POV Shireen Cahaya sinar matahari sudah memasuki celah jendela kamar di paviliunku ini, mataku sedikit berat untuk dibuka, mungkin karena terlalu banyak menangis sehingga mataku sembab dan bengkak, aku menyadari ada tangan yang menindih perutku, akupun menolehbke samping, sejenak aku berpikir banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh isi otakku, jam berapa dia kembali, kenapa aku tidak tahu saat dia kembali, apakah aku sudah tertidur saat dia kembali sehingga aku tidak tahu kapan dia masuk. Akh sudahlah aku tidak peduli, dia berada disampingku saja membuatku senang artinya dia memilihku, ku perhatikan wajahnya yang tamapan, matanya yang indah, alisnya yang tebal, hidung mancungnya, dan bibirnya yang menurutku seksi dengan ocehan-ocehannya yang selalu melarangku membuat bibir ini salah

