2. Nessi Alberta George

2411 Kata
Karena tidak ada pilihan lain, Felix terpaksa mengamankan gadis gilaa yang dia temui barusan ke kediaman orang tuanya. Felix tidak mungkin mengambil risiko meninggalkan gadis itu sendirian lagi, bisa saja dia kembali berniat melenyapkan diri dengan terjun bebas dari ketinggian jembatan. Benar-benar hampir membuat jantung Felix melompat dari tempatnya, bahkan rasanya kedua kaki sudah tidak terasa berpijak di aspal saking menegangkan kejadian tadi. Awalnya Felix pikir dia seorang wanita, ternyata gadis kecil yang pernah Felix temui sebelumnya. Ketika kemarin mereka bertemu dalam keadaan baik-baik saja, wajahnya penuh keceriaan, tidak dengan saat ini. Gadis itu terlihat berbeda dengan wajah pusat, tatap ketakutan, dan raut putus asa akan hilangnya tujuan hidup. Nessi Alberta George, gadis berambut panjang lurus berwarna kecokelatan itu sedang memejamkan mata dengan napas tidak beraturan. Dia memegangi permukaan dadaanya, bibir bergetar menahan suara tangis meski cairan bening itu berkali-kali menetes jatuh. Felix memijat pelipis, di ujung sana sudah terlihat kediaman orang tuanya. Apa kata mereka nanti jika Felix pulang membawa seorang gadis? Dalam kejauhan, Felix sudah dapat menduga bagaimana respons mereka. Siap-siap mengusap wajah menahan malu, siap-siap mengusap dadaa sabar. "Kita sudah sampai, turunlah." Nessi terdiam, perlahan kelopak mata dengan bulu lentik itu terbuka. "Di mana kita sekarang? Kamu tidak berniat menculikku 'kan?" Disela-sela kesedihannya, Nessi masih sempat meragukan kebaikan seorang Felix. Dia mengambil duduk di sisi paling ujung pada jok penumpang, merentangkan jarak sejauh mungkin. Nessi ingat bagaimana kejamnya Damian saat berkelahi di halaman villa bersama Dewa, mereka memainkan pistol untuk membunuh seseorang. Mengerikan, tidak punya hati! Felix melebarkan matanya, menopang dagu menatap Nessi yang was-was. "Kamu serius sedang mencurigai saya? Jika saya berniat jahat, sudah saya bantu kamu melenyapkan diri." Mencebikkan bibir. Apa wajahnya begitu menyeramkan hingga membuat Nessi takut? Cih, Felix sangat yakin dengan ketampanannya. Bingkai wajah Felix terlihat manis, tidak sekeras Tuannya--Damian, begitu kata para pengawal lain. "Lalu, di mana kita sekarang? Dan ya ... bagaimana dengan mobilku tadi? Kamu meninggalkannya di sana, kalau dibawa kabur orang gimana?" cecar Nessi masih memelas masam. Wajahnya penuh kesedihan, mendesah kecewa pada keadaan yang akhirnya tidak mendukung rencananya untuk bunuh diri. Andai tadi dia beneran terjun bebas, mungkin saat ini hidupnya sudah tenang. Felix tidak menjawab banyak. Pria itu memilih turun duluan, melangkah mengitari mobil. "Cepat turun, kita obati luka di kaki kamu." Kaki Nessi terluka, katanya tidak sengaja tergores kawat besi yang ada di jembatan tadi. Entah bagaimana persis ceritanya, Felix sudah menemukan keadaan kaki Nessi mengeluarkan darah. Nessi menurut, dia mengikuti langkahan Felix memasuki kediaman Gamya. Rumah berlantai satu ini memiliki gaya eropa modern, begitu indah di pandang mata. Sederhana saja, tapi terlihat nyaman dan menenangkan dengan banyak tanaman bunga di sekelilingnya. "Rumah siapa ini?" Belum sempat Felix menjawab, seorang wanita paruh baya menyapa hangat dan terlihat begitu senang. "Putraku, kapan kamu datang? Mami pikir akhir minggu ini kamu tidak pulang, soalnya ini sudah malam ... biasanya kamu akan tiba siang atau sore." Memeluk Felix begitu hangat, mengusap-usap punggung pria itu dengan sayang. Felix tersenyum, membalas perlakuan Maminya penuh cinta. "Aku tetap pulang, Mami." Lalu pandangan wanita bernama Viesa itu beralih pada sosok sicantik Nessi. Tatapan polosnya kembali menyendu, Nessi tidak pernah disambut dan mendapatkan pelukan hangat seperti itu. Meski dia begitu membutuhkannya, kedua orangtua nampak tidak peduli. Bahkan seandainya Nessi bunuh diri nanti, mereka tidak akan tahu jika para pemberitaan tidak mengumumkan di televisi atau surat kabar. Atau bisa juga salah seorang warga menghubungi orangtuanya untuk mengabarkan secara langsung. Orangtuanya paling bersedih sebentar saja, selanjutnya sudah sibuk bekerja lagi. Viesa tersenyum hangat, mengusap pipi Nessi pelan. "Cantik sekali. Inikah calon menantu Mami yang kamu maksud Felix?" tanyanya dengan senyuman merekah sempurna. Nessi membulatkan mata, begitu pun dengan Felix yang langsung menganga. Tidak ada kalimat yang keluar dari pria itu untuk menyangkal, dia hanya memijat pangkal hidung. "Siapa nama kamu, Sayang? Selamat datang di kediaman Gamya, Mami senang akhirnya kamu mau diajak ke sini bersama Felix." Membawa Nessi ke dalam pelukan, langsung menyayanginya. "Akhirnya diujung usia Mami, Felix memberikan kabar baik. Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Jangan terlalu lama mengulur waktu, tidak baik." Melihat Viesa begitu baik dan hangat sekali, Nessi akhirnya kehabisan kata-kata juga. Tidak mungkin dia berkata ini hanyalah kesalahpahaman, raut indah penuh bahagia itu akan menyendu muram. "Nessi, Tante." Membalas pelukan Viesa, mengusap punggung wanita tersebut. Nessi memejamkan matanya, debaran dadaa Viesa terasa bertaluan ringan, wanita itu penuh cinta kepada siapa pun. Dia adalah sosok ibu yang sangat baik, Nessi percaya itu. Viesa mengusap rambut Nessi, menggeleng tidak ingin dipanggil tante. "Panggil Mami saja, Sayang." Setelah itu Viesa berseru lebih keras penuh semangat memanggil suaminya. Viesa mengatakan pada Romy jika Nessi adalah calon istri Felix. Karena sejatinya mereka memang menginginkan sosok menantu, Romy sangat senang. Dia menyapa Nessi, mengajak gadis itu duduk dan meminta asisten rumah tangga membuatkan minuman dan menyajikan kue. "Nessi sudah berapa lama sama Felix, Nak? Jangan mau kalau diajak ngulur waktu, Felix biasanya tidak sadar jika dirinya sudah tua dan harus cepat menikah." Romy mengusap lengan Nessi. Gadis itu duduk di tengah-tengah antara orangtua Felix. Felix mendesah, mengusap wajahnya frustasi. "Mami, Papi ... udah dulu ngomongnya. Lihat kaki Nessi, dia tidak sengaja tergores kawat besi ketika di jembatan tadi. Sebaiknya kita obati dulu lukanya." Viesa menganga, dia langsung panik menyuruh Romy mengambilkan obat dan wadah berisi air bersih untuk mencegah adanya infeksi. Melihat Viesa dan Romy panik mengkhawatirkan dirinya, Nessi mengulas senyum. Dia hanya orang baru, tapi sudah begitu disayangi dan diterima dengan baik. "Mami, tenanglah. Ini sudah tidak sakit lagi, aku sudah terbiasa dengan luka." Mengusap lengan Viesa, menenangkan wanita itu. "Terbiasa?" Viesa menganga. "Bukan Felix kan yang membuat kamu luka-luka? Nanti biar Mami yang gantian menghajar dia kalau berani berbuat kasar sama wanita." "Mami, apa selama ini Mami pernah melihat aku bersikap tega sama wanita?" Felix mencebikkan bibir, tidak terima dituduh yang tidak-tidak. Viesa memutar bola matanya malas. "Kamu sering tega sama Mami." Menyipitkan matanya, lalu mendelik tidak senang. "Nessi, nanti kalau Felix macam-macam sama kamu ... hajar saja dia ya? Mami izinkan." Nessi terkekeh. "Tidak, Mami. Aku sedikit ceroboh orangnya, jadi sering mendapat luka begini." Felix bersandar pada kepala sofa, sebelah kaki dia angkat ke kaki yang lain sembari memerhatikan Viesa mengobati Nessi sambil mengobrol ringan. Sudah masuk dugaannya jika Viesa akan salah paham, tapi satu yang membuat Felix tidak menyangka ... Nessi tidak melakukan bantahan apa pun. Apa sekarang gadis gilaa itu sedang mengasihani nasibnya? Entah bagaimana, Nessi yang terlihat anak baik-baik ingin mengakhiri hidupnya. Apa yang terjadi padanya? Viesa menepuk lengan Felix yang sedang melamun sambil memerhatikan Nessi. Wanita itu mengulum senyum, mencubit gemas putranya. "Sejak kapan kamu mulai jatuh cinta huh? Mami sampai mengira dan takut sekali kamu tidak normal." Menaikkan bahu cuek, mengulum senyum. Felix memutar bola matanya malas. "Jangan terlalu jauh berpikiran buruk tentang aku, Mami. Ya sudah ... aku mau ke kamar dulu. Mau bersih-bersih sebelum makan malam bersama." Sebelum Felix beranjak, Viesa kembali menghentikannya. Menyentak kesal tangan Felix, pria itu melupakan satu hal. "Ajak Nessi ke kamar tamu yang ada di sebelah kamarmu." "Lah, kamar tamu yang ada di sebelah sana saja, Mami. Bahaya kalau sebelahan sama aku. Mami nggak takut aku mencabulii anak orang?" "Nggak pa-pa, biar cepat menikah bukan?" Felix menganga, dia langsung menarik tangan Nessi untuk menjauh dari Viesa. "Felix, jangan terlalu lama mandinya. Sebentar lagi makan malam di mulai." Romy baru saja dari halaman samping, terlihat pria itu sedang mengobrol dengan pembeli yang senang mengolesi beberapa tanaman bunga Viesa. Hanya mengacungkan jempol, Felix kemudian berlalu menuju kamarnya bersama Nessi. Gadis itu diam, mengikuti langkahannya tanpa membantah seperti di mobil tadi. Saat tiba di depan kamar tamu, Felix menatap Nessi beberapa saat. "Maafkan Mami saya. Kamu bersih-bersih dulu, nanti kita bicara lagi soal hal ini. Mungkin memang sedikit menimbulkan rasa tidak nyaman, Mami saya memang begitu." Nessi mengangguk pelan menanggapinya. Sebelum Felix berlalu, Nessi mencegahnya. "Aku tidak membawa baju ganti. Gimana mau mandi?" "Di dalam kamar ini banyak baju adik saya. Kamu pakai saja." Felix mengulas senyum tipis. "Kamu punya adik? Di mana dia, kali aja aku bisa menjadi temannya." "Sudah meninggal." Nessi membelalak, lalu menutup mulutnya rapat-rapat merasa bersalah. "Tidak masalah, masuklah." "Oke. Ngomong-ngomong ... terima kasih sudah menolongku tadi." "Huh, sekarang kamu menyesal melakukannya?" Nessi tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Felix mencebikkan bibir. "Makanya kalau mau melakukan sesuatu dipikirkan dulu baik-baik. Masalah kamu tidak akan selesai dengan cara bunuh diri. Jadilah dewasa dengan cara yang benar. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan kamu, jika memang benar-benar menyakitkan, cari teman untuk cerita. Hati kamu hanya kamu yang tau bagaimana menenangkannya, jangan biarkan orang lain menyakiti." Tidak tahu kenapa Felix berbicara sebanyak ini, dia hanya melihat jika Nessi memang sedang berada dalam fase terbawah. Ada sesuatu yang benar-benar menyakiti dirinya, maybe sumbernya memang dari orang-orang terdekat. "Jangan terlalu diambil hati semua masalah, kamu terlalu muda untuk menjadi gilaa." Menepuk-nepuk puncak kepala Nessi. Mendengar kalimat nyelekit Felix barusan membuat Nessi cemberut, dia menepis kasar tangan pria itu. "Cih, menyebalkan!" umpatnya kesal. "Kamu punya hutang ya sama aku, berkat aku kamu tidak lagi dicecar Mami sama Papi tentang calon istri." Felix mendorong kening Nessi. "Dasar tidak tahu diri. Harusnya saya yang bilang begitu pada kamu, kalau tidak saya yang menolong ... daging-daging kamu sudah dimakan oleh ikan buas di dalam lautan sana. Bagus kalau langsung mati, kalau Tuhan masih berkehendak kamu bertahan bagaimana? Saya yakin jika kamu selamat kemungkinan besar akan mengalami kecacatan." Bergidik ngeri, lalu tertawa tanpa dosa. Nessi mengangkat tangannya ingin memukul Felix, namun urung. Dia menarik napas, lalu menghembuskannya mencoba mengatur emosi. "Sudahlah. Berbicara sama kamu membuatku menjadi gadis bar-bar. Bye!" Masuk kamar, lalu menutup pintunya sedikit kasar. "Kurang ajar sekali anak itu!" **** Usai makan malam, Felix mengajak Nessi duduk santai di halaman belakang rumahnya. Ditemani secangkir teh, mengobrol ringan tentang kejadian bunuh diri tadi. Felix masih sedikit penasaran, isi kepalanya dipenuhi dengan banyak pertanyaan. "Kenapa mau bunuh diri sih? Heran saya sama orang yang memiliki pikiran seperti kamu, apa melenyapkan diri artinya semua masalah dan beban ikut menghilang?" Nessi menyeruput tehnya, menatap Felix beberapa saat dalam diam. "Mungkin kamu akan merasa bingung dan berpikir ini adalah pilihan paling gilaa, sebab kamu tidak berada di posisiku. Aku melihatnya, kamu memang sangat berbeda dengan aku." Felix mengerutkan kening. "Berbeda dari segi apa?" "Keluargaku tidak sehangat Mami dan Papi kamu, Felix. Apa jawaban ini sudah mampu menjawab semua pertanyaan di kepala kamu?" "Oh, kamu memiliki nasib yang sama seperti Nona Ratih? Sebab itu kamu menolong dia untuk bersembunyi di villa?" Felix sedikit senang dengan karakter Nessi. Meski baru bertemu lagi di hari ini, dia terlihat santai dan terbuka. Gadis ini sebenarnya mudah bercerita jika kita mau membuka diri dan bersedia mendengarkannya. Biasanya karakter seperti Nessi ini tidak memerlukan banyak nasihat, cukup dengarkan dan pahami kemauan isi hatinya. Nessi mengangkat bahu pelan. "Seperti itulah kiranya. Tapi sepertinya aku jauh lebih tidak beruntung." Terkekeh pelan, tatapannya benar-benar tidak bisa berbohong. Meski tawa terdengar, hati Nessi bergerimis. "Kamu tahu tidak jika semua keluarga memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing? Tidak ada keluarga yang benar-benar seperti surga. Kamu hanya tidak tahu, dan orang itu juga terlalu malas berbagi kesedihannya. Banyak orang senang menutupi kesedihan dengan tawa. Tidak ingin orang tahu dan merasa iba." "Aku dulu seperti itu. Tapi semakin aku beranjak dewasa, ternyata hati aku tidak sekuat itu. Perasaan aku hidup, dia juga mempunyai rasa lelah dan jengah. Dulu aku jarang menangis, selalu bersikap bodo amat. Tapi lama-lama, aku merasa aku sudah tidak kuat. Aku berada di posisi paling bawah sekarang, apa pun yang aku lakukan selalu terlihat salah." "Berarti kamu mulai melepaskan apa yang seharusnya kamu genggam. Kamu sadar tidak kalau cara kamu seperti tadi itu salah?" Nessi menatap Felix, mengangkat bahunya pelan. "Jangan biarkan orang lain menyakiti dan menghancurkan kamu. Ini hidup kamu, lakukan segala cara untuk membahagiakannya." "Sekarang aku emang selemah itu. Aku kehilangan sebagian diri aku, entah apa yang terjadi belakangan ini ... aku merasa kalau diri aku emang beda. Aku sering nangis, aku stress, aku menjadikan semua masalah yang sedang terjadi sebagai beban. Akhirnya kepala aku penuh, hati aku menjadi panas. Kamu tahu, saat keadaannya sudah seperti ini bunuh diri selalu menjadi pilihan teratas." Felix tertawa pelan. "Jangan bodoh ya." Mengusap puncak kepala Nessi. "Kita hidup, semua tidak melulu tentang bahagia. Ada banyak kesedihan yang datang, apalagi menuju proses pendewasaan diri. Semakin banyak kesedihan, kamu harusnya semakin kuat. Menjadi lemah itu pilihan, bukan takdir. Setiap orang bisa marah, bisa kecewa, bisa menangis, bisa tertawa ... ini semua adalah pilihan. Cerdas dalam mengelola pikiran dan isi hati sendiri." "Boleh saja menangis kalau hal itu benar-benar menyakiti. Boleh marah kalau hal itu benar-benar menjengkelkan. Boleh kecewa jika hal itu di luar harapan kita. Tapi jangan menyerah, hidup bukan sekadar ada kemudian menghilang. Tuhan hadirkan kamu ke dunia memiliki banyak alasan. Jangan sempit pemikirannya, segera benahi diri." Nessi terdiam, dia tahu dirinya salah. Kehabisan kata-kata, setiap ucapan Felix mampu menampar dan sedikit menyadarkannya. "Aku emang sebodoh itu. Aku hanya lelah." "Lelah, istirahat." "Aku sudah melakukannya." "Lalu?" "Masih belum tenang." "Maka dekatkan diri pada Tuhan. Kamu terlalu jauh melangkah meninggalkan-Nya, hilang arah dan hilang kontrol." Felix menyeruput tehnya. Menatap Nessi yang sedang menunduk sambil menggerakkan jari mengitari permukaan gelas. Gadis itu tengah berpikir keras, dia terlihat menyesal dengan kejadian tadi. "Sudah dulu mengobrolnya, kamu perlu istirahat yang banyak. Tenangkan diri kamu, banyak-banyak sirami diri dengan hal positif." Nessi mengangguk. Dia mengikuti langkah Felix menuju dapur. Matanya sedang berkaca-kaca, menatap Felix sekali lagi. "Terima kasih ya." Felix tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Tidak perlu dicuci gelasnya, nanti Bibi saja yang melakukannya. Kamu langsung tidur, besok pagi bangun dengan semangat yang baru." "Oke, aku duluan ke kamar. Kamu jangan begadang." Lalu melangkah lebar menuju kamarnya, meninggalkan Felix yang masih berada di dapur. "Kapan kalian akan menikah?" tanya Romy yang tiba-tiba berada di belakang Felix, membuat pria itu terlonjak kaget sampai mengusap dadaa. Felix mendesah. "Papi kayak hantuu saja. Datang tiba-tiba tanpa ada bunyi." Romy terkekeh. "Dia cantik ya?" Mengulum senyum. "Kalau ganteng tidak masuk akal jadinya." "Masih terlihat begitu muda. Kamu pintar juga mencari calon istri." "Sudah malam, tidak baik membicarakan hal sehoror ini. Aku duluan ke kamar. Selamat malam, Pi." **** Klepek-klepek sama sikap Felix. Hahaha ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN