Tiga

1581 Kata
"Putri Papa cantik sekali," Rama berdecak takjub melihat Anjani menuruni tangga. Gadis itu mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna peach dan stiletto dengan warna sama. Rambutnya dicepol di belakang kepala dan dibiarkan sedikit menjuntai di bagian pelipis. Anjani memutar bola mata, tetapi pipinya bersemu merah. Ayahnya tampak rapi mengenakan kemeja berwarna hijau emerald dan pantalon abu muda. "Papa juga gagah. Memangnya Papa mau ke mana?" "Papa ingin mengantar putri Papa dinner bersama pacarnya." Rama mengedipkan mata. "Eh?" Anjani terkesiap. "Papa gak usah repot-repot." "Gak repot, kok. Jangan khawatir. Papa cuma mengantar Jani, bukan hendak berkenalan dengan Arya," Rama terkekeh membaca sekelebat ekspresi cemas Anjani. "Kalau Papa mau kenalan juga gak apa-apa." Rama mengibaskan tangannya. "Soal itu nanti ada masanya." Ia menoleh pada istrinya. "Kalau Mami sudah memberi lampu hijau." Irene melengos. Ih, tak usah ya, begitu ekspresinya bicara. Anjani segera menggandeng tangan ayahnya. "Kami berangkat dulu, Mam," pamitnya pada sang ibu. "Pulangnya jangan terlalu malam," sahut Irene agak ketus. "Mami kenapa sih, Pa?" protes Anjani ketika memasang seat belt. "Terlepas dari Mami gak suka aku pacaran sama Mas Arya, masa aku harus berumur 30 dulu baru boleh nikah?" "Mami bilang begitu?" "Iya." Rama menginjak pedal kopling. "Mungkin Mami melihat anak gadisnya belum siap untuk menikah," sahutnya. Kendaraan roda empat itu keluar dari garasi, siap merambah jalanan menuju jalan utama. Tadinya Arya ingin menjemput Anjani dan langsung ditolak Anjani secara halus. Ia ingin ibu dan ayahnya sudah menerima Arya dengan ikhlas sebelum mereka berkenalan. "Atau, jangan-jangan aku bukan anak kandung kalian," celetuk Anjani setelah terdiam cukup lama. Tanpa diduga, celetukan itu memancing respons kaget ayahnya. Seketika roda mobil mendecit nyaring. "Papa hati-hati, dong!" protesnya karena sang ayah mengerem mendadak di pinggir jalan. "Untung gak ditabrak." "Kamu ..." Rama membelalak, "Bagaima—" "Gak mungkin kan, Pa?" Anjani menyeringai kecil. "Aduh, isi otakku absurd banget. Maaf ya, Pa. Habisnya gara-gara Mami melarangku nikah, sih. Jadinya aku mikir yang jelek-jelek." "Jangan ngomong sembarangan." Rama menghela napas panjang, kemudian menggenggam erat roda kemudi. Sebelum ia berkomentar lebih panjang, dering ponsel Anjani terdengar. "Hai, Om," sapa Anjani pada Robert di seberang. "Jani, kapan kamu bisa cuti?" todong Robert tanpa basa-basi. "Kapan aja bisa kok, Om. Kenapa? Om mau ngajak jalan-jalan ke Eropa? Bonusnya Tag Heuer ya, Om." "Dasar!" Robert berdecak. "Mau ikut Om ke Nihiwatu?" "Ngapain?" "Surfing lah. Mau ngapain lagi di sana?" "Rencananya kapan, Om?" "Dalam dua bulan ini ombaknya bagus. Kita atur jadwal dulu. Kira-kira kapan kamu bisa?" Anjani berpikir sejenak. "Gak tahu, Om. Nanti aku kabari lagi, gimana?" "Oke. Om tunggu." Terdengar Robert mendesah. "Cuma kamu yang bisa Om ajak pergi. Dyo dan Martensz nggak berminat mengikuti jejak Om. Takut gosong, katanya. Itu kurcaci berdua mau saingan sama artis KPop kali, ya? Kamu tahu kan, artis Korea yang mukanya pucat kayak vampir, tapi bibirnya merah ngalahin bibir cewek? Masa lihat matahari saja takut!" "Hobinya Om aja yang terlalu ekstrim." Gelak tawa Anjani pecah kemudian. Kedua sepupunya memang tidak mewarisi watak ayahnya yang gahar dan preman, melainkan menjelma menjadi dua anak baik-baik yang gemar belajar. "Mungkin DNA Tante Martha lebih dominan, Om." Robert berdecak, "Om tunggu kabar dari kamu." "Ya, Om." Anjani menyimpan ponselnya kembali. "Biasanya kamu paling antusias diajak Robert surfing. Apalagi dia terkenal sangat royal kepadamu dibandingkan pada keponakannya yang lain. Kamu minta Hermes saja langsung dibelikan," kata Rama mengingat murah hatinya si bungsu itu kepada Anjani. Sampai-sampai Angga berkata Anjani adalah keponakan kesayangan Robert. "Karena cuma aku yang mewarisi bangornya Om Robert di laut, Pa." "Jadi bagaimana? Kamu ikut?" Sejenak mata Anjani berbinar, lalu binar itu sekejap redup. "Aku udah males surfing, Pa," katanya sambil menunduk. Rama menoleh. "Tumben?" "Mungkin ... takut gosong," Anjani nyengir tertahan. "Sejak kapan kamu peduli pada warna kulitmu? Biasanya kamu cuek saja dikatain cireng, cina ireng." "Itu kan dulu, Pa. Aku sadar sekarang bikin warna kulitku kembali cerah kayak gini gak gampang. Butuh skin care aneka macam dan konsisten pakai sunscreen. Papa tahu sendiri gimana kejamnya air laut. Pakai sunscreen setebal kulit badak pun tetap gak long lasting," kata Anjani panjang lebar. Ia mengenal dunia surfing ketika masih berumur sepuluh tahun. Robert nekat menculiknya berlibur ke Banyuwangi dan berkenalan dengan ombak Pantai Plengkung. Anehnya Anjani menguasai teknik berselancar hanya dalam beberapa kali mengikuti kursus singkat bersama pria itu. Itu pulalah yang membuat Irene marah besar, bahkan tidak bertegur sapa dengan Robert selama beberapa bulan. Rama berpikir cukup lama. "Kamu bahagia melepaskan hobimu? Apakah itu sepadan?" Anjani terkesiap. "Maksud Papa?" "Ayolah, Papa tahu kamu mengerti arah pertanyaan Papa." Anjani meremas ponselnya. Memang, ia sangat menyukai laut. Air asin mampu membuatnya rileks dan melupakan seluruh kemelut duniawi. Menyatu dengan papan selancar memacu adrenalinnya. Namun, ia juga menyukai tone kulitnya yang sekarang. Ia sedang bersemangat merawat diri. Lagipula dalam menjalani sebuah hubungan selalu ada yang harus dikorbankan, termasuk hobi. "Bulan depan jadi ke Singapura?" celetuk Rama mengalihkan pembicaraan. Pertanyaannya barusan mengambang begitu saja karena tampaknya putrinya tidak berkenan menjawabnya. Anjani mengerang lesu. "Batal, Pa." "Kenapa?" "Hmm ... Mas Arya melarang, Pa." Rama tersentak. "Tita dan Jo gimana? Bukannya kalian sudah beli tiket?" "Mereka tetap berangkat kok, Pa." "Kalian gak apa-apa?" "Tita marah, sih." "Jani happy dengan situasi seperti itu?" "Yah, mana mungkin happy, Pa," rengut Anjani. Tita mendiamkannya dan tidak menjawab pesannya. "Aku merasa bersalah pada Tita." "Sebenarnya Jani mau lihat konsernya atau tidak?" "Ya, kepengen sih, Pa. Tapi—" Anjani menggigit bibir tanda kurang nyaman. Ia takut ayahnya sama saja seperti ibunya yang selalu memberikan nasihat dan pertimbangan. Kerap kali Anjani merasa terpojokkan oleh kata-kata ibunya. "Mungkin lebih baik waktu liburnya kupakai bersama Chelsea saja, Pa." "Anaknya Arya?" Kening Rama bertaut. Anjani mengangguk. "Kamu juga maunya begitu?" "Yah, mau gak mau, Pa." Rama menarik napas panjang. Benar kata istrinya, Anjani tidak bisa diajak berpikir waras saat ini. "Kalau kamu gak happy atau merasa tertekan, itu artinya ada yang salah dengan hubungan yang sedang kamu jalani," ujarnya memulai pembicaraan serius. "Maksud Papa?" Anjani sontak menoleh. "Sebuah relasi yang sehat tidak akan membuatmu merasa tertekan atau kehilangan dirimu sendiri, Nak." Anjani terdiam. Tatapannya nanar menatap hand bag mungil di pangkuannya. "Jujur saja, dalam beberapa bulan terakhir kamu seperti hidup dalam bubble–mu sendiri. Papa dan Mami hanya bisa meraba-raba badai seperti apa yang sedang terjadi dalam kepalamu. Kami merasa kehilanganmu." "Gitu ya, Pa?" Anjani meringis. "Jani happy bersama Arya?" "Happy, sih." "Tapi?" "Tapi apanya, Pa?" "Biasanya setelah ada kata 'sih', ada kata 'tetapi' yang mengiringinya. Kalau kamu yakin dengan jawabanmu, kamu akan menjawab kamu 'bahagia' saja." "Sejak kapan Papa jadi anggota dewan bahasa?" ledek Anjani. "Bahkan satu kata sederhana saja bisa mengandung interpretasi berbeda, kan?" Rama terkekeh lembut. "Coba Papa tanya, apa yang membuat Jani mencintai Arya?" "Hmm," Anjani berpikir sejenak, "Orangnya penyayang, Pa. Royal. Perhatian." "Perhatiannya dalam bentuk apa, ya?" "Mas Arya sering nelpon, Pa. Nanyain kabar, nanyain sedang apa. Tita bilang dia posesif. Tapi menurutku gak gitu. Itu sebentuk perhatian. Mas Arya sering bilang takut kehilanganku" Sejenak Rama tertegun, lalu menghela napas panjang. "Mungkin Papa terlalu membebaskan Jani, sehingga ketika ada laki-laki yang perhatian dan posesif kepada Jani, maka Jani merasa lebih dicintai. Maafkan Papa, ya." Seketika Anjani tergugu. "Pa, bukan begitu. Sejujurnya aku bingung. Sebenarnya standar laki-laki baik itu seperti apa?" "Kalau kamu mencari pasangan, minimal cari yang seperti Papa." "Ih! Papa narsis!" Anjani mencebik. Rama terkekeh. "Kamu tahu kenapa Papa bekerja keras dan mati-matian menjaga keluarga Papa selalu harmonis? Karena Papa ingin menjadi standar bagi kalian dalam mencari pasangan. Papa menjadi standar bagi Mas Angga dalam memperlakukan istrinya. Mengapa standar untuk anak perempuan lebih ketat? Karena perempuan akan menjadi istri dan ibu. Dalam tatanan sosial, posisi seorang istri dalam keluarga adalah sebagai pengikut. Oke, nantilah kita kaji soal kesetaraan gender. Pada praktiknya, tetap laki-laki yang dijadikan pemimpin keluarga, bukan? Kalau pemimpinnya buruk, bagaimana nasib pengikutnya? "Seorang ayah, sadar maupun tidak, membuat standar bagi anak perempuannya dalam mencari pasangan. Laki-laki itu juga akan menjadi ayah bagi cucu perempuannya kelak. Logikanya sederhana. Suami yang bagaimana yang kamu cari akan menentukan ayah seperti apa yang akan dimiliki oleh putrimu nanti. Jangan main-main dalam memilih pasangan, Nak. Karena kamu akan melahirkan sebuah generasi, lalu generasi berikutnya akan mencontoh kepadamu. Kalau toleransimu tinggi terhadap pasangan yang ala kadarnya, seperti itu pula nanti yang akan dilakukan putrimu." Pandangan Anjani menerawang. Rama melanjutkan, "Bila kamu mencintai laki-laki yang lebih rendah standarnya di bandingkan Papa, itu bukan kesalahanmu. Mungkin memang Papa sendiri belum layak dalam memperlakukan keluarga," katanya menyindir dirinya sendiri. Anjani tertohok. Ayahnya adalah lelaki terbaik di dunia, bertanggung jawab, pekerja keras, serta hangat terhadap keluarganya. "Pa, jangan bilang begitu. Papa adalah ayah yang sempurna." Seulas senyuman tipis terbit di bibir sang ayah. "Semoga Jani mendapatkan pasangan yang selalu menghormati Jani ya, Nak. Karena rasa hormat itu yang membuat sebuah hubungan bertahan lama, bukan cinta." Anjani mengangguk saja. Jelas dirinya seketika linglung. Seolah-olah ada sepercik warna berbeda menyelinap di antara warna-warna lain yang sudah dikenalnya dengan baik, tetapi ia tidak bisa menjabarkan apa tepatnya warna tersebut. Kendaraan Rama memasuki pelataran parkir sebuah restoran. "Sudah sampai," katanya mematikan mesin mobilnya. Lamunan Anjani bubar jalan. Ia melepaskan seat belt, masih dengan ekspresi linglung yang sama. "Makasih udah nganterin, Pa." "Have a nice dinner, Jani. Nanti Papa jemput lagi. Kabari Papa, ya." Anjani mengangguk. "Dah, Pa." Selagi Anjani melangkahkan kaki ke dalam restoran, pikirannya dipenuhi bermacam-macam pertanyaan yang lebih banyak ditujukan untuk dirinya sendiri. Badai di kepalanya mengamuk dengan dahsyat. "Jani!" Anjani terkesiap namanya dipanggil. Seketika ia menoleh. Bibirnya mengulas senyuman tipis. Tampak olehnya Arya melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Perlahan-lahan badai di kepalanya surut. Petuah ayahnya beberapa menit yang lalu lenyap tersapu kabut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN