Kini Vian sedang duduk sendiri di meja makan sembari menunggu asistennya selesai menghidangkan makanan. Gadis kecilnya tak kunjung keluar dari kamar. “Leya kemana, Bi?” “Maaf, Tuan. Katanya gak lapar, mau langsung tidur,” jawab asistennya. Vian menoleh ke arah kamar Leya, tidak ada tanda-tanda gadis itu akan keluar dari kamar. Ditariknya napas dalam-dalam, ia menyadari kalau langkahnya sudah melewati batas. Namun, status mereka sudah resmi. Sebuah ciuman tentu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan—setidaknya itulah yang Vian pikirkan. Tak mungkin membiarkan istrinya itu kelaparan, Vian menyusun nasi berserta lauknya di atas piring dan membawanya ke kamar Leya. Ia ragu Leya mau melihatnya untuk sekarang, namun ia yakin gadis itu tidak akan makan jika tidak dipaksa.

