Pagi tadi saya mendapatkan hasil pemeriksaan intensif yang dilakukan oleh Ahli Syaraf—dr. Hugh Hamilton, yang menyatakan bahwa kejutan listrik tersebut mengakibatkan otak kanan Wayne bekerja berlebihan, sehingga membuatnya mengalami halusinasi tinggi, atau disebut dengan Skizofrenia Paranoid stadium empat, yang mengharuskannya dirawat di dalam Rumah Sakit Jiwa. Sedangkan Mark mengalami Skizofrenia Paranoid stadium dua, yang tidak harus dirawat intensif. Walaupun demikian, Skizofrenia Paranoid stadium dua sudah cukup membuat Mark mengalami halusinasi berlebihan.
Skizofrenia yang dialami kedua sahabat saya inilah yang acap kali membuat keduanya tidak bisa membedakan antara halusinasi dengan kenyataan, sehingga seringkali keduanya berbicara jauh dari kebenaran, seperti penjelasan mereka baru-baru ini mengenai keterlibatan U. F. O. dalam kejadian tersebut. Itulah kejadian sebenarnya di Saint Andrews, dan dampaknya pada kedua sahabat saya.
Untuk mengakhiri artikel ini, saya menghimbau kepada para pembaca agar berhenti berspekulasi, dan jangan resah karena kejadian Saint Andrews. Lanjutkanlah kehidupan Anda seperti hari-hari biasa, dan saya memohon doa untuk kesembuhan kedua sahabat jenius saya.
Anne melipat koran di tangannya. Mark, batinnya, kemudian mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Hai Mike, apa kabar? Aku senang mendengarnya … well, aku masih berkutat pada masalah yang sama, bahkan semakin buruk … ok, bisakah kamu menggantikanku sementara? Aku ingin menemui teman lama yang mungkin bisa membantuku … tentu boleh, kakakmu seorang dokter berpengalaman, jadi bisa membantumu di sini … aku berangkat setelah kamu tiba di Rio ... sampai bertemu, Sayang."
Anne sudah membulatkan tekad. Walaupun harus menemui seseorang yang paling dihindari, sekecil apa pun peluangnya, sebesar apa pun resikonya, ia harus mencobanya.
Siang hari itu di dalam Lounge Britain High Hotel-Manchester, Jesse terlihat cantik dengan penampilan natural. Namun dari wajahnya, tersirat rasa letih dan jenuh.
Saat itu seolah menjadi siang terpanjang dalam hidupnya. Sudah berjam-jam ia menunggu, tapi orang yang ingin ditemui tak jua muncul. Tepat di saat ia putuskan untuk meninggalkan tempat itu, mendadak terdengar seruan seseorang dari kejauhan.
"Maaf kami terlambat beberapa jam, Jes!" kata seorang pria buncit, yang berjalan menghampiri dengan napas terengah-engah.
Di sebelahnya tampak seorang perempuan berkulit pucat, yang mengenakan jaket kulit berwarna putih, dan celana jeans sobek-sobek. Ia berambut pendek, yang sebagian berwarna merah, dan sebagian pirang. Wajahnya yang bulat, membingkai sepasang mata lebar, hidung mungil dengan anting yang menggantung pada cuping hidung sebelah kiri, dan bibir seksi dengan lipstik berwarna merah terang.
"Tidak apa-apa, Henry," jawab Jesse tersenyum, berupaya menutupi kekesalannya. "Well, apa kabar Diorra?" tanya Jesse, pada perempuan di samping Henry.
Alih-alih menjawab, Diorra justru membuang muka, seraya memanggil Pelayan.
"Ada yang bisa saya bantu, Miss. Diorra?" tanya seorang Pelayan dengan ramah kepada Diorra.
"Aku pesan sebotol Red Label," tukas Diorra.
Henry terlihat jengkel dengan sikap Diorra, namun ia berupaya menahannya.
"Ada pesanan lain?" tanya Pelayan pada Jesse dan Henry.
"Jus jeruk, satu," pesan Jesse.
"Sir?"
“Tidak, aku tidak memesan. Terima kasih,” jawab Henry dengan senyum dipaksakan.
Setelah pesanan datang, Diorra langsung menenggak minumannya, kemudian menatap Jesse. "Apa yang mau kamu tanyakan, Jane?" tanya Diorra, seraya membakar rokok di mulutnya.
Jesse pun tersenyum. "Jesse."
"Ok Jessica. Waktuku sempit, langsung saja ajukan pertanyaanmu."
Jesse tidak terkejut dengan perubahan sikap Diorra dibandingkan lima tahun lalu. Berbagai media sering memberitakan sikap Diorra yang urakan, selama tiga tahun terakhir.
"Baiklah. Diorra, bagaimana perasaanmu ketika mendapatkan Platinum atas penjualan album yang lalu?"
"Biasa saja," jawab Diorra singkat, sambil menuangkan minuman ke dalam gelasnya.
"Bisa jelaskan apa yang berbeda dari albummu terbaru dengan album yang lalu?"
"Lebih banyak unsur Elektro."
Henry menggelengkan kepala, melihat sikap Diorra yang semakin keterlaluan. Menangkap hal itu, Jesse pun memberi sinyal bahwa ia tidak merasa terganggu dengan sikap Diorra.
"Dari semua lagu dalam album ini, lagu apa yang paling kamu sukai?"
"Summer Night," jawab Diorra masih dengan nada enggan.
"Apa alasanmu menyukainya?"
"Tidak ada alasan. Suka saja, hanya itu."
Meskipun sudah mengetahui sikap Diorra sebelum wawancara ini, tetap saja ia merasa kesal ketika menghadapinya. Kalau bukan demi pekerjaannya, mungkin ia sudah pergi meninggalkan Diorra. Karenanya, ia pun berusaha bersikap profesional, dan melanjutkan wawancara.
"Lagu Fragile Love saat ini sering diputar di berbagai media elektronik, dan menduduki peringkat pertama dalam top chart. Lirik dalam lagu itu mengisahkan tentang seorang sahabat laki-laki yang akhirnya menjadi kekasihmu. Apakah kamu terinspirasi dari pengalaman pribadi dalam menulisnya?"
"Yeah, tapi sedikit berbeda."
"Berbeda?" tanya Jesse, berusaha mengorek lebih jauh.
"Dalam kehidupan nyata, sahabat itu adalah seorang perempuan," jawab Diorra.
"Tolong jangan kamu tulis bagian tadi Jes," sergah Henry, tiba-tiba.
"Tulis saja, Nona Jurnalis. Tidak ada yang salah dengan itu."
Mendengar kata-kata Diorra, Henry membuang muka.
Jesse melihat suasana semakin tidak nyaman, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melompati beberapa pertanyaan yang sudah disiapkan, dan langsung mengajukan pertanyaan terakhir "Sekarang pertanyaan terakhir, Diorra. Apa harapanmu dari tur enam negara yang sedang kamu lakukan sekarang?"
"Aku berharap tur dan wawancara yang membosankan ini segera berakhir. Baguslah tadi pertanyaanmu yang terakhir." Sesudah berkata demikian, Diorra berdiri, lantas meninggalkan Jesse, dan Henry yang saling bertukar pandang.
Henry mencondongkan badannya, lalu berkata lirih "Jesse, aku minta maaf atas sikapnya," ucapnya, dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa, Henry," jawab Jesse tersenyum. "Tapi kalau aku boleh tahu apa yang membuatnya berubah? Tenang saja, aku tidak akan menulisnya dalam artikelku. Aku hanya penasaran," ucap Jesse.
Henry menghela napas, kemudian berkata lebih lirih dari sebelumnya, "Ia mengalami masa-masa sulit. ketika harus menghadapi kematian anaknya, dan ditinggalkan Aaron karena wanita lain. Lalu ia pun harus menjalani rehabilitasi karena mengonsumsi obat-obatan terlarang. Kehidupan Hollywood benar-benar gila, semua bisa berubah dalam sekejap mata. Terguncang oleh kepalsuan Hollywood, itulah yang terjadi pada Diorra."
Penjelasan Henry membenarkan desas-desus mengenai Diorra. Menjadi seorang artis memang tidak mudah. Ketenaran, dan gelimang harta tidak menjamin kebahagiaan. Sebaliknya, apabila tak sanggup menjalaninya, maka hanya luka yang akan didapatkan.
"Jes, aku mohon agar kamu menulis hal-hal yang baik tentang Diorra. Yah, mungkin jawaban Diorra bisa kamu perbaiki pada beberapa bagian. Kamu tahu, nasibku akan buruk kalau karier Diorra terpuruk," pinta Henry.
"Jangan kawatir, aku tidak akan menulis sesuatu yang buruk mengenai Diorra," tukas Jesse, sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Henry, terima kasih telah meluangkan waktu. Sampaikan salamku pada Diorra."
"Sama-sama Jes," timpal Henry, seraya menyalami Jesse, yang segera berlalu meninggalkannya.
Bersambung