Anjani masih tinggal di Yogyakarta sampai Selasa pagi, dan siangnya akan bertolak ke Surabaya menggunakan kereta. Pagi itu ia menghampiri ayahnya yang sedang menyeduh teh di dapur. "Pa, bagaimana penilaian Papa terhadap Mas Kai?" selidiknya. "Anaknya baik," jawab Rama tanpa berpikir. "Kenapa? Memangnya penilaian Papa penting?" "Penting dong, Pa." "He's decent man." Anjani tersenyum simpul. "Jadi, aku boleh melanjutkan hubungan dengan dia?" "Kalau kami melarang, Jani bakalan dengar?" "Papa ihh!" Bibir Anjani mengerucut, tahu ayahnya menyindir kelakuannya saat bersama Arya. "Kalau Jani nyaman bersama Kai, lanjutkan. Hubungan itu kalian yang menjalani, bukan Papa dan Mami. Kami hanya bisa memberikan pandangan. Coba tanya Mas Angga, gimana pendapatnya." "Mas Angga selow aja, Pa," kat

