9

1012 Kata
"Coba kamu teruskan videonya. Aku akan menjelaskan, setelah seluruh video telah selesai kita saksikan," kata Anne menjelaskan sekaligus meminta Jesse meneruskan video tersebut. Walaupun tidak mengerti, Jesse mengikuti permintaan Anne. Baru saja video itu diputar, tiba-tiba Anne berkata kembali, "Ulangi … maju sedikit … ok stop." Berulang kali Anne meminta hal yang sama pada Jesse pada bagian video yang lain, hingga akhirnya mereka selesai menyaksikan keseluruhan isi video. "Ok, sekarang, bisa kamu jelaskan?" pinta Jesse, menatap Anne penuh harap. Anne tersenyum senang, menunjukkan secercah harapan yang selama ini ia cari "Pada menit ke 2 detik 36, saat itu Pewawancara bertanya 'Apakah Anda yang menemukan Wayne Reece?', lalu Toni menjawab 'Iya benar, saya yang menemukannya.'—" "Ada yang janggal dengan jawabannya?" Jesse menginterupsi, tidak sabar. "Aku belum selesai menjelaskannya, Jes," jawab Anne. "Oh maaf. Ok, coba lanjutkan." "Sebenarnya tidak ada yang janggal dengan jawabannya. Tetapi kejanggalan itu terletak dari gesturnya ketika menjawab pertanyaan itu. Saat itu ia menggaruk hidung dengan halus dan menggigit bibirnya. Jika ia menggaruk hidung dengan keras, bisa jadi memang ia merasakan rasa gatal karena sesuatu—seperti gigitan serangga atau semacamnya. Tetapi menggaruk hidung dengan halus bisa disebabkan karena berbohong. Ketika berbohong, adrenalin akan meningkat, hal ini akan menyebabkan pembuluh darah kapiler membesar dan membuat hidung menjadi gatal. Sedangkan gerakan menggigit bibir, menggambarkan Tony sedang merasa tertekan," terang Anne menjelaskan kejanggalan pada bagian awal video. "Itu artinya Tony terpaksa berbohong karena ada tekanan?" tanya Jesse. "Benar. Tapi merasakan tekanan, bukan berarti mendapat ancaman. Bisa jadi karena ia merasa gelisah karena harus berbohong," jawab Anne, "Kemudian pada menit 2 detik 43. Pewawancara bertanya 'Di manakah tepatnya Anda menemukan Wayne Reece?', Toni menjawab 'Di sini.'. Sekali lagi gestur tubuhnya mengatakan bahwa ia berbohong. Arah pandangan mata dan ucapannya menunjukkan arah yang berbeda. Gerakan yang tidak sinkron dengan ucapan menunjukkan bahwa Tony tertekan atau menyembunyikan sesuatu," ucap Anne, menjelaskan bagian kedua. Penjelasan Anne sangat mudah dipahami, bahkan oleh orang yang awam dengan ilmu psikologi—termasuk Jesse, yang menulis setiap keterangan dari Anne. "Selanjutnya, pada menit ke 3 detik 2. Pewawancara bertanya 'Apakah ketika Anda menemukan Wayne, ia sudah dalam keadaan kehilangan akan sehat?', dan inilah jawaban Toni 'Ya … ya, tentu.', ia berbohong lagi. Pertama, ia tampak gugup dan tampak tidak yakin dengan jawabannya. Kedua, ketika menjawab, Tony menggaruk leher sebelah kanan dengan jari telunjuk. Ketika seseorang berbohong saraf di sekitar leher akan terasa gatal, inilah yang menyebabkan Tony menggaruk lehernya. Ok, sekarang pada menit 3 detik 10, Pewawancara bertanya 'Apa yang Anda lakukan pertama kali ketika menemukannya?', kali ini Tony diam, hingga Pewawancara mengulangi pertanyaannya. 'Apa yang Anda lakukan pertama kali ketika menemukannya? Memanggil Ambulan?', sebelum menjawab Tony terbatuk, lalu mengatakan 'Ya, tentu aku memanggil Ambulan.'