Dua Puluh Sembilan

2294 Kata

Anjani masih tinggal di Yogyakarta sampai Selasa pagi, dan siangnya akan bertolak ke Surabaya menggunakan kereta. Pagi itu ia menghampiri ayahnya yang sedang menyeduh teh di dapur. "Pa, bagaimana penilaian Papa terhadap Mas Kai?" selidiknya. "Anaknya baik," jawab Rama tanpa berpikir. "Kenapa? Memangnya penilaian Papa penting?" "Penting dong, Pa." "He's decent man." Anjani tersenyum simpul. "Jadi, aku boleh melanjutkan hubungan dengan dia?" "Kalau kami melarang, Jani bakalan dengar?" "Papa ihh!" Bibir Anjani mengerucut, tahu ayahnya menyindir kelakuannya saat bersama Arya. "Kalau Jani nyaman bersama Kai, lanjutkan. Hubungan itu kalian yang menjalani, bukan Papa dan Mami. Kami hanya bisa memberikan pandangan. Coba tanya Mas Angga, gimana pendapatnya." "Mas Angga selow aja, Pa," kat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN