Chapter 7

1797 Kata
Keesokan harinya, Dheera tersentak dari tidurnya. Dheera bangun dalam keadaan dipeluk oleh Ken dari belakang. Dheera melepaskan tangan besar Ken dari perutnya dan membalikkan badannya menatap Ken. “Pada akhirnya gue nyerah juga. Semoga setelah ini lo gak ninggalin gua Ken,” Batin Dheera dengan wajah murung. Setelah cukup lama menatap Ken yang tidur dengan tenang, Dheera mendudukkan dirinya sambil menyandarkan dirinya di headboard tempat tidur karna merasa sakit pada bagian sensitifnya. “Aww,” desis Dheera cukup kuat untuk di dengar oleh Ken yang masih tidur dengan tenang. Ken membuka matanya dan menoleh pada Dheera sambil mengucek matanya dan duduk menyandar di headboard tempat tidur. “Kenapa lo?” Tanya Ken. Dheera menatap Ken dengan wajah murung. Ken menaikkan alisnya seakan menanyakan kenapa pada Dheera, mengapa wajah gadis itu semakin terlihat aneh saat dirinya bertanya. “Sakit,” adu Dheera dengan muka yang seperti ingin menangis. Ken menghela nafas panjang panjang, dia sangat tau apa yang membuat Dheera merintih sakit dan menatapnya dengan wajah ingin menangis. “Mau kemana lo?” tanya Ken sambil menatap Dheera datar. “Mau mandi, badan Dheera tuh lengket rasanya.” ujar Dheera masih dengan nada manja. Ken berdiri dari duduknya dan menggendong Dheera ke kamar mandi. “Bisa mandi sendiri?” tanya Ken sambil menatap Dheera. Dheera hanya diam menimbang apa dia bisa bergerak leluasa mandi di bawah shower dan tentunya dia sangat takut dengan Ken yang akan kembali berbuat hal aneh padanya. “Ngebath up aja ya?” Perintah Ken dengan nada bertanya. Dheera hanya mengangguk kecil, Ken langsung mendudukkan Dheera di bathub dan pergi keluar untuk memberi Dheera waktu untuk mandi dan membersihkan diri. === == = Setelah mandi, Dheera duduk di tempat tidur sembari menatap ponselnya. Dheera mencari tahu kemungkinan terjadinya kehamilan pada saat pertama berhubungan badan dan sebagainya. Namun panggilan alam memanggilnya, perut Dheera berbunyi ingin di beri makan oleh si pemilik perut. “Ken.” Panggil Dheera sembari menoleh pada Ken yang sibuk menatap iPad-nya. Ken bergumam pelan tanpa menatap Dheera. “Mau keluar lah.” Ujar Dheera pelan namun cukup terdengar oleh Dheera. “Tinggal keluar kalau mau keluar," ujar Ken masih fokus pada iPad-nya. “Gak ada yang nahan lo di dalam kamar kan?” sambung Ken dengan nada dingin. Dheera mengendus kesal mendengar pertanyaan menyebalkan Ken. “Emang gak ada, tapi masih sakit ini.” Ujar Dheera. “Gue gak mau gendong lagi.” sahut Ken seakan mengerti maksud kata sakit dari Dheera. “Kok gitu?!” pekik Dheera pelan. “Kalau gue gendong, nanti diliat sama anak-anak.” Ujar Ken masih tanpa menoleh pada Dheera. Dheera hanya diam, kesal dengan apa yang barusan dilakukan Ken pada dirinya. Merasa Ken benar-benar serius tidak mau menggendongnya ke ruang makan seperti dia menggendong dirinya ke kamar mandi sebelumnya, Dheera memilih untuk berdiri dan keluar dari kamar. Di ruang makan, teman-temannya sudah berada di meja makan. Beberapa diantaranya sudah mulai makan. “Baru bangun Dhee?” tanya Dean yang menyadari kehadiran Dheera di meja makan. Dheera bergumam pelan dan menganggukkan kepalanya singkat. “Mau sarapan apa Dhee?” tanya Clara sembari menatap Dheera. “Roti aja deh," jawab Dheera sambil menggapai roti yang tak jauh dari dirinya duduk. Tak lama dari Dheera keluar dari kamar, Ken juga menyusul keluar dari kamar. Kakinya melangkah menuju meja makan di tempat semua temannya sedang berkumpul. “Ken.” Panggil Arga meski orang yang dipanggil belum sampai di meja makan. Ken bergumam pelan saat dirinya tiba di meja makan lalu menatap Arga yang memanggilnya. “Nanti temenin gue ya.” Ujar Arga membuat kesepakatan dengan Ken. “Kemana?” “Yang gua bilang kemarin.” “Hmm, oke. Yang lain pada kemana nanti?” tanya Ken dengan mata yang melirik Dheera. “Mau ngopi katanya, nanti selesai itu kita nyusul mereka setelah selesai,” ujar Arga yang menyadari arah mata Ken. Ken hanya menganggukkan kepalanya mengerti. === == = Selama Ken dan Arga pergi, Dheera dan yang lain pergi nongkrong di sebuah caffe yang tidak jauh dari pantai. “Hmm, Clara. Arga sama Ken gak ikut kan?” tanya Dheera memastikan keamanan dirinya hari ini. “Nyusul nanti, katanya ada urusan.” jawab Clara. “Ooh, gitu.” Ujar Dheera mengangguk kecil. Sudah lebih dari satu jam mereka duduk di Caffe untuk menunggu kedatangan Ken dan Arga namun kedua orang tersebut tidak kunjung datang. Karna tak kunjung datang, Dheera memilih untuk pergi menikmati pemandangan Pantai lebih dekat lagi. Namun di sela dirinya yang sedang duduk di tepi pantai sambil memandang pemandangan pantai, suara dingin yang sangat dikenalnya menginterupsi. “Heeh!” Dheera menoleh cepat pada orang tersebut dan tersenyum tipis. Entah lah, entah untuk apa senyumnya itu. Hanya untuk kesopanan atau untuk harapan jika pria itu tidak meninggalkan dirinya setelah apa yang terlah diberikannya tadi malam pada pria tersebut. “Lo gak punya celana lain?” tanya Ken sambil menunjuk celana hitam pendek yang di kenakan Dheera. “Haaa?” “Ngapain pakai celana kayak gitu?” tanya Ken lagi. Dheera menundukkan kepalanya menatap celana yang ditunjuk Ken. Menurutnya celana pendeknya itu terhitung cukup normal, ada banyak orang yang memakai celana yang jauh lebih pendek dari dirinya. “Euum, punya tapi yang lain kotor.” ujar Dheera memberi alasan pada Ken. “Alasan terus!” Dheera memajukan bibirnya seperti bebek. Detik ini Dheera menyadari jika tanpa adanya Ken di sekitarnya ternyata cukup tenang. “Dari mana?” tanya Dheera penasaran. “Kenapa?” tanya Ken dengan sebelah alis terangkat. “Ihh jawab dulu, jangan nanya balik," ujar Dheera manja. “Nemenin Arga," jawab Ken. “Ngapain?” “Banyak tanya lo! Ayok balik!” ajak Ken tanpa menjawab pertanyaan Dheera. “Nanti.” “Sekarang Dheera,” tegas Ken. “Bentar lagi Ken.” tawar Dheera. Ken menatap Dheera dengan tatapan kesal karena wanita itu terus menyela ucapannya dari tadi. Jika diingatnya, wanita itu bahkan tak berani mengajak bicara sebelumnya. “Sekarang Dheera!” tegas Ken. “Kenapa cepat banget pulangnya?” tanya Dheera masih enggan mengikuti ucapan Ken untuk kembali ke villa secepat itu. “Risih gue liat lo pakai celana kayak gitu!” ujar Ken dengan nada kesal. Dheera kembali memanyunkan bibirnya. “Buruan Dheera!” perintah Ken. “Ken, nanti dulu pulangnya,” ujar Dheera dengan nada manja dan senyum yang manis pada Ken. “Gak ngaruh!” “Ihhh.” Kesal Dheera sambil berdiri dari duduk nya. Ken berjalan meninggalkan Dheera yang baru saja berdiri dengan wajah cemberutnya. Mau tak mau Dheera mengikuti pria dingin itu. “Huh! Udah balik lagi galaknya. Kemarin aja ngomongnya lembut,” kesal Dheera dengan bibir yang manyun layaknya bebek. === == = Keesokan harinya mereka udah kembali pada kehidupan masing masing. Yang berkerja sudah kembali berkerja dan yang kuliah sudah kembali kuliah, begitu juga Ken dan Dheera. Keduanya sudah kembali dengan rutinitas mereka masing-masing. Seperti saat ini Ken sudah berada di depan gedung apartemen Dheera dan Clara. Ken muncul dengan wajah yang mengantuk saat Dheera masuk ke dalam mobil Ken. “Kok mukanya gitu?” tanya Dheera saat melihat wajah Ken. Ken hanya diam tak menjawab pertanyaan Dheera. “Ken.” Panggil Dheera. Ken bergumam pelan. “Kenapa mukanya gitu?” tanya Dheera lagi. “Ngantuk!” ujar Ken tanpa menoleh pada Dheera. “Kan Dheera udah bilang gak usah," ujar Dheera dengan nada merasa bersalah karna Ken datang menjemputnya dengan wajah yang mengantuk. Ken hanya diam, dia terlalu malas menanggapi Dheera dengan rasa tidak enaknya. “Dheera itu bisa pergi kuliah sendiri,” sambung Dheera lagi. Dheera adalah mahasiswa S2, dia harus mengejar gelar setinggi-tingginya untuk sesuatu yang harus dia dapatkan nantinya. Ken menoleh pada Dheera. “Bisa diem gak?” tanya Ken dengan wajah kesal. “Ni orang maunya apa sih? Padahal udah baik buat pergi sendiri dan gak nyusahin buat diantar jemput,” kesal Dheera dalam hati. “Keluar jam 11.50 kan?” tanya Ken saat sudah mendekati tempat kuliah Dheera. Dheera hanya diam, niat hati ingin membalas perlakuan Ken sebelumnya. “Dheera.” “Iyaa.” "Iya apa?" "Iya jam 11:50 pulangnya," jawab Dheera. “Tunggu di sini, nanti pulang gua jemput.” Ujar Ken. “Iya," ujar Dheera pasrah sembari menganggukkan kepalanya. === == = “Pulang sama siapa Dhee?” tanya Clara yang mengetahui jika Dheera tidak membawa mobil seperti biasanya. “Tumben gak mau bareng kita,” ujar Bella ingin mengetahui dengan siapa Dheera pulang setelah Dheera menolak ajakan pulang keduanya. “Iya soalnya ada tempat yang mau di singgahi," ujar Dheera mencari alasan. “Jujur gak ya? Kalau jujur nanti di marahin gak ya?” tanya Dheera pada dirinya dalam hati. “Ya udah hati-hati pulangnya,” ujar Clara sambil mengelus rambut Dheera. Dheera hanya tersenyum tipis, tak lama setelah Clara dan Bella pergi Dheera berjalan ke arah mobil Ken adan masuk ke dalam mobil tersebut. Ken menoleh dan memperhatikan Dheera dari luar dan setelah masuk ke mobilnya. “Lo emang candu Dhee," batin Ken. “Mau kemana?” tanya Ken dengan mata yang masih menatap Dheera. “Pulang ke Apart aja,” ujar Dheera sambil membalas tatapan Ken. Ken menganggukkan kepalanya dan menjalankan mobilnya ke tempat yang telah disepakatinya dengan Dheera. “Tanya gak ya maksud dia apa?” batin Dheera sambil curi-curi pandang pada Ken. “Mikir apa?” tanya Ken yang tau jika wanita di sampingnya itu telah mencuri pandang pada dirinya banyak kali sejak tadi. “Haa?” “Mikirin apa?” “Gak ada,” ujar Dheera sambil tersenyum. “Gak usah bohong!” “Gak ada Ken,” ujar Dheera dengan nada manja. Ken hanya diam tak menjawab lagi. Tak lama Ken kembali buka suara. “Lo udah makan?” tanya Ken. “Hm.” “Gua lapar, makan dulu ya,” ujar Ken sambil memarkirkan mobilnya di sebuah caffe. Di caffe, keduanya duduk di tempat yang cukup sepi ketimbang kursi yang lain. “Makan apa?” tanya Ken sembari melihat menu. “Samain aja pesannya.” Ujar Dheera tak mau ambil pusing tentang makanan apa yang akan dimakannya. Setelah mesen makan keduanya saling diam dan sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. “Pacar juga bukan, terus ngapain dia ngantar jemput? Pakai ngajak makan lagi, padahal kan Dheera bisa balik sendiri," ujar Dhera dalam hati sambil menatap Ken dengan pandangan lurus Ken mengelus dahi Dheera lembut membuat Dheera tersentak kaget. “Gak usah dipikirin,” ujar Ken seakan dia tau apa yang menjadi pemikiran Dheera saat ini. “Gimana gak dipikirin coba,” Kesal Bianca dalam hati. Ken mengecup singkat kening Dheera yang masih terus berkerut seiring pemikirannya tentang keadaan mereka berdua. “Kok?" kaget Dheera atas kecupan di keningnya. “Dibilangin gak usah dipikirin juga!” cerca Ken menatap Dheera. “Ihhh,” Kesal Dheera saat Ken kembali seenaknya pada dirinya. Ken hanya diam tak perduli atas kekesalan wanita yang ada di depannya itu. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN