Malam harinya sepulang menengok baby Valerio, Cellyn menjadi murung terus. Haidar tahu jika istrinya pasti tertekan sebab semua orang menyinggung soal kehamilan. "Cellyn, kamu tidak perlu banyak berpikir lagi. Buatlah dirimu bahagia, asalkan kamu bahagia aku sudah cukup dan tidak ingin menuntut apapun darimu," bujuk Haidar. "Kalau begitu hibur aku," jawab Cellyn dengan manjanya mengecup bibir Haidar. Tentu saja Haidar langsung tergoda oleh rayuan sang istri. "Tumben malam ini kamu berinisiatif duluan? Biasanya kamu selalu pura - pura mengelak," sindir Haidar. "Kalau tidak mau ya sudah, aku mau tidur dulu," balas Cellyn kesal. "Eh, jangan marah dong. Mana mungkin aku menolak," bujuk Haidar sambil membelai pinggang Cellyn dan menindihnya. "Habisnya kamu sok jaim sih," gerutu Cellyn.

