"Apa aku harus berlutut agar kau mau menemui ibu dan menerima maaf dari Ibu secara langsung, aku khawatir Ibu hanya menunggu maafmu." Bram memelas dan memohon pada Meli, wajah datar Meli membuat Bram tak tahu harus berbuat apa lagi. "Tunggu di sini, aku mau pamit, jika bukan atas nama kemanusiaan aku takkan mau menemui ibumu." Meli bergegas masuk lalu tak lama keluar lagi. Mereka berjalan beriringan menuju mobil. . . . "Eh Mas Anton, akhirnya nyampe juga." Meti yang sudah menunggu sejak pagi akhirnya bertemu dengan sepupu kesayangannya. Anton mengelus kepala Meti dan masuk beriringan ke rumah peninggalan nenek mereka. Mengulurkan oleh-oleh, Meti tampak gembira berjalan di sisi Anton dan sibuk melihat isi goodybag yang diberikan sepupunya. "Tante, apa kabarnya? maaf saya baru sempat m

