matanya, merasa dirinya sangat tak berguna sebagai suami bagi Meli. . . . Meli menatap wajah ibunya dari balik kaca ruang ICU, mau tak mau ibunya dilarikan ke rumah sakit karena kesadarannya terus semakin menurun sejak serangan stroke yang baru saja menyerang ibunya. "Kakak, gimana kalo ibu meninggal, aku gimana?" tangis Meti mulai terdengar. Meli memeluk adiknya mengusap punggungnya perlahan. "Ada kakak, kakak akan menemani kamu." . . . Saat acara telah selesai dan satu per satu tamu mulai meninggalkan ballroom hotel mewah itu Bram mendekati ibunya dengan wajah marah. "Apa yang Ibu lakukan? Mengapa memberi tahu pada semua yang hadir jika Laksmi calon istriku dan kami akan menikah dalam waktu dekat, takkan pernah aku menikah lagi dengan siapapun." "Mengapa tak kau teriakkan itu di depan para tamu tadi?" Gayatri menatap tak kalah marah tatapan mata anaknya yang ia rasakan semakin berani sejak menikah. "Tak mungkin aku membuat malu Ibu." "Bagus jika masih punya otak, jangan membuat ibu malu, ibu tak mau tahu, semua sudah ibu atur bulan depan kau menikah dengan Laksmi, di sini, di tempat yang megah ini, dengan ribuan undangan, semua sudah ibu siapkan, dan yang pasti wanita itu harus mau." "Tidak aku tak akan pernah menduakan Meli." "Undangan sudah jadi, semua sudah siap, aku melibatkan para petinggi perusahaan untuk menyiapkan pernikahan mewah ini, jadi jangan kau buat malu ibumu yang renta ini, yang mungkin tak kan lama hidup di dunia ini." Bram meninggalkan ibunya, Laksmi dan Berta, ia bergegas menuju tempat parkir hendak menyusul Meli yang entah saat ini ada di mana. Namun lengannya ditahan oleh Laksmi. "Mau ke mana?" "Mau ikut? Menengok ibu mertuaku dan menjemput istriku pulang." "Ah nggak Mas, aku jadi gak enak." Bram melanjutkan langkahnya tanpa peduli pada ibu dan kakaknya. . . . "Kak, itu kayak suami kakak, kok dia tahu ibu ada di ICU?" tanya Meti pada Meli yang masih memegang ponsel. "Dari tadi kami chat," sahur Meli dengan suara lelah. Saat suaminya ada di dekatnya ia peluk seerat mungkin. Bram balas memeluk Meli, ia merasakan bahu istrinya naik turun. "Aku ada di sini, di dekatmu, menangislah," bisik Bram sambil mengusap punggung Meli. "Dan sebentar lagi, aku harus berbagi usapan ini kan Mas, aku baca di berita online, jika ibumu mengumumkan bahwa Mas akan menikah dalam waktu dekat dengan dokter cantik itu, iya kan?" "Akan aku jelaskan nanti Dik, tidak di sini," bisik Bram pada istrinya, ia harus membuat perjanjian yang jelas dengan Laksmi, ia tak ingin menduakan Meli, kalaupun pernikahan harus terjadi ia takkan pernah tinggal serumah dengan Laksmi. . . . "Ada apa tiba-tiba datang ke tempat kerjaku tanpa memberi tahuku Bram?" tanya Laksmi, ia kaget karena Bram tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu dan duduk di depannya, diseberang mejanya. "Kita harus membuat kesepakatan Laksmi, kita tahu bahwa ini tak bisa kita hindari, Ibu membuat aku tak berdaya, dia sudah merencanakan pernikahan kita dengan budget yang tidak sedikit, melibatkan para petinggi perusahaan, mereka menyiapkan semua tanpa sepengetahuanku, jika aku menggagalkannya sama saja dengan mempermalukan ibu." "Aku mengerti, kamu kan ingin kita tak berhubungan layaknya suami istri, tidak tidur sekamar dan tidak saling sentuh kan?" "Yah, terima kasih kau mengerti." "Masalahnya ibumu ingin aku juga tinggal di rumah keluargamu." "APA? Dan Meli harus melihat kau setiap hari di rumah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN