PART : 6

933 Kata
Anggi segera mengganti seragam sekolahnya, dan kembali turun untuk makan siang. "Mama nggak makan?" tanya Anggi pada mamanya. "Udah. Tadi Papa pulang ngambil berkas kantor yang ketinggalan, ya sekalian aja makan siang bareng," jelas Rita masih tetap fokus pada majalah yang ia baca. "Oo ...." Anggi makan sendirian. Ditemani dering HP-nya saat pesan demi pesan ia terima dari Ivan. Tanpa sadar, hanya membaca sebuah pesan saja sudah membuatnya senyum-senyum gaje. "Fokus makan ... jangan main hp Mulu," omel mamanya yang sedang duduk di sofa, merasa terganggu akan deringan hp milik putrinya. Aneh memang, padahal cuma bunyi 'ting-tong' saja, mamanya malah mengomel. "Iya, Mama," jawabnya menggerutu. Tapi bukannya berhenti, ia hanya menonaktifkan nada notifikasi saja, kemudian lanjut chattingan. Tangan kanan memegang sendok, tangan kirinya memegang hp. Bahkan, karena saking fokusnya menatap layar hp, ia tak menyadari kalau Yoga sudah duduk di kursi sebelahnya. Ide jahil tiba-tiba muncul di otak cowok itu. Ia mengambil bubuk cabe dan menaruhnya dengan sengaja di sendok makan milik Anggi. "Ya ampun ... chat-an sama kamu aja bisa bikin hatiku meleleh," gumam Anggi senyum-senyum sambil memasukkan sesendok makanan ke mulutnya. Awalnya ekspressinya biasa saja, hingga rasa nikmat itu berubah jadi rasa pedas. "Hhaah ...." Ia kepedasan. Saking pedasnya, berasa asap keluar dari lobang telinga, hidung dan mulutnya. Satu gelas penuh air sudah ia guyurkan ke tenggorokannya, tapi seolah tak menyurutkan rasa itu. Melihat wajah Anggi yang nyaris merah padam menahan pedas sekaligus panas, si pelaku kejahilan malah tertawa. "Yoga!!!!" kesalnya berteriak. "Anggi! Makan yang benar ... ini malah teriak-teriak nggak jelas!" Mamanya tiba-tiba datang menghampiri, langsung dengan Omelan panas. Mulutnya berasa panas, telinganya berdengung, ditambah suara ocehan mamanya. Lengkap sudah. "Pedas, Ma," rengeknya sambil mengibas-ngibaskan tangan ke arah mulutnya. "Makanya, kalau lagi makan, jangan main hp. Saking konsennya main hp, kamu nggak sadar sudah makan bubuk cabe." "Tuh, dengerin omongan orang tua," tambah Yoga yang berada di sebelahnya. "Ish ... apaan, sih. Jangan-jangan kamu lagi biang keroknya," tuduh Anggi pada Yoga. Rita yang saat itu ada di sana, melihat kelakuan putrinya yang bicara sendiri, tentu saja merasa bingung. "Eh, ngomong sama siapa kamu?" "Sama Yo ..." Anggi menghentikan perkataannya. "Ah, sudahlah. Toh, aku katakan pun Mama nggak akan paham dan mengerti," terangnya sambil meneguk segelas penuh jus jeruk hingga gelasnya kering. Dengan tampang kesal dan tanpa menyelesaikan makannya, ia segera beranjak dari meja makan menuju kamar. "Yoga!!" Baru saja kakinya masuk kamar, ia kembali berteriak kesal bercampur kaget saat si pemilik nama muncul begitu saja dihadapannya. Dengan sengaja, Anggi langsung saja mendorong Yoga hingga tubuh cowok itu berakhir di tempat tidur. Salahnya, sih, harusnya ia mendorong ke anak tangga, biar hantu itu lenyap sekalian. Tapi ini malah mendorongnya ke tempat yang nyaman. "Apaan, sih, Nggi?" "Kamu masih nanya apaan? Pasti kamu kan, yang ngerjain aku barusan. Kamu kan, yang narok bubuk cabe dimakananku barusan!?" Anggi mengomeli Yoga dengan semangat menggebu-gebu. Perasaan takutnya pada Yoga yang nyatanya dia adalah hantu, hilang begitu saja. "Oke ... oke, aku minta maaf," ucapnya. "Ya ... aku yang sengaja mengerjaimu," ungkapnya mengakui. Kesal, Anggi langsung menyambar dan memukuli Yoga dengan bantal guling. Mendapat serangan seperti itu, apalagi dengan emosi Anggi yang sepertinya sedang berada di ubun-ubun, melarikan diri adalah hal yang tepat. "Yoga! Jangan kabur!!!" Ia merasa gregetan. Ingin rasanya mencakar cowok itu saking kesalnya. Karena capek, sekaligus lelah mengeluarkan tenaga dan suaranya untuk menyerang Yoga, ia sampai ketiduran. "Anggi ... bangun! Ini udah jam 6 sore dan kamu masih mau tidur!" Rita sampai menggedor-gedor pintu kamar putrinya, karena sudah dibangunkan secara baik-baik, panggilannya tak digubris sama sekali. Ingin rasanya mendobrak, tapi otomatis pintunya akan rusak. Itu berarti duit keluar lagi. Jadi, tak ia lakukan. "Apa, sih, Mama?" Ia menggeliat mendengar suara heboh di pintu kamarnya, seperti sedang terjadi perang dunia. Dengan langkah gontai dan malas, Anggi berjalan menuju pintu. "Ma, bisa nggak, sih, jangan pake teriakan saat ngebangun aku?" Sebelum mamanya mulai mengoceh, ada baiknya ia mulai ocehan terlebih dahulu. "Jangan pake teriakan kamu bilang. Ya ampun, Anggi ... Mama udah teriak-teriak dari tadi, kamu baru bangun sekarang. Kapan kamu bangunnya kalau gitu." "Oo ... gitu," balasnya simple. "Cepetan mandi!" "Iya," jawabnya kembali melengos masuk kamar. Berniat kembali menghempaskan badannya di kasur, tapi mamanya keburu memperingatkan. "Jangan tidur lagi!" "Iya, Mama ... iya," sungutnya. Ia segera mengalihkan niatnya yang ingin kembali tidur, berjalan menuju arah kamar mandi. Begitulah, hobby cerewet mamanya kalau kambuh. Di saat enak-enaknya berendam, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi. "Siapa?" herannya. Nggak mungkin mamanya, karena beliau akan lebih memilih untuk berteriak memanggil namanya daripada mengetuk pintu. Tapi, siapa? "Aku." Oke. Tanpa melihat wajah tu orang, eh, maksudnya makhluk, ia sudah tahu pasti siapa dia. "Boleh masuk?" 'Prankk' Bukannya menjawab, Anggi langsung menyambar sebuah ember dan melemparnya dengan sengaja ke arah pintu. "Apa itu jawabannya berarti, boleh?" "Yoga! Jangan mulai lagi cari masalah denganku!" Teriaknya kesal dalam posisi masih berada dalam bathup. "Kenapa harus melempar ember? Bukankah menjawab dengan kata boleh atau tidak, tak akan menambah jumlah jerawat yang ada di bokongmu," balas Yoga dibalik pintu. Anggi terdiam sesaat mencerna perkataan Yoga. "Jerawat di b****g?" pikirnya sambil meraba bokongnya, memastikan perkataan Yoga. "Dasar bodoh. Aku hanya menebak, dan kamu malah benar-benar memeriksa bokongmu," ujar Yoga. Bola mata Anggi langsung melotot. Bagaimana bisa Yoga tahu kalau dirinya memang sedang memeriksa ke TKP. Untuk kedua kalinya dalam hari ini, cowok bernama Yoga dengan statusnya sebagai hantu, sudah mencari masalah dengannya. Ia tak tahan! Ia menyambar handuk yang ada di gantungan. Emosinya 10% lagi sudah mau mencapai ubun-ubun. Ia lilitkan handuk di badannya, menutupi bagian d**a hingga lututnya dan segera membuka pintu dengan memasang wajah marah. "Woahh ...," gumam Yoga menyaksikan penampakan itu. 'Pletakk' "Awww ...," ringisnya sambil memegangi kepala. Tanpa ia sadari ternyata Anggi keluar membawa senjata pamungkas. Bahkan ia tak mengetahui itu. Sebuah gayung langsung mendarat di kepalanya tanpa memberikannya waktu untuk kabur. "Bisa nggak, sih, kamu nggak gangguin aku terus?" "Enggak." "Kenapa?" "Karena aku menyukaimu. Terutama ..." Ia mendekat ke arah Anggi. "Bibirmu yang manis ini," sambungnya sambil hendak mencium bibir Anggi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN