Bima tersenyum lebar saat melihat Sella sudah mengenakan lingeri seksi yang dia belikan. Ia pun memeta tubuh sang sekretaris dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Perlahan, Bos Besar dari perusahaan Bima Perkasa itu melangkah mendekati sang sekretaris sambil tersenyum lebar.
Senyuman itu membuat Sella sedikit bergidik ngeri, karena senyuman itu seolah mengartikan kemesuman Pak Bima mulai membuncah.
"Pak, jangan ngeliatin saya kayak begitu dong, kayak orang sakau aja," protes Sella sambil melangkah mundur menghindari diri dari Bima yang semakin mendekatinya.
Bukannya menghentikan langkah, Bima justru semakin mempercepat kakinya mendekati Sella sambil menjilat bibir bawahnya.
Pandang mata Bima beralih ke dua gundukan kenyal milik Sella. Melihat itu, dengan cepat Sella menyilang kedua tangan di atas d**a.
"Pak Bima, mabuk ya?" tanya Sella lalu memberanikan diri memegang kening Bima yang semakin mendekatinya.
"Saya ngga mabuk, saya cuma pengen meran-gsang diri saya biar bisa na-fsu liat kamu. Siapa tahu Burung Perkutut saya bisa berkicau tanpa harus nyentuh kamu," jawab Bima lalu melangkah mundur mendekati ranjang dan duduk di pinggir.
Sella menghela napas lega, karena ternyata Bima masih waras. Ia pikir, ia akan berakhir di atas ranjang seperti cerita cerita di novel pada umumnya.
Ternyata, Burung bosnya belum bereaksi juga meski sudah melihatnya menggunakan lingeri nyaris kehabisan bahan.
Sella pun duduk di sebelah bosnya lalu menghela napas panjang, "Terus gimana Pak? Kita ngapain ini? Masa saya cuma nemenin Bapak tidur, dan liatin Bapak ngorok."
Bima melirik sekretarisnya, "Coba kamu ise-p ise-p ujungnya, siapa tahu dia mau berdiri."
Mendengar itu, Sella membulatkan kedua mata lebar. "Is-ep apa Pak? Ujung apa? Emangnya es krim?" protesnya menolak permintaan sang bos.
Bima mengacak acak rambut Sella, "Anggap aja kamu lagi menikmati es krim pisang. Coba dulu, nanti saya tambahin bayarannya kalau berhasil."
Sella mengembangkan pipi, baru membayangkan saja dia sudah merasa mual dan mau muntah, apalagi dia memasukkan benda berbentuk aneh itu ke mulut. Bisa bisa dia tidak makan selama satu tahun.
"Cepet, saya udah ngantuk. Masa saya cuma nyewa hotel buat numpang tidur doang? Tahu gitu mending saya tidur di rumah sama istri saya," sambung Bima menanti Sella untuk melayaninya.
Sella menoleh ke samping, mengernyitkan kening, "Emang Pak Bima punya istri? Lah Pak Bima aja baru mau nikah."
"Saya belajar dulu sebelum punya istri, saya mau menobatkan diri saya sebagai suami," jawab Bima datar.
"Menobatkan diri Bapak sebagai suami tukang selingkuh? Yang punya simpanan sekretaris cantik kayak saya?" Sella menyibakkan poni ke samping lalu berlagak seperti wanita paling cantik seruangan itu.
Bima kembali mengacak acak rambut sekretarisnya, "Kamu mau saya pecat? Udah bosan jadi sekretaris saya?"
Sella menggeleng dengan cepat, "Saya masih mau jadi sekretaris Bapak, ya, meskipun saya sedikit ilfil sama Bapak, tapi saya tetap mau jadi sekretaris Pak Bima. Suer deh." Ia menunjukkan dua jari pada Bima.
"Kalau masih mau jadi sekretaris saya, cepet is-ep is-ep dulu, nanti saya naikin gaji kamu."
Sella pun terdiam sambil berpikir panjang sepanjang jalan pulang ke rumahnya.
Setelah sekian detik terdiam, dia pun mengatakan, "Gimana kalau ke rencana awal Pak. Bapak se-dot punya saya, siapa tahu anunya Bapak terang-sang dan mau bangun." Ia melirik pada bagian yang terlihat sudah pasrah di dalam celana panjang Bima.
Bima menundukkan kepala, "Iya juga ya, kan usul dari Mama begitu. Siapa tahu aja ini Burung bisa bangun."
Ia pun memegang lengan Sella.
"Pak, Bapak mau apa?" tanya Sella mulai panik saat Bima memegang kedua lengannya lalu membawanya ke atas ranjang.
"Saya mau mimi cucu," jawab Bima sambil tersenyum lebar lalu mulai melancarkan aksinya.
Sella pun pasrah dan hanya bisa memejamkan kedua mata saat Bima mulai membuka lingeri yang dia kenakan tepat di bagian d**a yang sedang ngenyut ngenyutnya.
"Tapi Pak Bima janji kan, ngga akan icip icip kalau Burung Bapak bangun?" Sella mulai khawatir saat mendengar Bima mendesah.
"Hmm," sahut Bima yang tengah menikmati cairan putih dari bagian berharga milik Sella.
Bima pun tak kuasa menahan diri saat merasakan nikmatnya ASI milik sang sekretaris dan juga tingkat kekenyalan tempat ASI itu.
"Pak, sakit, pelan pelan," protes Sella saat gigi Bima sedikit mengenai bulatan ranum miliknya.
"Enak Sel, kok bisa seenak ini? Kamu abis makan apa tadi?" tanya Bima sambil mengulum bulatan ranum itu.
"Saya cuma makan nasi goreng sambel Pete, Pak," jawab Sella.
"Tapi ngga ada bau bau Pete, enak," sahut Bima yang semakin menikmati kegiatannya.
Sella pun terhanyut dalam sentuhan nakal Bima dan juga sedo-tan bosnya yang membuat bulu bulu halus Sella meremang, merasakan getaran aneh yang mulai tak terkendali.
Sesaat, Sella ingin menikmati sentuhan lebih dari itu. Namun, ia langsung menepis semua pemikiran tersebut demi menjaga kewarasannya.
Sella pun meremas seprai dan mengigit bibir bawahnya untuk meredam keinginan aneh di dalam diri.
Tanpa sadar Sella membuka kedua kakinya lebar seolah ingin merasakan sentuhan lebih di bawah sana.
Tak berbeda dengan Sella, Bima juga merasakan perasaan aneh yang sudah lama tidak dia rasakan semenjak dia di vonis Impoten.
Bima pun membuka perlahan resleting celana panjangnya lalu meloloskan celana itu hingga meninggalkan boxer menutupi bagian bawah.
Sella tak menyadari bosnya sudah mulai tak terkendali, bahkan Burung Perkutut Bima sudah bangun dan berdiri tegak.
'Sella berhasil, aku bisa menggunakan benda ini lagi,' gumam Bima dalam hati.
Meski ia tak ingin menyentuh Sella, tetapi tubuhnya berkata lain. Bima pun tak kuasa menolah hasrat yang menggelegar di dalam dirinya untuk secepatnya tersalurkan.
"Pak, Bapak mau ngapain?" Sella menyadari sesuatu saat Bima mulai membuka penutup segitiga miliknya.
"Kita selesaikan sekarang, saya janji saya akan membayar lebih besar dari perjanjian awal," bisik Bima sambil menekan kedua lengan Sella.
"Pak, tapi Bapak janji Bapak ngga akan nyentuh saya. Please Pak, jangan, saya masih Virgin. Saya ngga mau pas nikah nanti saya udah ngga perawan lagi. Kasihan suami saya Pak, kan Bapak juga mau nikah, masa enak enak sama saya duluan? Kasihan calon istri Bapak."
Sella merengek, meminta bosnya membatalkan niat terselubung itu. Namun Bima sudah tidak kuat menahan hasrat kelelakiannya yang membuncah.
"Please, Sel, Burung saya udah terlanjur berdiri, udah lama saya ngga nyemburin lahar. Saya harus ganti oli biar tetap waras. Saya pasti akan membayar lebih mahal lagi untuk satu malam ini. Saya mohon Sella, kamu butuh uang kan? Dan saya butuh kepuasan. Kamu udah berhasil bangunin Joki saya, masa Joki saya harus nelen ludah lagi?"
Sella terdiam sambil menatap wajah memelas Bima yang baginya menakutkan.
Ia tidak bisa memberontak, karena kedua tangannya dipegang erat oleh sang bos, bahkan dia juga sudah merasakan kedutan di bagian bawah sana, milik bosnya yang sudah mengeras.
"Tolong saya, Sel," pinta Bima kemudian mengecup bibir Sella lembut. "Mau ya? Please, saya udah kebelet."
Sella menggeleng cepat, "Burung Bapak udah bangun kan? Artinya saya berhasil? Selamat ya Pak, kalau gitu kita udahan aja. Bapak bisa melampiaskan hasrat Bapak sama calon istri Bapak, DP dulu kan ngga apa apa. Toh kalian akan nikah."
Sella menyeringai lalu mencoba untuk melepaskan diri dari kungkungan Bima.
"Lepas Pak, please." Sella memohon dengan sangat.