PART : 2

1232 Kata
Saat ini Anggi masih berada di balik selimut tebalnya, hingga suara seseorang tiba-tiba mengganggu tidur nyenyaknya. Siapa lagi kalau bukan mamanya yang sudah sibuk menggedor-gedor pintu kamarnya. "Iya, Ma. Bentar," teriaknya bangun dari tidur dan berjalan mengarah ke pintu dengan langkah gontai. Tapi ia bersyukur, saat membuka mata bukan hantu sialan itu lagi yang ia lihat. "Apa sih, Ma? Ini masih pagi dan mama sudah sibuk menggedor-gedor pintu kamarku," ocehnya sambil berdiri, bersandar dengan wajah mengantuk di depan pintu. "Kamu masih mau lanjut Sekolah di sini, atau ke asrama?" "Hah?" Ia kaget. "Tinggal pilih. Mau masuk asrama atau enggak?" tanya mamanya lagi. Anggi yang matanya masih separo melekpun, langsung melek seutuhnya. Apa ia tak salah dengar. "Maksud Mama?" "Papa bilang, kalau kamu mau Sekolah di sini, oke, nggak apa-apa. Tapi kalau kamu masih berminat untuk lanjut ke asrama, boleh banget,'' jelasnya. ''Eh eh, enggaklah, Ma. Aku mau tetap di sini. Nggak mau masuk asrama," balasnya. "Yakin?" "Iya." Mendapat jawaban dari putrinya, ia segera ingin berlalu pergi dari sana, tapi Anggi menahannya. "Ma, aku mulai Sekolah lagi kapan?" "Nanti, biar kamu istirahat dulu." Anggi memperhatikan keadaannya sekeliling. Siapa tahu ada hantu itu lagi. "Hari ini aku mulai Sekolah ya, Ma. Plissss ...." Mohonnya. "Masih sakit loh." "Udah enggak," bantahnya tetap ngeyel. "Ya udah, kalau kamu benar nggak apa-apa. Sana, mandi dan siap-siap," suruh mamanya. "Kyaaaa!!!!!" Anggi langsung berteriak histeris dan berlari ke dalam kamarnya. Saking bahagianya ia tak memperdulikan kalau ini masih pagi, dan akan membangunkan warga satu kompleks. Ia segera mandi. Setelah itu, kembali mengenakan seragam sekolah yang sangat ia cintai itu. Saat bercermin sambil menyisir rambutnya, tiba-tiba ia berteriak histeris sambil menutupi wajahnya dengan tangan. Gimana nggak kaget, ia melihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya saat bercermin. Tapi, saat ia lihat langsung ke belakangnya, tak ada siapa-siapa. Ia langsung bangkit dari duduknya, menyambar tas sekolah yang ada di meja, dan segera kabur dengan sedikit berlari menuju lantai bawah, masih dengan tampang kagetnya. "Kamu kenapa?" tanya Rita melihat ekspressi Anggi yang datang dengan wajah ketakutan. "Ada hantu di kamarku, Ma," jawabnya. Entah jawabannya lucu, hingga kedua orang tuanya malah tertawa mendengarnya. "Tu kan, pasti nggak ada yang percaya padaku," dengusnya. "Ya kamu, sih. Pagi-pagi udah ngomongin hantu," balas papanya. Anggi segera melahap nasi goreng buatan Bibik yang pagi ini berasa sangat enak. Mau makan banyak-banyak, takut gendut. "Hari ini berangkat sama Papa, ya," ujar Adrian. "Beliin mobil baru ya, Pa. Mobil aku kan udah hancur," ucapnya sambil cengengesan. "Kalau kamu masih mau sekolah di sini, maka nggak ada yang namanya mobil baru. Paham?!" Anggi mengangguk tanda setuju. Okelah, daripada ia harus memasuki kawasan asrama. Tentu saja hidupnya akan berasa seperti di penjara. Ia sekolah diantar oleh papanya yang di supiri oleh Pak Amir. Sekalian, beliau juga akan kembali mengurus surat kalau Anggi tak jadi pindah sekolah. "Nanti pulang sekolah, Pak Amir yang akan menjemput kamu," pesan Adrian pada putrinya. "Kan bisa dianterin sama Ismi atau Erika, Pa," balasnya. "Tidak. Pokoknya, Pak Amir yang akan menjemput kamu. Kamu pikir Papa bisa dibodohi lagi. Nanti malah kamu keluyuran dulu, baru pulang." Papanya tahu saja isi otak anaknya ini. Tentu saja, soalnya beliau sudah berpengalaman ditipu oleh Anggi. Mulai sekarang sepertinya tak akan sebebas hari-hari sebelumnya. "Euh, iya iya, terserah Papa saja," balas Anggi sambil mencium punggung tangan papanya dan berlalu menuju kelasnya yang terletak paling ujung. Awalnya, Anggi berencana ingin mengagetkan Ismi dan Erika yang duduk di sebuah kursi sambil main ponsel di tangan mereka masing-masing. Tapi, ia malah kaget duluan saat melihat sosok yang beberapa hari mengganggu hidupnya, sedang berdiri di belakang mereka. Ia segera berlari menghampiri keduanya, dan dengan sigap langsung menarik paksa mereka menjauh dari sana. Tanpa dikagetkanpun, sepertinya baik Ismi maupun Erika sudah pasti kaget. "Anggi ... lo apaan, sih?" kesal Erika. "Gue cuman punya satu tangan kiri dan lo nyaris bikin copot," tambah Ismi mendengus kesal sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah. "Sorry guys. Soalnya gue lihat itu sosok ada dibelakang kalian," jelas Anggi masih dengan nafas ngos-ngosannya, padahal ia tak habis berlari. "Sosok apa, sih?" "Hantu," jawabnya sedikit berbisik. "Hwaaa...!!!" Erika dan Ismi langsung nemplok ke badan Anggi kayak cicak di dinding. "Nggi ... kan udah gue bilang, jangan nyebut itu lagi. Lihat saja, itu dia bakalan sering nongol disini," terang Erika. "Tadi aja gue belum nyebutin, dia udah nongol. Ya ampun, hidup gue," ucap Anggi merutuki Jadilah, karena takut, mereka yang tadinya berencana mau temu kangen dulu, eh malah temu kangen sama hantu. Di jam pertama adalah pelajaran sama Bu Arni. Salah satu Guru ter-galak di sekolah, dan mengajar mata pelajaran matematika. Saat sedang asik belajar dan mendengarkan pengarahan Bu Arni, tiba-tiba Anggi langsung berteriak histeris karena si hantu muncul di depannya begitu saja. Saking dekatnya ia berasa mau pingsan. "Anggita!!!'' teriakan Bu Arni. Ia yang tadinya ketakutan oleh munculnya si hantu, tapi saat ini teriakannya itu terhenti karena suara Bu Arni. Itu berarti suara Guru yang satu ini lebih menakutkan. "Maaf, Bu. Soalnya hantu itu tiba-tiba muncul di depan saya," jelasnya. Mendapat penjelasan seperti itu, seisi kelas malah langsung tertawa. "Sana, ke kamar mandi. Cuci muka kamu yang mengantuk itu. Sampai-sampai kamu membawa mimpi aneh kedunia nyata," omel Bu Arni. Anggi pun keluar, tapi tentu saja bukan untuk mencuci muka. Karena ia tak mengantuk seperti yang dituduhkan oleh Bu Arni. Ia berjalan menuju ke kantin sekolah untuk minum. Tenggorokannya berasa sangat kering karena berteriak barusan. Ia memesan segelas jus jeruk, dan meneguknya hingga tetes terakhir. Setelah itu, segera ia kembali ke kelas. Saat sampai di kelas, Bu Arni sudah keluar karena jam pelajaran dengan beliau sudah berakhir. "Anggi, lo kenapa sih tadi?" tanya Ismi pada Anggi yang baru menghentakkan bokongnya di kursi. "Jangan bilang kalau lo habis ngeliat ..." "Sstt ..." Anggi menempelkan telunjuknya di antara kedua bibirnya. "Jangan disebutin," larangnya saat Erika ingin mengatakan sesuatu. "Gue nggak mau, dia muncul lagi. Bisa-bisa gue bakalan jantungan," terang Anggi. "Apa wajahnya sangat menakutkan?" tanya Ismi penasaran. "Matanya berdarah-darah?" tambah Erika. "Mukanya hancur?" "Kepalanya bisa terbang?" "Atau, wajahnya datar, alias nggak punya wajah?" "Semua yg kalian sebutin nggak ada yang bener," balas Anggi. Mungkin yang mereka sebutkan semuanya adalah jenis-jenis hantu yang berkeliaran di televisi. "Maksud lo?" "Hantunya cowok, dan ganteng," ujar Anggi. "Terima kasih, pujiannya," bisik sebuah suara di telinga Anggi, hingga membuat bulu kuduknya langsung meremang. Melihat reaksi Anggi yang seperti sedang kaget, tentu saja membuat Ismi dan Erika saling pandang. Mereka memikirkan hal yang sama. "Jangan bilang kalau dia muncul lagi," ucap Erika. "Sepertinya," balas Anggi. "Hantu, jangan ngusilin Anggi terus dong. Kan kasihan," ucap Ismi dengan tingkah polosnya. Entah dengan siapa dia lagi bicara. Hingga jam sekolah berakhir, Anggi merasa tak tenang. Ia merasa ada yang mengikutinya, dan ada yang sedang memperhatikannya. Seperti pesan papanya tadi pagi, ia pulang sekolah di jemput oleh Pak Amir, supir keluarganya. "Pak Amir. Ngeliat seseorang yang ngikutin aku nggak?" "Iya, Non,'' jawab beliau. "Wah, jadi Bapak bisa lihat?" Ia sampai mendongakkan kepalanya mengarah pada Pak Amir yang sedang mengemudi. Berharap, ada yang bisa memecahkan masalah gilanya ini. "Ya bisalah, Non. Masa saya nggak bisa liat bayangannya Non Anggi," jawab Pak Amir sambil tertawa. "Ih, garing tau nggak," dengus Anggi langsung kembali duduk. Saat sampai di rumah, ternyata kedua orang tuanya tak ada di rumah. Ia langsung menuju kamar, untuk istirahat. Baru saja hendak menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Tiba-tiba pintu kamar yang tadinya terbuka, tertutup dengan sendirinya. Tentu saja ia merasa takut. Ya, takut kalau si hantu muncul lagi. Hendak kabur keluar kamar. Tapi tiba-tiba ia merasa seolah ada yang mendorongnya dengan kuat, hingga ia terhempas ke kasur. Ia merasa, kedua tangannya di tahan oleh seseorang, hingga ia tak bisa berbuat apa-apa. "Lepasin aku!!" teriaknya. "Bukankah kamu yang menginginkanku ada di sini," ucap seseorang yang tiba-tiba langsung muncul tepat dihadapannya. Tidak, bukan hanya itu, tapi menindihnya. Anggi langsung kaget, shock, takut, pokoknya semua yang menakutkan ia rasakan. Bagaimana bisa, seseorang tiba-tiba ada di depannya. Ilmu apa yang dia pakai? Ini benar-benar mustahil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN