Chapter 3

2311 Kata
Satu minggu berlalu sejak perundingan singkat tentang mengapa Dheera berubah menjadi aneh secara tiba-tiba, hari ini Clara dan Bella kembali memaksa Dheera untuk ikut ngumpul bersama mereka dan teman-temannya yang lain. Meski dengan rasa terpaksa akhirnya Dheera mengiyakan untuk ikut. Saat ini Dheera sudah berada di bar milik Arga. Sedari tadi Dheera hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Dheera hanya mendongakkan kepalanya jika seseorang yang berada di table itu mengajaknya berbicara. “Gaes,” panggil Bella tiba-tiba membuat Dheera mau tak mau mendongakkan kepalanya guna menatap Bella. “Liburan yok, gua bosan banget.” Ajak Bella yang cukup mendapatkan atensi besar dari teman-temannya. “Kemana?” tanya Darel sambil menatap Bella. “Kemana aja yang penting liburan.” Ujar Bella yang benar-benar terlihat sangat ini untuk pergi berlibur. “Pantai?” tanya Clara menawarkan salah satu destinasi yang cocok untuk agenda staycation menghilangkan rasa bosan dari kehidupan normal mereka. “Kapan?” tanya Arga yang setuju dengan tawaran Clara. “Besok aja langsung?” ujar Dean asal. Bella menganggukkan kepalanya setuju akan anjuran asal Dean. "Tapi harus ikut semua,” ujar Bella sambil menatap teman-temannya secara bergantian. “Gue bawa cewek bolehlah kan?” tanya Dean berbasa-basi. “Bawa aja, biar lo gak ngiri mulu sama gua!” ujar Bella yang langsung diangguki oleh Darel. “Dheera? Ken? Harus ikut ya!” ujar Bella sambil menatap kedua orang tersebut bergantian. Dheera hanya diam tak menjawab, dia tidak tau harus menjawab apa. Seperti biasa Dheera ingin mengiyakan ajakan itu tapi dia tidak ingin pergi, tapi dia juga sangat tidak enak untuk menolaknya. Berbanding terbaik dengan Dheera yang masih bingung, Ken bergumam sambil menganggukkan kepalanya. “Lo ikut kan Dhee?” tanya Bella lagi. Dheera diam sejenak sambil menatap Clara meminta bantuan untuk menjawab tidak, namun sayangnya Clara tidak menangkap sinyal dari Dheera. Clara mengiyakan Dheera untuk ikut dengan mereka. “Dheera ikut kok.” Ujar Clara yang langsung di hadiahi tatapan tajam dari Dheera. “Karna semua udah oke, besok kita pergi besok ya. Nanti gua cari Villa yang bagus buat kita.” Ujar Bella yang mendapat anggukan dari yang lain kecuali Dheera yang menghela nafas pasrah. === == = Keesokan harinya Dheera dan teman-temannya yang lain sudah berada di Villa yang di pilih oleh Bella. Villa tersebut cukup bagus dan luas, selain memiliki fasilitas yang oke pemandangan villa itu juga tak kalah bagus. Sangat cocok untuk menjadi tempat menghilangkan kejenuhan dari kesibukan hidup normal mereka. Kini Dheera dan ketujuh orang lainnya sedang duduk di ruang tengah hendak berunding tentang pembagian kamar. “Gaes, di villa ini ada 4 kamar.” ujar Clara membuka percakapan. “Gua sama Darel.” Ujar Bella cepat. “Gua sama cewek gua," ujar Dean tak mau kalah dengan Bella. “Gua sama Clara.” timpal Arga yang ikut-ikutan dalam pemilihan singkat itu. Mendengar suara Arga, Dheera langsung menoleh pada Arga dan Clara bergantian. Pasalnya Dheera berharap Clara yang menjadi teman sekamarnya, dia tidak mau jika harus sekamar dengan orang asing lainnya. “Kalian gak papa sekamar?” tanya Clara sambil menatap Dheera dan Ken bergantian. “What the f**k! Sekamar?” tanya Dheera dalam hati. “Kamar yang satu nya double bed kok.” Ujar Clara mencoba menenangkan pikiran negatif Dheera tentang sekamar dengan Ken. Dheera diam, bukan tidak tau menjawab apa. Tapi Dheera sengaja tidak mau menjawab, karena Dheera berfikir dengan begitu Clara akan menjadi teman sekamarnya. Namun sayang, harapan itu harus pupus karna Ken menjawab jika dia tidak masalah dengan pembagian kamar yang sangat aneh itu. “Gua gak masalah." ujar Ken membuat Dheera langsung membelalakkan matanya. “Dhee?” tanya Clara menanyakan persetujuan Dheera. “Sorry Dhee, gua gak mau sekamar sama Ken.” Ujar Arga karna Dheera tak juga menjawab pertanyaan Dheera. “Ya udah gak papa,” ujar Dheera pasrah. “Bener Dhee?” tanya Clara yang kaget karna persetujuan Dheera. Dheera hanya tersenyum tipis pada Clara sebagai jawabannya. “Semoga dia gak berbuat yang aneh-aneh.” Batin Dheera berharap. “Kalau dia macam-macam bilang ke gua Dhee.” Ujar Dean berlagak sebagai pahlawan untuk Dheera. Dheera hanya mengangguk kecil, sedangkan yang lain memutar matanya jengah akan tingkah Dean yang ingin menjadi pahlawan kesiangan. === == = Hari sudah malam, jam dinding menunjukkan pukul 19:30, saat ini Dheera sedang duduk di tempat tidur sembari menyandar di headboard tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya. “Lo gak keluar?” tanya Ken yang berada di tempat tidur miliknya yang berada tepat di sebelah kiri Dheera. “Ngapain keluar?” tanya Dheera dengan wajah bingung. “Anak-anak lagi pada berenang.” ujar Ken menjelaskan dengan nada malas. “Enggak deh.” Ujar Dheera yang terlihat sangat tidak tertarik untuk bergabung dengan manusia aneh yang menjadi teman-temannya itu. Ken menaikkan alisnya seakan bertanya mengapa Dheera tak mau bergabung dengan Clara dan teman-temannya. Seakan mengerti hal itu Dheera menghela nafas dan menatap Ken. “Malas aja, lagi pengen di tempat tidur.” Ujar Dheera. Mendengar hal itu, Ken tidak mengambil pusing tentang Dheera yang tidak mau bergabung dengan teman-temannya yang lain. Ken memilih untuk masuk ke kamar mandi. Sejurus dengan perginya Ken, Dheera kembali mengambil ponselnya dan berselancar di dalam sosial media. Sudah hampir satu jam Ken berada di dalam kamar mandi, sudah satu jam Dheera berkutat dengan benda persegi panjangnya itu. Semuanya sangat normal sampai Ken muncul entah dari mana tepat disebelah Dheera. “Ngeliat apa lo?” tanya Ken sembari berbisik ditelinga Dheera. Dheera terperanjat kaget mendengar suara dingin Ken tepat di depan telinganya, bukan hanya karna suaranya. Deru nafas Ken berhembus mengenai kulit Dheera membuatnya kegelian. Tak selesai sampai di situ, Dheera semakin dibuat kaget saat menoleh ke samping pada Ken, jarak muka mereka sangat dekat. Sampai Dheera bisa merasakan nafas Ken menerpa kulit wajahnya. Dheera diam membatu beberapa saat dengan mata yang tak berhenti berkedip berkali-kali mencoba untuk membawa tubuhnya kembali pada kewarasannya. Berbeda dengan Dheera yang seperti mendapat goncangan secara lahir dan batin saat bertatapan sangat dekat dengan Ken, Ken malah menikmati menatap wajah Dheera dari jarak yang dekat. Ken memperhatikan bibir Dheera yang masih diidamkannya. “Ihh Ken," pekik Dheera saat kesadarannya telah kembali sepenuhnya dan melihat Ken shirtless dengan badan kotak-kotak yang cukup menggoda. “Apa?!” “Kenapa gak pakai baju!” tanya Dheera dengan mata tertutup. “Namanya juga habis mandi," jawab Ken enteng. “Ya kenapa gak pakai baju dulu di kamar mandi baru keluar?” tanya Dheera lagi masih dengan mata tertutup. “Malas." “Pakai baju dulu sana!” perintah Dheera. Ken bergumam pelan. Selang beberapa waktu, Dheera kembali bertanya Ken sudah memakai baju atau belum dengan mata yang masih tertutup dengan tangan mungilnya. Ken lagi-lagi hanya bergumam. Dan Dheera kembali memekik keras saat melihat Ken masih degan kondisi yang sama dengan sebelumnya. “Keenan! Pakai bajunya!” pekik Dheera seraya merengek. “Berisik lo!” kesal Ken. Dheera yang tak tahan berada sekamar dengan Ken yang sedang shirtless pun keluar sambil marah-marah dalam hati. “Eh Dhee kenapa mukanya kayak kesel gitu?” tanya Dean saat melihat Dheera yang keluar dengan wajah cemberut. “Temen kalian tuh!” kesal Dheera sambil duduk di kursi di dekat teman-temannya. ”Ken?” tanya Arga memastikan pelakunya. “Siapa lagi!” kesal Dheera dengan wajah yang sangat kesal. “Kenapa emangnya dia?” tanya Arga lagi. Dheera menatap teman-temannya dengan wajah yang berharap dikasihani dan Clara menjadi teman sekamarnya seperti yang diharapkannya sebelumnya. “Masa dia gak pakai baju di depan Dheera.” Ujar Dheera dengan wajah melas. Bella yang sedari tadi mendengarkan Dheera tertawa, begitu juga dengan yang lain. Dheera semakin kesal karna hal tersebut. “Kok pada ketawa sih?” kesal Dheera. “Itu Ken pekai baju.” ujar Arga sambil menunjuk Ken yang berdiri tepat di belakang Dheera. Dheera menoleh ke belakang di mana ada Ken yang berdiri di sana. Dheera menatap tajam Ken yang kini sudah memakai baju tidak seperti saat dia pergi dari kamar. “Kenapa pada ngeliatin gue?” tanya ken dengan wajah bingung. “Dheera bilang lo gak pakai baju di depan dia.” Ujar Arga menjelaskan pada Ken. Ken menoleh pada Dheera dengan alis yang terangkat sebelah terlihat sangat mengejek Dheera. “Iiihhh!” Kesal Dheera lalu pergi kembali ke kamarnya sambil menghentak kakinya. Dheera benar-benar ingin menunjukkan kekesalannya. Setelah Dheera pergi dari tempatnya, semua yang berada di tempat itu menertawakan tingkah Dheera yang sangat tidak sesuai dengan umurnya namun sangat menggemaskan. === == = Hari sudah menunjukkan pukul 2 malam, setelah kembali ke kamarnya dengan tingkah yang menggemaskan, Dheera terus mengomel dan tertidur. Karna tidur lebih awal sebelumnya membuat Dheera terbangun. Dheera duduk di tempat tidurnya sambil bersandar di headboard tempat tidur dan memperhatikan tempat tidur Ken yang kosong dan terlihat sangat rapi. “Eehh kok masih rapi?” tanya Dheera. “Belum tidur ya dia?” tanya Dheera lagi pada dirinya. Dheera terlalu malas untuk memikirkan tentang apa yang terjadi pada Ken karna hal menyebalkan yang dialaminya tadi. Dheera bangun dari duduknya dan beranjak pergi ke luar untuk mengambil segelas air minum. Di ruang tamu, Dheera menatap kaget Ken yang tertidur meringkuk tanpa memakai selimut ataupun bantal. Ken hanya menggunakan tangannya sebagai bantalan kepalanya. “Loh dia tidur di sini?” tanya Dheera pelan. Dheera berjalan mendekat pada Ken. Dheera diam untuk beberapa saat sambil menimbang apakah dia akan membiarkan atau membangunkan Ken. “Ken.” Panggil Dheera sembari menepuk pundak Ken pelan. Ken masih tidur tidak terganggu sama sekali dengan panggilan lembut yang keluar dari bibir Dheera. “Ken,” panggil Dheera sekali lagi sembari menggoyangkan badan Ken. “Apaan?” tanya Ken tanpa membuka matanya. “Kok tidur di sini?” tanya Dheera masih dengan nada lembut. Ken tidak menggubris lagi ucapan Dheera, namun atas dasar sifat bebal yang dimilikinya. Dheera kembali bersuara dan meminta Ken untuk tidur di kamarnya. “Jangan tidur di sini, nanti badannya sakit. Tidur ke kamar sana," ujar Dheera. Ken kembali diam dan tidak menggubris Dheera. “Ken.” panggil Dheera tak putus asa. Ken membuka matanya, duduk dengan perasaan kesal sambil menatap tajam wanita yang sudah mengganggu ketenangannya itu. “Sumpah lo ganggu banget!” kesal Ken. Dheera diam sambil memanyunkan bibirnya. “Ya udah kalau gak mau, maaf udah ganggu.” Ujar Dheera pelan, lalu berdiri hendak pergi dari hadapan Ken. Ken menarik tangan Dheera sampai membuat wanita itu terjatuh di pahanya. Dheera yang terkejut atas perlakuan tiba-tiba Ken diam sambil mengedipkan matanya berkali-kali. “Untung Dheera tuh gak punya penyakit jantung! Coba kalau punya, pasti udah serangan jantung! Udah dibawa pakai ambulan ke rumah sakit!" batin Dheera. Ken mengabaikan raut kaget yang ada pada wajah Dheera, Ken bahkan melingkarkan tangan besarnya di pinggang ramping Dheera. “Wai, apa-apaan ini?” tanya Dheera dalam hati dengan mata yang terbelalak lebar. Ken menyandarkan kepalanya di d**a Dheera sambil memejamkan matanya. Mendapat perlakuan seperti itu bukannya memberontak, Dheera malah mematung diam seribu bahasa. “Kayak gini aja baru bisa diam itu mulut.” Batin Ken. “Nafas!” perintah Ken saat menyadari Dheera yang sudah menahan nafas entah sejak kapan. Dheera masih diam dan mengabaikan perintah yang diberikan oleh Ken. Melihat hal tersebut, Ken mendongak dan menatap Dheera degan tatapan tajam. Merasa intimidasi yang cukup kuat dari tatapan Ken, Dheera menghela nafas panjang. “Udah kenapa lagi ni orang?" tanya Dheera dalam hati saat memergoki Ken yang menatap dirinya lamat-lamat. “Lama-lama lo berat juga ya," ujar Ken tanpa memutus pandangannya dari Dheera. Dheera yang kesal saat dikatakan berat pun kesal dan mencoba untuk berdiri. Namun bukankah semua wanita begitu? Akan marah dan ngambek jika seseorang membahas tentang berat badannya. Melihat Dheera yang sudah ancang-ancang akan berdiri, Ken menahannya. “Sebentar aja.” Ujarnya sambil menatap manik mata Dheera. “Apanya?” tanya Dheera dengan wajah kesal. “Kayak gini,” ujar Ken sambil kembali memeluk Dheera yang berada di pangkuannya. “Kenapa?” tanya Dheera. “Karna ini nyaman.” Jawab Ken dalam hati. “Katanya tadi berat!” ujar Dheera mengungkit perihal berat yang sempat di singgung oleh Ken sebelumnya. “Gak usah ribut! Nanti anak-anak pada bangun!” ujar Ken tak ingin mendengar Dheera membahas ucapannya. “Tapi lepasin, mau ambil minum.” Ujar Dheera sambil mencoba melepaskan diri dari Ken. “Diam atau gue cium?” ancam Ken membuat Dheera merengek kesal pada Ken. Ken hanya berdecak melihat garis di pangkuannya yang diam saat diancam. Ken menatap Dheera dan menatap bibir Dheera lama lalu menatap matanya. Dheera hanya diam, karna tak ada yang bisa dilakukannya selain itu. Ken meneguk saliva-nya. Ken menarik tengkuk Dheera mendekat dengannya dan mencium bibir Dheera yang sudah diinginkannya lagi sejak lama. Dheera masih diam saat Ken mulai menerobos masuk untuk mengabsen tiap inci giginya. Seakan kehilangan akal sehatnya, Dheera kembali membalas ciuman Ken. Keduanya saling menikmati setiap rasa yang diberikan, saling menggigit dan mencecap satu sama lain. Ciuman panas diantara keduanya terus berlanjut sampai Ken melepaskan ciumannya karna khawatir Dheera akan kehabisan oksigen. Ken memberikan kecupan kecil sebelum akhirnya benar-benar mengakhiri ciuman mereka. “Bisa kita lanjutin di kamar?” tanya Ken dengan nada suara berat. Dheera menatap Ken meminta penjelasan akan pertanyaannya barusan. Tanpa membuang-buang waktu Ken langsung berdiri sambil menggendong Dheera. Dheera hanya diam, tak tau harus bereaksi bagaimana saat Ken merebahkan dirinya di tempat tidur dan menindih tubuhnya. Dheera menatap Ken dengan wajah yang bingung. “Dia mau ngapain?” batin Dheera yang terlalu polos. Ken kembali meraup bibir Dheera, meski bingung Dheera mulai menikmati ciuman keempat yang di berikan Ken untuknya. Setelah cukup lama Ken melepaskan ciumannya pada bibir Dheera dan beralih pada leher mulus Dheera. Dheera masih bingung dengan apa yang dilakukan Ken padanya, ini pertama kalinya dia diposisi seperti ini. Ken menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan yang berada di sisi tubuh Dheera dan menatap Dheera dengan mata yang berkabut. “Lo mau coba sama gue gak?” tanya Ken sambil menatap Dheera dengan tatapan berkabut penuh nafsu. Bersambung..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN