Shevaya sudah menyiapkan sarapan dengan tergesa-gesa, dia hanya ingin Denver memakan sarapannya setelah pagi tadi kembali muntah-munta. Ada sedikit rasa bersalah di hati Shevaya, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan karena kini semua yang Denver alami memang bukan hal yang biasa dia alami. “Sarapan dulu Mas,” ujar Shevaya ketika Denver sudah rapi. “Hem,” ucap Denver lalu duduk dengan tenang. Shevaya lalu menyiapkan makanan dan mereka sarapan bersama, ada sedikit kebahagiaan dalam hati Shevaya setidaknya Denver kini tidak menolaknya. Denver tidak marah dan masih mau memperhatikan Shevaya yang sudah bersemangat untuk membuatkan sarapan untuknya. “Mas nanti pulang jam berapa?” tanya Shevaya. “Biasa.” “Mas aku nanti habis kuliah mau ke—” Pembicaraan Shevaya terpotong ketika D

