Memukul-mukul pundak yang terasa lelah, Binar berjalan dengan gontai. Demi bisa sampai rumah dengan cepat, dia akhirnya memutuskan menaiki taksi. Meski harus merogoh saku lebih dalam.
Hah ... Hari yang benar-benar melelahkan. Tak sekadar menguras tenaga dan pikiran, tapi juga perasaan.
Kedatangan sang Papa yang setelah sekian lama bak menghilang dari hidupnya, muncul kembali hanya untuk memberi kabar yang menyesakkan hati. Bukannya temu kangen, pria itu justru memamerkan rencana masa depannya dengan keluarga baru yang tentu saja, tak ada Binar dan sang Mama di dalamnya.
Dengan kondisi hati yang berserakan, Binar berusaha melanjutkan rencananya untuk mencari kerja. Sayang, usahanya sedari pagi hingga malam belum membuahkan hasil hari ini. Tak ada satu pun pekerjaan yang berhasil di dapatkannya.
Baiklah, tak apa belum mendapat keberuntungan hari ini. Besok, Binar bertekad untuk berusaha lebih keras lagi agar bisa mendapat pekerjaan.
Binar mengernyit, saat jaraknya dengan rumah sang Nenek kian dekat, ia mendapati seseorang yang baru saja menutup gerbang dengan gerakan tergesa-gesa.
Menajamkan penglihatan di penerangan jalan yang sedikit remang, Binar mengerjap, saat memastikan jika sosok tersebut adalah sang Nenek. Tapi ... Mau kemana malam-malam begini?
Tunggu!
Apa mungkin, kondisi Mamanya kembali memburuk?
Tapi, Neneknya keluar seorang diri. Atau mungkin, berusaha mencari pertolongan pada orang lain?
Tak ingin terperangkap resah, Binar berderap cepat menuju sang Nanak yang belum menyadari keberadaannya.
"Nek?"
"Astaga!" Wanita tua itu baru saja berbalik setelah mengunci pagar rumahnya. Saat sang cucu tiba-tiba saja muncul di depannya dengan wajah bingung bercampur panik.
"Nenek mau kema—" Binar tak bisa menyelesaikan ucapannya karena sang Nenek sudah menghambur kerahnya, memeluk erat dengan tubuh gemetar. Hal yang tentu saja membuat gadis itu kian dicengkeram cemas. Apa dugaannya benar? Terjadi sesuatu pada sang Mama? "Nek, Mama—"
"Kamu dari mana?!" Melepas pelukannya, sang Nenek merangkum wajah sang cucu dengan pandangan buram karena pelupuk matanya sudah dipenuhi air mata. "Kenapa baru pulang? Kamu tau? Nenek baru saja mau ke kantor polisi."
"Hah? Kantor polisi? Buat apa, Nek?"
"Ya buat cari kamu!"
Mengerjap, kini rasa bingung kian merongrong Binar. Kenapa sang Nenek ke kantor polisi untuk mencarinya?
Sebelum kemudian ... Sebuah pemahaman tiba-tiba menghantam kepalanya. Hingga membuat gadis itu refleks menggeplak keningnya sendiri.
"Nek, kita bicara di dalam ya? Udaranya makin dingin sekarang." Menuntun tubuh renta sang Nenek yang sesekali menyeka air mata, Binar berusaha untuk tak ikut menangis karena merasa bersalah. Ini pasti karena dia pulang larut dan tak bisa dihubungi gara-gara ponselnya mati kehabisan baterai, jadi Neneknya panik sampai-sampai berinsiatif ke kantor polisi yang mungkin saja melaporkan dirinya yang dikira hilang.
Sesampainya di dalam rumah, Binar mendudukkan sang Nenek di kursi meja makan, sementara ia meraih gelas dan menuangkan air, sebelum kemudian diberikan pada Neneknya agar merasa lebih tenang.
Meneguk air putih yang Binar berikan hingga tandas, wanita tua itu meletakkan gelas ke atas meja dan mulai fokus pada sang cucu yang kini menempati kursi kosong di sampingnya. "Kenapa baru pulang jam segini? Kamu lupa apa yang Nenek pesankan tadi pagi? Jangan pulang sore apalagi sampai malam. Tapi apa? Kamu malah pulang larut. Memangnya mau cari pekerjaan di mana jam segini?"
Tak lagi bisa menahan diri, Neneknya memberondong Binar dengan begitu banyak pertanyaan. Sementara gadis itu memilih diam, membiarkan sang Nenek memuntahkan semua rasa cemas, kalut dan ketakutannya.
Setelah dirasa tenang, Binar meraih kedua tangan sang Nenek. Menggenggamnya lembut, berharap, hal itu bisa menyalurkan ketenangan.
"Binar minta maaf udah buat Nenek cemas. Sebenarnya, sudah mau pulang dari sore. Tapi ... Binar coba ke beberapa tempat sekali lagi karena penasaran. Pas hari mulai petang mau hubungi Nenek buat kasih tau kalau mungkin pulang telat, ternyata ponselnya mati." Ringisnya yang kini dijejali perasaan bersalah.
Menghambur ke dalam pelukan sang Nenek, Binar terus menggumamkan permintaan maaf. Membuat wanita tua itu akhirnya tak tega.
Melepas pelukan, sang Nenek mengangguk dan berusaha memahami. "Yasudah, tapi lain kali jangan begini. Nenek benar-benar khawatir, takut terjadi sesua—astaga, Bi!"
"K—kenapa, Nek?" Menegakkan posisi duduknya, Binar tampak waspada melihat raut wajah sang Nenek yang kembali dipenuhi kekhawatiran.
"Kamu yang kenapa?"
Mengerutkan kening bingung, Binar nyaris melempar tanya karena tak mengerti maksud sang Nenek saat tiba-tiba memekik, saat sudut bibirnya yang terluka disentuh.
"Ini kenapa? Kok wajah kamu lebam? Sudut bibir juga berdarah."
Ya ampun ... Bisa-bisanya Binar lupa, jika perkelahian yang tadi dilakukannya dengan dua beg*l itu meninggalkan beberapa luka. Kalau luka di tubuhnya yang tersembunyi mungkin tak masalah, Binar bisa menyembunyikannya dari sang Nenek. Tapi si*lnya, dia memang sempat terkena pukul*n di wajah saat mereka menyerangnya secara bersamaan. Membuat Binar cukup kewalahan meski berusaha mengelak secepat yang ia bisa.
"Hm ... Itu Nek, tadi itu—"
"Tadi apa?!" Tanya sang Nenek yang tak lagi bisa menahan kesabaran. "Kamu kenapa sebenarnya? Apa ini yang bikin kamu pulang telat?"
Sebenarnya iya, tapi Binar tak mungkin mengatakannya secara gamblang. Bisa-bisa, Neneknya kembali dipenuhi kekhawatiran. Dan tentu saja, Binar tak mau itu terjadi.
Setelah bersusah-payah mencangkul alasan dikepala, Binar berdeham untuk meluruhkan rasa gugupnya. "Binar buru-buru mau pulang karena sudah malam, terus ... Karena nggak fokus, jadi jatuh pas lari cari angkutan umum yang masih ada."
"Ya ampun, Bi ... Lain kali hati-hati Sayang, sampai luka begini."
"Nggak apa-apa kok, Nek. Cuma ... Binar malu, sempat dilihatin banyak orang. Jadinya pilih taksi biar bisa cepat sampai rumah." Ringisnya sembari menggaruk pipi, dalam hati menggumamkan permintaan maaf karena telah berbohong. Gadis itu juga lega karena sang Nenek tak bisa membedakan luka pukulan dan bukan. Jadi memercayai cerita yang hanya karangannya.
"Yasudah, biar Nenek ambil kotak P3K dulu ya, luka kamu harus cepat diobati. Jangan dianggap remeh meskipun kamu anggap luka kecil."
"Hm ... Nek," menahan pergerakan sang Nenek yang hendak mengambil kotak P3K, Binar mengela napas sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. "Nggak usah, Biar nanti Binar obati sendiri lukanya abis mandi. Soalnya udah nggak betah, badan Binar gerah dan lengket seharian dari luar."
Mengangguk, sang Nenek menepuk pelan punggung tangannya, "yasudah, abis mandi, salat Isya dulu, abis itu obati lukanya, terus makan malam. Nenek panaskan dulu lauknya ya?"
"Nggak usah, Binar bisa sendiri kok. Nenek istirahat aja ya. Pasti capek seharian di rumah beres-beres dan jaga Mama sendirian." Rasa bersalah itu kembali menghantam d*da Binar, saat mengingat perjuangan yang harus Neneknya lakukan. Dia harus segera mendapat pekerjaan, jangan sampai terus menjadi beban.
"Baiklah, Nenek kunci pintu depan dulu. Kamu buruan mandi sana, udah malam. Atau panaskan air dulu, biar bisa mandi air hangat."
Menggaruk pelipis, Binar menggeleng, "nggak perlu Nek, langsung mandi aja." Bangkit dari tempat duduknya, Binar mencangklong tas dibahu kiri, "aku siap-siap mandi dulu, Nenek harus istirahat abis ini." Memberi kecupan di pipi sang Nenek, Binar berderap cepat menuju kamar usai berpamitan.
***
Pukul delapan pagi, wanita paruh baya itu tampak terkantuk-kantuk di tempat duduknya. Meski begitu, ia berusaha untuk tetap terjaga. Salah satu tangannya menggenggam tangan dari sosok yang kini masih terpejam.
Rasa cemas mencekiknya saat mendapat kabar jika putranya mendapat musibah, menjadi korban pembegal*n hingga terluka dan dilarikan ke rumah sakit.
Matanya terasa perih dan pasti membengkak karena menangis semalaman. Belum lagi, ia belum mengistirahatkan tubuh yang berteriak kelelahan dan meminta untuk di istirahatkan sejenak. Punggungnya mulai nyeri karena duduk dalam waktu yang cukup lama.
Tapi sekali lagi, wanita itu memilih tak peduli. Yang menjadi fokus utamanya saat ini adalah sang putra.
Setelah sebelumnya berada di ruang UGD, akhirnya dipindahkan dan sekarang sudah menempati salah satu ruang perawatan VVIP. Meski ada satu lagi tempat tidur yang di sediakan untuk keluarga pasien yang menginap, wanita itu memilih tetap menunggui sang putra dengan duduk di kursi yang berada di samping ranjang perawatan.
Dia tak akan bisa merasa lega sebelum kedua mata terpejam itu terbuka dan membalas tatapannya.
Suara pintu yang terbuka membuat fokusnya teralihkan. Menolehkan kepala, ia dapati seorang pria muda seusia putranya yang menganggukkan kepala sembari tersenyum sopan. Menutup pintu yang berada di belakangnya, pemuda itu memberi salam sembari mencium punggung tangannya.
"Ares ... Belum sadar, Tan?"
Menggeleng lemah dengan wajah murung, wanita paruh baya itu kembali mengarahkan tatapan pada putra semata wayangnya. "Belum Nat, sedari dipindahkan ke sini sampai sekarang, dia masih belum sadar. Pas Dokter datang buat cek, Tante udah tanya, dan katanya semua dalam kondisi baik. Mungkin efek dari obat biusnya belum hilang."
Mengangguk paham, Nathan mengela napas panjang. Merasa iba pada ibu sahabatnya yang tampak begitu lelah, tapi memaksakan diri. "Tan, aku aja yang jaga Ares. Tante sebaiknya istirahat dulu," ucapnya pelan, berusaha menawarkan diri untuk bergantian menjaga.
"Memangnya kamu nggak kuliah?"
"Kuliah, tapi nanti siang, Tan."
"Tante mau di sini saja, nunggu Ares siuman."
Menggaruk pelipis, pria itu—Nathan, tampak memutar otak, berusaha membujuk agar ibu dari sahabatnya mau bergantian berjaga dengannya. Nathan, merasa tak tega wanita itu kelelahan.
"Ares pasti akan segera siuman. Nanti, kalau ada perkembangan baru, saya bakal segera hubungi. Sebaiknya, Tante pulang dulu, untuk beristirahat sebentar. Oh! Atau menyiapkan barang-barang keperluan Ares selama di rawat?"
Mengerjap, wanita paruh baya itu tampak terdiam sejenak. Sementara Nathan bersorak dalam hati, karena yakin, jika pancingannya kali ini berhasil. Dan itu terbukti, dari anggukan samar yang wanita itu perlihatkan.
"Benar juga, Tante belum menyiapkan apa-apa. Pas dapat telepon dari kamu, Tante panik dan kalut sampai datang ke sini pun pakai baju tidur." Mengusap wajah kuyunya, ia mengela napas panjang. Menatap sosok sahabat putranya yang sejak tadi berdiri di samping kursi yang di tempatinya.
Bangkit dari duduknya, wanita paruh baya itu meringis dengan tubuh sedikit membungkuk, membuat Nathan merasa cemas. "Tante kenapa? Saya panggilkan Dokter buat periksa ya?"
Mengela napas, Dona kembali menegakkan tubuh, dia menggeleng dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja, "nggak apa-apa, cuma keram, mungkin karena semalaman dalam posisi duduk."
"Tante yakin? Aku antar pulang ya, Tan?"
"Jangan, nanti Ares nggak ada yang jaga, gimana kalau tiba-tiba dia siuman?"
"Tapi ... Tante—"
"Tante hubungi supir rumah yang semalam antar ke sini. Mungkin sekarang lagi sarapan."
Tak lagi mendebat, Nathan hanya menganggukkan kepala.
Setelah Dona menghubungi, tak lama ruang perawatan Ares diketuk. Nathan yang membukakan pintu dan ternyata supir yang Dona tunggu sudah hadir.
Memasukkan ponsel ke dalam saku baju tidur yang dikenakannya. Dona mengelus lembut kepala sang putra, mencium keningnya sebelum kemudian berpamitan pada Nathan. "Tante usahakan segera kembali ke sini setelah menyiapkan semua keperluan Ares."
"Tante nggak perlu buru-buru, ada Nathan di sini yang jaga. Dan, kalau ada apa-apa, aku pasti hubungi. Sebaiknya Tante istirahat di rumah, agak sorean baru balik ke sini." Mengelus belakang lehernya, Nathan tersenyum canggung, "maaf, bukan bermaksud memerintah, tapi ... Aku rasa, Tante juga butuh istirahat, jangan sampai ikut-ikutan di rawat karena kondisi tubuh yang menurun. Apalagi semalaman jaga Ares. Tante juga butuh tidur. Di sini juga bisa, tapi pasti nggak akan tenang karena kepikiran kondisi Ares."
Tersenyum haru, Dona menepuk pelan pundak pria muda yang ia anggap layaknya putra sendiri. Terlebih, sudah bersahabat dengan Ares sedari SMP. "Makasih ya, kamu benar, Tante nggak bisa memaksakan diri. Nanti agak sore, mungkin balik lagi ke sini. Sementara, Tante akan minta Bi Surti untuk berjaga dan bantu kebutuhan Ares."
Mengangguk setuju, Nathan kemudian mengantar ibu sahabatnya itu hingga ke depan pintu ruang rawat. Mencium punggung tangannya sembari memberi pesan untuk berhati-hati.
Setelah Dona tak lagi tertangkap penglihatan, Nathan kembali melangkah masuk ke dalam. Mendudukkan diri di kursi samping ranjang perawatan yang sebelumnya di tempati Dona. Memandangi sahabatnya yang masih tak sadarkan diri.
Suara ponsel yang tiba-tiba berdering, mengalihkan perhatian. Merogoh saku celana, Nathan meraih benda pipih itu. Keningnya mengernyit, mendapati nama Alden yang muncul di layar ponselnya sebagai pemanggil.
Menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan, Nathan yang melirik kearah Ares yang masih tertidur tenang, kemudian menempelkan ponsel pada telinga kanannya. "Halo?"
"Lo udah di rumah sakit?" Tanya Alden langsung di seberang sambungan.
"Hm, baru nyampe. Lo di mana?"
"Gue sama Affan masih di jalan, bentar lagi nyampe. Ares gimana? Udah sadar dia?"
"Belum, tadi nyokapnya juga baru balik pas gue bujuk buat pulang dulu. Nggak tega gue liat muka pucatnya Tante Dona. Dia pasti kecapean, tapi juga khawatir sama kondisi Ares. Apalagi ini anak masih belum siuman juga."
Terdengar elaan napas panjang, sebelum kemudian, suara Alden kembali tertangkap pendengaran Nathan. "Yaudah, gue tutup teleponnya. Nggak lama lagi bakal sampai rumah sakit kok."
"Oke, Bro!" Nathan baru saja menyelesaikan panggilan dengan Alden, ketika tatapannya tiba-tiba bersirobok dengan netra hitam yang kini menatapnya dalam diam. "Astaga, Res? Lo udah sadar?"
Mengangguk pelan, Area meringis. Saat membuka mata tadi, dia sempat kebingungan dengan ruangan asing yang kini di tempati. Sebelum kemudian, alat-alat medis yang berada di sana, selang infus dan peralatan medis lainnya yang terpasang di tubuh membuat pria itu akhirnya sadar, dia tengah berada di rumah sakit. Lalu, kelebat peristiwa naas yang menimpanya malam itu terputar di ingatan.
Saat menoleh, dia mendapati Nathan yang tengah menelpon. Dari mencuri dengar, ia tau jika pria itu sedang terlibat pembicaraan dengan Alden.
"Gue panggil Dokter dulu ya, buat periksa kondisi lo." Tanpa menunggu Ares menjawab, Nathan sudah lebih dulu bangkit dari duduknya dan berderap menuju pintu keluar. Meninggalkan Ares yang hanya bisa mengela napas sembari menatap langit-langit ruang rawatnya.
Tak berapa lama, Nathan kembali dengan seorang Dokter dan perawat. Memeriksa kondisi Ares, dengan Nathan yang mendengarkan penjelasan yang Dokter berikan dengan seksama.
Selesai pemeriksaan dan sang Dokter serta perawat keluar dari ruangan, Nathan mendudukkan diri lagi di tempatnya semula. Baru saja akan mengajak Ares bicara, suara lain sudah lebih dulu menginterupsinya.
"Res? Udah sadar lo?" Alden berderap menuju ranjang perawatan Ares, dengan Affan yang mengekor di belakangnya.
"Lo berdua lama amat?"
"Macet, Bro!"
"Ares gimana?" Kali ini Affan yang angkat bicara.
"Seperti yang lo berdua liat. Baru aja siuman dia. Tadi udah diperiksa juga sama Dokter kondisinya.
"Lo semua ngapain ngumpul di sini kayak mau arisan? Nggak pada kuliah?" Meski masih dalam kondisi lemah, Ares berupaya untuk bergabung dalam obrolan para sahabatnya.
"Kita kuliah siang," jawab Nathan sembari bersedekap tangan. "Gue sebenarnya gatal mau interogasi lo, Res, penasaran sama kronologi sampai bikin lo berakhir di sini. Tapi gue tahan dulu deh, kasihan, lo baru melek."
Mendengkus, meski dengan ringisan saat rasa sakit diperutnya membuat Ares mengernyitkan kening.
"Lo nggak apa-apa?" Tanya Affan yang diikuti raut cemas dari Nathan dan Alden.
"Perlu gue panggil Dokter lagi nggak?"
"Nggak usah, Nat, gue nggak apa-apa."
"Serius lo?"
"Hm ...."
"Jangan banyak gerak dulu, lo mending istirahat aja."
"Iya Res, nggak usah terlalu banyak pikiran juga."
Mengela napas panjang, Ares menatap ketiga sahabatnya. "Justru itu, gue harusnya udah balik ke Jepang. Masa liburan udah selesai, dan gue harus balik ke kampus."
"Nyokap lo juga pasti udah urus itu kok. Ya, gimana? Dengan kondisi lo yang sekarang, nggak akan bisa juga lo kuliah kan?" Tanya Nathan yang diangguki dua sahabatnya.
Meski enggan, Ares sadar apa yang Nathan bicarakan memang benar. Mungkin, untuk sementara, ia belum bisa balik ke Jepang untuk melanjutkan kuliahnya di sana dan fokus pada penyembuhan.
Mengerjap, Ares kemudian teringat sesuatu. "Nyokap gue?"
"Lagi balik ke rumah. Gue suruh istirahat, kasihan kecapean jagain lo semalaman."
"Gue jadi beban buat semua orang." Gumamnya merasa bersalah.
"Ck! Ngomong apa sih lo, Res? Namanya juga musibah, siapa yang mau memangnya?" Gemas Alden yang sebenarnya gatal ingin menggepelak kepala sahabatnya itu.
"Padahal belum terlalu malam ya, tapi kok bisa kena beg*l, Res?" Tanya Affan yang penasaran.
"Zaman sekarang mah, kejahatan nggak kenal waktu, Fan. Kapan pun harus hati-hati." Balas Nathan yang diangguki mereka semua.
"Jadi, awalnya gimana lo sampe kena beg*l—eh, hampir maksudnya." Ralat Alden cepat.
"Guys, sesi tanya-jawabnya nanti aja, Ares baru siuman."
"Nggak apa-apa, Nat. Gue tau lo sebenarnya juga udah kepo berat."
"Ck! Lo, Res, gue bantuin malah rese. Yaudah kalau gitu, jadi ... Gimana ceritanya?"
Mendengkus, Ares kemudian mengela napas, sebelum mencangkul ingatan akan peristiwa yang menimpanya malam itu. "Pas di jalan, mau ke tempat yang kalian minta, tiba-tiba ada seseorang yang menabrakkan diri. Kalau orang lain lihat, pasti kesannya dia ketabrak mobil gue. Tapi sebenarnya dia yang tiba-tiba muncul dan nabrakin diri. Karena kaget, gue berhentikan mobil dan langsung keluar buat lihat keadaan. Tapi ... Belum sempat lihat kondisi orang itu, tiba-tiba aja, ada orang lain yang serang gue. Dibantu sama pria yang pura-pura ketabrak tadi."
"Berarti mereka komplotan." Ucap Nathan.
"Iya, sepertinya memang begitu. Dan orang yang pura-pura tertabrak juga cuma akal-akalan aja." Timpal Affan kemudian.
"Lo lawan mereka sendirian?" Kali ini, Alden yang melempar tanya.
"Iya, jalanan sepi, padahal belum terlalu malam. Salah satu dari mereka pakai bel*ti buat nyerang gue yang udah kewalahan. Sampai akhirnya, mereka berhasil bikin gue terpojok. Apalagi, beberapa luka yang gue dapat, bikin tubuh melemah. Di tengah kesadaran yang udah hampir hilang, gue kayak dengar seseorang datang. Sayangnya, udah nggak bisa lagi bertahan dan akhirnya, gue pingsan." Ringis Ares.
"Oh, cewek itu jangan-jangan!" Seru Alden tampak antusias.
"Cewek?" Tanya Ares dengan wajah bingung, "maksudnya?"
"Lah, masa lo nggak tau, Res?"
"Lo lupa? Dia kan pingsan." Ucap Affan yang membuat Alden terkekeh kering sembari menggaruk pelipis.
"Lupa gue."
"Den, maksudnya cewek apaan?" Kejar Ares yang masih dirong-rong penasaran.
"Noh, tanya sama Nathan yang tau. Soalnya dia duluan yang sampai ke rumah sakit dan ketemu sama cewek itu."
Beralih pada Nathan, Ares melempar tatapan yang menuntut jawaban.
Mengela napas, Nathan menyugar rambut, "iya, pas lo nggak datang-datang, gue akhirnya inisiatif telepon. Tapi yang jawab suara cewek. Gue kira lo bawa pacar ke acara nanti. Gue udah siap sama berita heboh, seorang Ares akhirnya punya gandengan." Kekehnya sebelum kemudian berdeham dan menampilkan raut serius lagi, lalu melanjutkan ceritanya. "Tapi ... Apa yang cewek itu bilang, sukses bikin gue hampir jantungan. Dia bilang, lo hampir jadi korban beg*l. Gimana gue nggak panik? Pesta bahkan terpaksa dibubarkan dan gue, Alden sama Affan langsung pergi menuju rumah sakit yang cewek itu kasih tau lewat pesan. Pas sampai di sana, gue ketemu dia, cantik, Bro!"
"Nat, fokus!" Tegur Affan.
"Ck! Iye, ya ... Pokoknya, pas gue datang, langsung berondong pertanyaan, tapi itu cewek malah buru-buru pergi. Katanya harus pulang takut Neneknya khawatir. Gemesin banget nggak sih?"
"Cewek? Serius? Yang nolong gue cewek?" Ares tak habis pikir, bagaimana mungkin? Dia saja yang seorang pria, tak bisa menghadapi dua penjahat itu.
Nathan menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan. "Iya Res, yang nolong lo cewek. Dia juga yang anter lo ke rumah sakit pake mobil lo. Beberapa petugas rumah sakit yang gue tanya soal lo juga membenarkan kok, yang bawa lo ke sini itu cewek, sendirian. Dia juga minta bantuan buat angkut lo pakai brankar dorong sama salah seorang perawat."
"Gil* ... Keren banget dia. Gue jadi makin penasaran. Ah, sayang banget semalam nggak sempet ketemu." Sesal Alden dengan wajah merengut masam.
Sementara Ares, masih terbengong, tak percaya tapi cerita Nathan begitu meyakinkan. "Namanya siapa?" Tanya Ares kemudian.
Menggaruk rambutnya yang tak gatal, Nathan meringis pada Ares yang menunggu jawabannya. "Sayangnya, gue nggak tau. Seperti yang gue bilang sebelumnya. Dia tiba-tiba langsung pamit pergi pas gue datang. Buru-buru pulang karena takut Neneknya khawatir."
Mendesah kecewa, Ares menatap nyalang langit-langit kamar rawatnya. Dengan kepala yang dijejali rasa penasaran. Akan sosok gadis misterius yang sudah menolongnya.
Siapa dia? Gumam Ares dalam hati.