. Pertama, ketika ia tidak menjawab, ini menunjukkan pikirannya sedang resah, sehingga tidak fokus pada pertanyaan yang diajukan, atau bisa juga ia mencoba mencari jawaban yang tepat. Tetapi intinya, mungkin ia bukan orang yang menemukan Wayne pertama kali. Sedangkan sebelum menjawab ia terbatuk, ini menandakan bahwa kalimat yang akan diucapkannya adalah kebohongan belaka." Jesse terkesima dengan analisa Anne yang begitu tajam, dan teliti. "Wow! Bagaimana kamu bisa mengetahui semua itu?" "Pendidikan, dan pengalaman," jawab Anne tersenyum, lalu melanjutkan, "Tapi itu belum semua. Dari keseluruhan isi video, ada hal-hal yang secara konstan dilakukan dan menunjukkan bahwa ia sedang resah, dan berbohong. Penjelasan yang pertama adalah, nada suaranya cenderung pelan. Kedua, setiap menit ia mengedipkan mata sembilan sampai sebelas kali. Normalnya, orang berkedip enam sampai delapan kali per menit. Selanjutnya, pada saat wawancara berlangsung, ia sering berpindah-pindah titik tumpuan badan—kadang bertumpu pada kaki kanan, kadang ia berpindah bertumpu pada kaki kiri, silih berganti hingga akhir wawancara. Keempat, cara bernapasnya tidak normal. Aku melihat dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Yang kelima, Tony selalu menjawab setiap pertanyaan dengan singkat. Dan yang terakhir, ia mengatakan di akhir video 'Temui aku.'." "Hah, benarkah ia mengatakan itu? Apakah aku melewatkannya?" tanya Jesse heran. Anne tertawa mendengar pertanyaan Jesse "Tentu tidak, aku hanya bergurau. Tapi memang kita harus bisa menemui Tony. Sekarang kita sudah tahu bahwa ia berbohong. Tapi mencari Tony bukan hal mudah. Kalau kita bertanya pada Polisi, belum tentu mereka mau menanggapi. Yah kamu tahu, mereka banyak tugas penting, seperti menemukan pembunuh berantai, teroris, penculikan, dan kita datang pada mereka hanya untuk bertanya tentang Tony—yang mungkin sudah pindah tugas di kota lain. Kurasa mereka akan menjawab 'Tony Adams sudah lama pensiun, dan sekarang menjadi Komentator Sepakbola. Datanglah ke studio TV pada saat pertandingan Arsenal, maka kamu akan menemukannya.' Bukankah begitu?!" Kali ini gurauan Anne terasa kering bagi Jesse "Hah hah hah, lucu sekali. Apalagi kalau kamu mengatakan hal seperti tadi pada fans Manchester United sejati sepertiku," ucap Jesse, dengan suara dibuat-buat. Anne tertawa kecil melihat tingkah Jesse, kemudian ia berkata "Well, aku sudah menjalankan tugasku. Sekarang giliranmu mencari Tony." Jesse mencerna pikirannya sesaat, lantas berbicara dengan enggan, "Aku punya teman Polisi yang mungkin bisa membantu kita. Tapi sebenarnya aku malas meminta bantuannya." "Kenapa?" tanya Anne. "Ah, ti—tidak apa-apa," jawab Jesse ragu-ragu, sembari mengetik pesan singkat di ponselnya "Aku akan coba meminta bantuannya." Beberapa menit kemudian, terdengar suara pesan singkat dari ponsel Jesse. "Temanmu yang Polisi itu?" tanya Anne pada Jesse, yang baru selesai membaca pesan singkat tersebut. "Dia mengatakan agar menemuinya di Roddie Café jam sembilan malam nanti," jawab Jesse, kemudian kembali berkata, "Anne, sebaiknya kamu ikut, karena Roddie Café berada tidak jauh dari tempat wawancaraku. Jadi kita bisa menemuinya setelah aku selesai mewawancarai pihak penyelenggara konser Diorra Summer." "Ok, kalau begitu aku mandi dulu." "Anne, jangan lama-lama. Aku khawatir kita bisa terlambat," ucap Jesse mengingatkan. "Tiga menit," jawab Anne sambil berlalu ke dalam kamar mandi. *** Sekitar pukul sembilan malam, Jesse dan Anne telah tiba di Roddie Café. Keduanya terlihat sedang bersama seorang pria tampan, dan berbadan tegap. Pria itu berusia tiga puluh tahun. Wajahnya persegi, dengan alis tebal, sepasang mata yang tidak terlalu lebar, hidung mancung, bibir tipis, serta rambut pendek berwarna hitam dengan jambang pada sisi wajahnya. "Halo Jes, dan ini?" sapa pria itu, seraya bertanya memandang Anne. "Anne, dia temanku, seorang Novelis dari Amerika," kata Jesse memperkenalkan Anne. bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN