Luka Lama - 7

3510 Kata
Menyembunyikan kedua tangan di dalam saku hoodie yang dikenakannya, Binar menatap lautan lepas yang tersuguh di depan mata, menikmati gulungan ombak yang sesekali menghantam batu karang. Tiupan angin menerbangkan beberapa anak rambutnya yang terlepas dari kunciran. Tak mengusik kegiatan gadis itu yang tengah termenung. Bisakah ia sekokoh batu karang itu? Berapa kali pun dihantam ombak tanpa ampun, akan tetap berdiri kokoh. Meski ... Pada akhirnya akan mulai terkikis secara perlahan. Bibir kemerahan yang tak diberi apa pun seperti teman-temannya yang lain, terangkat membentuk senyuman tipis. Di tengah kekacauan keluarganya yang kian tak terkendali. Binar ingin memberi applaus pada diri sendiri karena masih bisa mengais fokus untuk tetap belajar dan akhirnya ... Sekarang, ia telah lulus dari pendidikannya di bangku sekolah menengah atas. "Bi!" Seruan seseorang yang tertangkap pendengaran membuat Binar menoleh, mendapati Agni yang tengah berlari menuju kearahnya. "Astaga ... Gue cari dari tadi, taunya bengong di sini. Ngapain sih? Bukannya gabung sama yang lain, seru tau! Daripada diam aja sendirian, nanti kesambet gimana? Atau diculik terus nggak ada yang tau?" Berdecak, Binar mengeluarkan tangannya dari dalam saku hoodie. Gadis itu sengaja memakainya agar seragam penuh coretan miliknya tersembunyi, takut mendapat omelan dari sang nenek nanti. Berbalik kearah sahabatnya hingga kini posisi mereka berhadapan. Binar membalas ucapan Agni. "Gue mau balik." "Lah, cepet amat? Acaranya kan belum selesai."  Untuk merayakan kelulusan mereka, teman-temannya memilih sebuah pantai yang lokasinya tak terlalu jauh. Mereka tak mungkin melakukan aksi corat-coret di sekolah, atau pun konvoi keliling jalanan yang bisa membuat resah pengguna jalan lainnya. Atau ... Yang lebih buruk, bisa saja dirazia pihak kepolisian. Jadi, atas inisiatif Eric dan teman-temannya, kemudian memutuskan merayakan di pantai. Terlebih, keluarga Eric rupanya memiliki sebuah resort di dekat pantai tersebut. Dan memberi fasilitas makan-makan sebagai perayaan kecil-kecilan. "Gue nggak bisa ninggalin Nenek lama-lama. Kasihan harus jaga nyokap sendirian."  Usai pertengkaran hebat yang berakhir dengan kepergian sang Papa yang memilih meninggalkan rumah. Membuat kondisi Mamanya terpuruk. Selain menangis dan berteriak histeris dengan memecahkan barang-barang. Wanita itu kian depresi usai mendapat surat gugatan perceraian selang seminggu sang Papa pergi dari rumah. Dyra memang tak lagi menangis dan berteriak histeris, tapi wanita itu berubah menjadi pendiam dengan pandangan kosong, bahkan ... Tak pernah lagi berbicara dengan siapa pun. Kondisi yang membuat Binar dan sang nenek khawatir. Tak butuh waktu lama, proses perceraian kedua orangtua Binar akhirnya mendapat keputusan pengadilan. Dua orang dewasa yang selalu terlibat pertengkaran itu tak lagi terikat hubungan suami-istri. Entahlah, Binar tak begitu tau mengenai pembagian harta gono-gini, karena semua diurus sang nenek yang membuatnya merasa pilu. Diusia senja, masih harus mengurus putrinya yang mengalami depresi akibat pernikahan yang berakhir dengan cara menyedihkan. Rumah yang selama ini ditinggali, diberikan pada Dyra sebagai salah satu harta gono-gini. Sayangnya, rumah itu terpaksa di jual untuk menambah biaya pengobatan wanita itu.  Si Mbok yang telah bekerja sejak Binar bayi pun terpaksa berhenti bekerja. Wanita paruh baya yang Binar anggap layaknya ibu sendiri, yang bahkan mengurus dan menyayanginya melebihi kedua orangtuanya memilih pulang kampung. Mengurusi cucu dan berkebun hasil kerja kerasnya selama ini. Sekarang, Binar dan sang Mama tinggal di rumah sederhana peninggalan sang Kakek. Meski begitu, ia merasa lebih nyaman dan tenang. Karena pendengarannya tak lagi dijejali pertengkaran yang membuat kepalanya serasa mau pecah. "Bi?" Sentuhan dilengan dan suara Agni yang memanggil namanya membuat lamunan Binar koyak. Mengerjap, gadis itu meringis sembari menggumamkan permintaan maaf karena terseret lamunan hingga mengabaikan sahabatnya. "Kenapa, Ni?" "Setelah ini lo mau lanjut kemana?" Tak ingin membuat Binar sedih dengan pembahasan tentang keluarga yang cukup banyak Agni tau, ia memilih untuk membicarakan hal lain. Mengedikkan bahu, Binar mengela napas panjang, "gue belum tau." "Tadi sih, gue nggak sengaja dengar soal Eric yang bakal lanjut sekolah keluar negeri." Menaikan satu alis mata, Binar menatap Agni yang justru cengengesan. "Terus? Nggak ada urusannya sama gue kan?" Berdecak gemas, Agni menggaruk pelipis, "lo tuh harusnya terima aja si Eric, kan lumayan Bi, punya kenang-kenangan masa SMA, pernah jadi pacar pentolan sekolah." Menatap malas, Binar hanya mengedikkan bahu, "gue nggak punya waktu untuk hal-hal semacam itu, Ni. Masalah di rumah aja udah bikin gue kewalahan." "Justru itu, dengan adanya seseorang yang bisa lo jadiin sandaran, bukannya mengurangi beban pikiran lo?" "Mungkin, tapi gue rasa, bukan Eric orangnya. Yang ada, beban pikiran gue makin bertambah." "Kenapa sama gue?" Suara seseorang yang tiba-tiba hadir membuat Binar dan Agni menolehkan kepala secara bersamaan. Dengan dua ekspresi wajah yang berbeda, di mana Agni membelalakkan mata dengan raut terkejut, seolah tengah tertangkap basah telah menggosipkan seseorang yang si*lnya dipergoki orang tersebut. Sementara Binar, masih memperlihatkan wajah tenang yang menjurus kearah tak peduli. Berdeham canggung, Agni menggaruk ujung hidung. "Hm ... Bi, gue balik ke sana dulu ya, l—lupa, belum minta tanda tangan sama Remi. G—gue ... Duluan, bye!" Tersenyum kecil, saat tatapannya bersirobok dengan netra milik Eric, Agni berderap cepat meninggalkan sejoli yang ia tau butuh privasi. "Jadi, ada apa sama gue?" Ulang Eric yang kini sudah berhadapan dengan Binar, mengantikan posisi Agni tadi. "Tidak ada, dan bukan sesuatu yang penting."  Mengangguk samar, Eric menatap Binar yang sudah membalik tubuh hingga kembali menghadap lautan.  Mengikuti pergerakan gadis itu, Eric pun menghadap laut dan berdiri di samping Binar yang memilih bungkam. "Lo tau? Gue kira, awalnya cuma penasaran sama gadis pemberani yang udah nolong dan nggak bikin gue berakhir di ruang ICU, kalau aja waktu itu balok kayu menghantam kepala gue." "Lo nggak bosan bahas soal itu terus?" Dengan tatapan yang tak teralihkan dari lautan lepas, Binar akhirnya meladeni pembicaraan yang Eric ciptakan. "Lagipula, gue cuma bantu lo satu kali. Sementara lo? Udah berkali-kali. Jadi, kalau mau hitung-hitungan, jelas gue yang lebih banyak dapat bantuan dari lo." Merekahkan senyuman, Eric akhirnya menoleh ke arah Binar, menatap lekat gadis itu dari samping. "Entahlah, mungkin itu cuma alasan supaya gue bisa tetap berurusan sama lo." Menoleh dan membalas tatapan Eric, Binar bersedekap tangan. "Sekarang, kita nggak akan berurusan lagi. Terlebih, lo mau ke luar negeri buat lanjut sekolah kan?" Berdecak, Eric merutuki mulut-mulut bocor teman-temannya hingga berita tentangnya yang akan lanjut sekolah ke luar negeri tersebar begitu cepat.  "Nanti, setelah bertahun-tahun, sampai akhirnya kita bertemu lagi dengan keadaan belum terikat bersama siapa pun, gue bakal kejar lo lagi, dan nggak akan gue lepaskan." Terkekeh dengan kepala menggeleng, Binar mengangkat tangan kanannya, menepuk-nepuk pundak Eric yang hanya diam memerhatikan. "Sorry, gue nggak bisa gabung lama-lama, karena harus pulang. Terima kasih untuk pesta perpisahan yang lo buat secara dadakan ini." Usai mengatakan itu, Binar melangkah pergi tanpa menunggu jawaban dari Eric. Tapi ... Baru dua langkah yang gadis itu jejak, Eric menahan lengannya hingga membuat Binar menoleh dengan satu alis terangkat dan wajah bertanya. Merogoh saku celana abu-abunya, dengan satu tangan yang tak memegang lengan Binar, Eric mengacungkan sebuah spidol. "Gue belum dapat coretan dari lo." Mendengkus, Binar mengentak pelan hingga tangan Eric dilengannya terlepas. "Apa itu penting?" Meneliti seragam Eric yang bagian depannya bersih dari coretan, berbanding terbalik dengan bagian belakang seragam cowok itu yang sudah dipenuhi tanda tangan, quotes dan Pylox. "Penting, karena gue sengaja kasih lo tempat spesial," menyodorkan spidol pada Binar, satu tangannya lagi menunjuk kearah d*danya. "Di sini," ucap Eric dengan senyuman yang bisa membuat para gadis kelimpungan menahan pesonanya. Si*lnya, hal itu tak berefek apa pun pada Binar yang dengan malas-malasan, memberi tanda tangan di tempat yang Eric minta, sebelum kemudian memberikan kembali spidol pada cowok itu. "Lo nggak mau minta tanda tangan gue? Lo tau? Gue nggak kasih tanda tangan ke siapa pun." "Tidak, terima—HEI!" Binar menjerit kesal saat Eric tiba-tiba mencoret hoodie yang dikenakannya dengan tanda tangan dan kata-kata manis dari pria itu dibagian perut dengan ukuran besar. "Ish! Spidol lo permanen, gimana gue bersihinnya?"  Si*lan! Ini adalah hoodie favorit Binar. "Bagus dong, biar tetap ada." Berdecak kesal, Binar akhirnya berlalu pergi dengan rasa dongkol yang kini menggelayuti. ""GUE SERIUS DENGAN UCAPAN GUE TADI!" Tanpa menoleh atau pun membalikkan badan, Binar hanya mengangkat tangan kanan sembari melambai singkat. Meninggalkan Eric yang membatu di tempatnya berdiri, dengan tatapan yang tak lepas dari punggung Binar yang kian menjauh. *** Memesan ojek online, Binar tak lekas pulang ke rumah seperti ucapannya pada Agni, ia justru mendatangi kediaman sang Oma, yang sejujurnya ... Tak begitu dekat dibanding dengan sang Nenek. Usai membayar, Binar mendongakkan kepala, menatap rumah dua lantai yang sudah cukup lama tak di datanginya. Mengela napas panjang, gadis itu mengayunkan langkah. Berbicara pada petugas keamanan yang membukakan gerbang dan mempersilakannya masuk. Meski jarang datang, beruntung beberapa pekerja di rumah sang Oma masih mengenalinya. Langkah Binar yang sebelumnya terhela tiba-tiba terhenti. Mematung sejenak, tatapannya tertuju pada sebuah mobil yang sangat familiar untuknya. Menjatuhkan pandangan pada plat nomor di mobil tersebut, keyakinannya kian menguat. Itu ... Memang milik sang Papa. Seketika, ragu merongrong.  Tapi ... Bukankah kedatangannya ke rumah sang Oma untuk menanyakan keberadaan sang Papa? Karena, sejak berpisah dengan Mamanya, pria itu seolah lenyap tanpa kabar. Mirisnya, nomor ponselnya pun tak lagi bisa dihubungi. Apa memang ingin menghilangkan diri sampai seperti itu? Meski begitu, Binar memilih menebalkan wajah untuk mencari keberadaan sang Papa. Ini semua demi masa depannya. Binar tak mau membahas tentang kelanjutan sekolahnya ke universitas dengan sang Nenek karena tak mau menyusahkannya yang sudah dipusingkan dengan kondisi sang Mama.  Jadi akhirnya, Binar memilih untuk membahas soal rencana kuliahnya dengan sang Papa. Karena ... Walau bagaimanapun, dia masih tanggung jawab pria itu bukan? Berpisah dengan Mamanya bukan berarti memutus statusnya juga sebagai anak. Mengendapkan ragu, Binar menekan bel, menunggu pintu besar di hadapannya terbuka. Saat gadis itu menunduk menatap sepasang sepatunya, suara pintu yang terbuka dan sapaan antuasias seseorang yang tertangkap pendengaran membuatnya mengangkat wajah. "Neng Binar?!" Melengkungkan senyuman, Binar menganggukkan kepala, "halo, Bi?" "Ya ampun ... Makin cantik, Bibi pangling, tapi untungnya masih ngenalin." Tersenyum canggung, Binar mengangguk, "saya juga makasih, Bibi masih ingat sama saya." "Ya masa iya lupa, Neng?" Terkikik kecil, wanita paruh baya bertubuh tambun itu mempersilakan Binar masuk. "Lagi pada kumpul di ruang tamu Neng, mari Bibi an—" "Hm ... Bi, tidak perlu, saya sendiri saja yang ke sana." Mungkin sang Papa tengah membahas sesuatu dengan Oma serta Opanya. Tapi cukup aneh, kenapa harus di ruang tamu? Entahlah, Binar tak mau ambil pusing untuk persoalan seperti itu. Meringis kecil, wanita paruh itu ingin mengatakan sesuatu tapi urung, karena Binar sudah lebih dulu berpamitan untuk menuju ke ruang tamu. Menggaruk kepala, asisten rumah tangga itu akhirnya berlalu menuju dapur. Berharap, semua akan baik-baik saja. Binar sendiri sudah sampai di ruang tamu dan nyaris memberi salam dan menyapa semua orang yang berada di sana. Sebelum lidahnya tiba-tiba berubah kelu. Terlebih ... Pemandangan yang kini tersuguh di depan matanya membuat tubuh gadis itu membeku. Menyembunyikan diri, dia tiba-tiba tergoda untuk mencuri dengar. "Jadi kalian sudah menyiapkan pernikahannya?" Itu suara sang Oma, yang terdengar begitu antusias. Sesuatu yang sebelumnya jarang Binar temukan saat wanita tua itu berbicara dengan sang Mama. Pernikahan? Dengan kedua tangan yang terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, pandangan Binar sedikit memburam, dengan rasa panas yang menjalari kedua matanya. Menyaksikan hal yang tak pernah gadis itu perkirakan sebelumnya.  Di sana, memang ada sang Papa. Tapi ... Ada dua sosok lain yang membuat hati Binar tercabik menyedihkan. Pria yang bahkan tak pernah memberikannya senyuman itu tampak berbahagia. Duduk diapit dua wanita beda usia. Yang Binar perkirakan, tak berbeda jauh dengan sang Mama. Sementara di sebelahnya lagi, mungkin hanya berbeda satu atau dua tahun dengannya. Memeluk posesif lengan Papanya dengan kepala yang disandarkan nyaman dibahu tegap yang bahkan tak pernah Binar rasakan. Jadi ... Papanya akan membangun keluarga baru? Bahkan di saat status duda pria itu yang belum genap dua bulan? Tersenyum miris, Binar bertahan di posisinya. Alih-alih berlalu pergi dengan hati yang sudah berserakan. Dia justru memilih menikmati kesakitannya. "Kalau memang jodoh, mau selama apa pun terpisah, tetap saja kalian bisa kembali bersama ya?" Suara haru sang Oma mengembalikan fokus Binar yang sempat tak di tempatnya. "Ibu benar-benar berterima kasih, karena Sarah masih bersedia menerima Dendra setelah apa yang terjadi dulu." Wanita bernama Sarah itu tersenyum anggun, "Bu, jangan lagi bahas yang dulu. Kita sama-sama menatap masa depan." Masa depan? Kata itu bergentayangan di kepala Binar. Mereka sudah menyusun masa depan, lalu ... Bagaimana dengan dirinya dan sang Mama?  "Iya, tapi tetap saja, Ibu berterima kasih karena kamu bersedia menerima Dendra lagi." Lagi? Apa maksudnya? Apa itu berarti, sebelumnya pun mereka pernah bersama? Ada banyak pertanyaan yang berjejal di kepala Binar. Sayangnya, tak ada satu pun yang berhasil tercuri keluar dari bibirnya yang terkatup rapat. "Sarah juga berterima kasih sama Mas Dendra, sudah meyakinkan saya yang sempat terpuruk setelah kehilangan suami karena kecelakaan kerja dua tahun lalu. Terlebih, dengan hadirnya Mas Dendra, Patricia juga bisa kembali ceria. Lihat? Dia bahkan tak bisa lepas dan selalu bersikap manja. Beruntung, Mas Dendra selalu bersikap sabar." "Ya wajar, kan calon ayahnya. Tidak mudah menjalin hubungan dengan yang sudah memilki anak. Tapi yang Ibu lihat, kalian sudah sangat cocok dan seperti keluarga seutuhnya. Orang-orang pasti tak akan mengira Dendra ayah sambungnya Patricia." Dendra tersenyum dan mengelus kepala Patricia yang sejak tadi diam dan bergelung nyaman dilengannya. "Oya Bu, ada satu lagi yang ingin Dendra beritahu selain rencana pernikahan kami." "Apa Dra?" "Dendra," melirik pada sosok Sarah yang hanya memberi senyuman dan anggukan, Dendra kemudian melanjutkan ucapannya. "Di pindahin ke cabang yang ada di Jepang. Jadi mungkin, setelah menikah nanti, kami akan pindah ke sana." "Loh, kok nggak bilang?" "Ini kan Dendra bilang, Bu." "Ck! Maksud Ibu, kenapa dadakan? Harusnya dibicarakan dulu sebelumnya. Sarah sendiri gimana? Bersedia pindah memangnya?" "Dendra sendiri baru dapat kabar itu beberapa hari yang lalu Bu. Dan ... Sudah membicarakannya sama Sarah. Dia setuju, apalagi, baru resign dari pekerjaannya karena setelah menikah dengan Dendra nanti, mau fokus urus keluarga saja katanya." "Benar Bu, selama ini, Sarah bekerja dan kurang ada waktu untuk Patricia. Nanti, setelah menikah dengan Mas Dendra, mau di rumah saja urus keluarga." "Oalah ... Bagus itu, memang seharusnya seperti itu saja. Toh, sudah ada Dendra yang bekerja. Kalau kalian sama-sama sibuk, kasihan Patricia, nanti kesepian." Semua mengangguk menyetujui. Wajah-wajah bahagia itu tiba-tiba berubah kaku saat ayah Dendra angkat bicara dan mengangkat topik yang membuat mereka bungkam. "Anakmu bagiamana Dra? Kalau Ayah tidak salah, tahun ini Binar lulus kan? Kamu sudah berbicara dengan dia? Sudah tau akan melanjutkan sekolahnya di universitas mana? Ambil jurusan apa? Sudah kamu bicarakan juga soal pernikahan dan kepindahan kamu yang mau stay di luar negeri?" "Yah," tegur sang istri dengan raut tak suka. "Apa sih? Kok jadi bawa-bawa anaknya Dendra. Itu ada Patricia." Bisiknya sembari melirik gadis muda yang sebelumnya bermanja pada putranya kini meletakan atensi pada pembicaraan mereka dengan raut tertarik. "Loh, kenapa? Memang harusnya begitu kan? Bu, Dendra boleh saja bercerai dari Dyra, tapi bukan berarti melepas tanggung jawabnya pada Binar. Dia cucu kita juga, Ibu tidak suka sama Dyra, tapi jangan bawa-bawa Binar. Dia nggak salah apa-apa. Lagipula, setau Ayah, Binar anak baik, pintar, sewaktu SD sering juara. Apa sampai sekarang masih bagus prestasinya Dra?" Berdeham canggung, Dendra tampak kikuk mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Ayahnya mengenai Binar yang tak diketahuinya sama sekali. Tapi ... Dari yang dia dengar dari si Mbok, anaknya itu memamg pintar dan berprestasi di sekolah. "M—masih, Yah." Ucapnya dengan nada ragu yang membuat sang Ayah menggelengkan kepala tak habis pikir.  "Jadi kamu akan bicara sama Binar kan?" "Yah, sudah, kok masih bahas Binar terus?" "Loh, memangnya kenapa?" "Ya jangan sekarang. Nggak enak ada Sarah sama Patricia." "Ibu itu aneh, bahas cucu sendiri kok ogah-ogahan." Mengedikkan bahu tak acuh, wanita paruh baya itu meraih cangkir teh, menyesap minumannya dengan pelan, sebelum kemudian meletakkannya kembali ke atas piring kecil dan membalas ucapan sang suami. "Sejujurnya, Ibu itu ragu kalau Binar anaknya Dendra." "BU!" "Apa sih, Yah? Jangan teriak-teriak, memangnya Ibu budeg?" "Jangan bicara sembarangan!" "Loh, siapa yang bicara sembarangan? Ibu kan cuma berpendapat." "Apa yang Ibu katakan tadi itu bukan pendapat. Tapi menjurus ke fitnah!" "Kok jadi nuduh Ibu fitnah? Namanya pendapat yang sah-sah saja. Lagian, Dyra itu tiba-tiba ngaku hamil anaknya Dendra padahal tau anak kita sudah punya calon istri." "Yah, Bu, sudah, jangan bertengkar." "Ayah kamu itu Dra yang mulai. Bentak-bentak Ibu segala." Mengela napas panjang, pria paruh baya itu hanya bisa memijat pangkal hidung. "Terserah saja. Ayah tau kamu sudah dewasa, Dra. Sudah bisa memutuskan jalan hidup sendiri. Kalau memang seperti ini yang bikin kamu bahagia, yasudah. Tapi Ayah hanya berpesan, jangan sampai kamu lupa sama kewajiban kamu sebagai seorang Ayah untuk anaknya sendiri. Sekali pun tak lagi terikat sama Ibunya, anakmu masih punya hak atas kamu. Karena status Ayah dan Anak tak bisa diputus dengan hal apa pun." Sejenak, sepi meraja. Semua orang tampak bungkam, usai mendengar ucapan Ayah Dendra yang sepertinya berhasil melecut hati mereka.  Binar sendiri hanya menatap hampa, sosok sang Papa yang telah menemukan kebahagiaannya. Tersenyum muram, gadis itu membalik tubuh. Mengayunkan langkah yang sejujurnya terasa begitu berat. Mengubur semua rencana yang sebelumnya tersusun di kepala.  "Loh, Neng Binar mau kemana?" Suara seseorang yang tertangkap pendengaran membuat langkah Binar terinterupsi. Menolehkan kepala, gadis itu berusaha menciptakan senyuman di wajahnya yang tampak murung.  "P—pulang," ucapnya singkat dengan suara tercekat. Asisten rumah tangga di rumah Omanya itu mendekat, dengan nampan berisi gelas yang terisi jus jeruk. "Kok sudah mau pulang? Bibi baru aja mau antar minuman buat Neng Binar." "Seharusnya tidak perlu repot-repot." "Ini sudah tugas Saya, Neng." Tak ingin mengecewakan, Binar mengucap terima kasih, sebelum meraih gelas di atas nampan. Meneguknya dengan cepat hingga gelas yang sebelumnya terisi penuh jus jeruk, akhirnya tandas. "Enak, makasih ya, Bi." Setidaknya, kini dia bisa merasa sedikit lebih tenang. Meski hatinya tetap saja berceceran. Usai mendengar pembicaraan orang-orang yang berada di ruang tamu tadi. "Sama-sama, Neng. Sering-sering main ke sini ya?" Tersenyum lemah, Binar tak bisa mengucap janji yang sepertinya mustahil itu. Karena setelah ini, dia akan berpikir ribuan kali untuk menginjakan lagi kakinya ke rumah ini. Mengingat, kehadirannya tak pernah diinginkan. Seharusnya Binar terbiasa diabaikan, si*lnya, ia tetap merasakan sakit yang membuat d*danya sesak. "Saya pamit pulang Bi," ucapnya, tanpa menunggu jawaban dari wanita paruh baya itu. Tapi ... Baru satu langkah ia jejak, gadis itu kembali berbalik. "Bi?" "Eh, iya Neng? Kenapa? Ada yang bisa Bibi bantu?" Menggigit bibir bawahnya, Binar mengepalkan kedua tangan di masing-masing tubuh, sebelum akhirnya kembali berbicara. "Tolong, jangan beritahu siapa pun, kalau saya ke sini." Mengerjap, wanita paruh baya itu tampak kebingungan dengan permintaan Binar yang menurutnya cukup aneh. "M—maaf Neng, tapi memangnya kenapa?" Melihat raut sedih yang terlukis jelas di wajah cantik gadis muda di depannya membuat wanita paruh baya itu terenyuh. Hingga mengabaikan rasa ingin taunya. "Baik Neng, Bibi janji, nggak akan bilang siapa-siapa Neng Binar hari ini datang ke sini." Merekahkan senyuman, Binar mengucap penuh rasa terima kasih. Sebelum kemudian berpamitan lagi dan kali ini benar-benar melangkah pergi, dari kediaman orangtua sang Papa. Dengan luka baru yang berhasil tertoreh dihatinya, yang kian sekarat dengan segala rasa sakit yang selalu ia telan paksa seorang diri. Tak ingin keberadaannya diketahui, Binar memilih menaiki taksi yang baru saja mengantar salah seorang tetangga rumah Omanya.  Menyandarkan kepala di jendela mobil, gadis itu terdiam, dengan semua pembicaraan yang tadi didengarnya, kini kembali terputar di ingatan. Membuat bulir mata yang sebelumnya ia tahan mati-matian, perlahan meluruh membasahi kedua pipi. Setelah beberapa lama, Binar akhirnya sampai di rumah. Bukan lagi rumah besar dua lantai yang telah dijual untuk biaya pengobatan sang Mama. Tapi rumah sederhana peninggalan sang Kakek.  Membuka pagar yang dipenuhi karat dibeberapa bagian dan mengeluarkan suara derit setiap kali digeser. Binar melangkah masuk ke halaman yang dipenuhi daun-daun kering. Sepertinya dia sudah harus menyapunya lagi. Sebelum sang Nenek yang melakukannya. Tapi tak akan Binar biarkan. Terlebih, ia cukup sering mendapati sang Nenek yang meringis sembari memegangi pinggang. Membuka pintu, Binar mengucap salam dan mendapat sahutan dari Neneknya yang tampak memegang nampan berisi makanan yang ia tebak untuk sang Mama. "Sudah pulang?" Menganggukkan kepala, Binar mengambil alih nampan tersebut, "Binar aja ya Nek." Mengela napas, sang Nenek mengangguk. "Kamu nggak mau bersih-bersih dan makan dulu memangnya?" "Sudah makan tadi sama teman-teman." "Yasudah, Nenek mau beresin belanjaan di kulkas." "Binar aja nanti abis ini. Nenek istirahat aja." "Kalau cuma diam, badan Nenek justru jadi sakit." Tak lagi mendebat, Binar akhirnya berpamitan menuju kamar sang Mama.  Membuka pintu, dengan satu tangan yang memegangi nampan berisi makanan untuk sang Mama. Binar menatap sendu, sosok pucat yang tengah memeluk lutut di atas tempat tidur. Menatap kosong, dan tak memedulikan apa pun yang berada di sekitarnya. Melangkah masuk, Binar meletakan nampan ke atas nakas yang berada di samping tempat tidur. Mendudukkan diri di pinggir kasur, ia mengulurkan tangan untuk menyelipkan anak rambut yang menjuntai dan mengganggu wajah sang Mama. Setelah terdiam, dengan mata yang tak lepas menatap sang Mama. Tangis Binar akhirnya pecah, menghambur ke dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya ke dunia, gadis itu terisak memilukan. "Tak apa Ma, masih ada Binar, kita pasti akan baik-baik saja tanpa Papa." Meski tak mendapat balasan dari sosok yang kini dalam dekapannya, Binar tak masalah. "Mulai sekarang, Binar akan bekerja keras untuk hidup kita." Bisiknya dengan penuh keyakinan. Dari balik pintu kamar yang terbuka, ada sosok lain yang juga tak bisa membendung kesedihannya. Mata tua itu basah, mendapati sang cucu dan putrinya yang bak kehilangan hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN