Aku duduk di kursi ruang tamu sambil menatap perempuan cantik yang baru saja datang. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Samantha, mantan pacarnya Rev! Astaga! Hampir saja kepalaku sakit mendengarnya. Tapi anehnya, modar ku tidak bekerja meskipun aku tahu bahwa Samantha adalah seorang lesbian. Aku bahkan tidak merasa jijik apalagi mual melihatnya. Mataku sesekali melirik ke belakang, ke arah ruang santai dimana Rev meninggalkanku berdua bersama Sam. Ia izin untuk mandi terlebih dahulu dan memintaku untuk menemani mantan pacarnya sejenak. Sebenarnya aku tidak akan keberatan menemani Sam jika saja gadis itu tidak bertamu se-subuh ini dan mengganggu latihanku. Maksudku, aku baru saja berniat dengan hati sungguh-sungguh untuk belajar mengurangi phobia ku terhadap Rev hari ini. Namun belum saja

