O.N.C.E Part 9 End Holiday

2474 Kata
Author Pov. Pagi yang cukup dingin namun menakjubkan, gara gara semalaman mati lampu dan baru saja hidup satu jam yang lalu, membuat Letisha tidak bisa tidur nyenyak, ditambah mereka tidur di atas laut membuat Letisha was was. Letisha sudah keluar dari rumah yang semalam dia tempati, Letisha hanya berdiri di depan rumah, sambil menikmati pemandangan pagi di kampung Bajo, yang berada di tengah laut, sudah banyak orang menaiki kapal, mungkin mereka sepagi ini sudah melaut, atau mereka baru saja pulang dari melaut entah dia tidak tau, namun biasanya di pagi hari akan ada pasar apung yang menjual kebutuhan sehari hari, sepertinya dia harus kesana, namun Devan belum juga bangun. Letisha masuk kedalam rumah, namun dia tidak menemukan keberadaan Devan, apa Devan sudah bangun, tapi dia dimana?, Letisha keluar dari kamar, dia mendengar gremecik air di belakang, mungkin Devan sedang mandi, Lebih baik Letisha segera bersiap. “Sudah siap?.” Tanya Devan, pagi ini memang Letisha dan Devan akan pergi ke pasar apung di kampung Bajo sekalian mencari makan, perut Letisha dan Devan sama sama kroncongan minta diisi. “Sudah,” Letisha dan Devan segera keluar dari rumahnya, namun Devan mengurungkan niatnya ketika ingin membuka pintu. “Tidak ada barang yang tertinggal?,” Tanya Devan, mencoba memastikan, takut takut Letisha meninggalkan chargeran ponselnya seperti beberapa hari yang lalu saat Letisha dan Devan jalan jalan di taman, Letisha meninggalkan charger ponselnya di restoran tempat mereka makan siang, beruntung jarak dari hotel ke restoran cukup dekat, jika jauh mungkin Devan tidak akan mau mengambilkan charger ponsel letisha. “Sepertinya tidak ada, kita hanya menaruh barang di kamar, dan sekarang di kamar tidak ada apapun kecuali kasur lipat dan lampu serta lilin. Devan mengangguk benar juga, mereka hanya menaruh barang barang mereka di kamar dan kamar sudah cukup rapi. Laki laki yang mengantar mereka kemarin sudah menunggu di depan rumah. “Selamat pagi Tuan Nona, kapalnya sudah saya siapkan, mari,” Devan dan Letisha berjalan menuju kapal sampan yang ada di dermaga kecil dekat dengan rumah yang mereka tempati semalam. Anak anak kecil asik bermain di pinggir dermaga, apa mereka tidak takut jika jatuh kelaut, bukannya lautnya sangat dalam. “Nona tenang saja, anak anak berusia tiga tahun sudah bisa berenang, disini selalu ada petugas yang berjaga.” Mungkin melihat wajah khawatir Letisha laki laki yang menjemput Letisha dan Devan memberi penjelasan pada Letisha. “Apa mereka tidak bersekolah?.” Tanya Letisha lagi. “Disini ada sekolah, namun bergantian, karena minimnya kelas dan tenaga pendidik, kebanyakan anak anak disini sekolah di darat, di Wangi Wangi dan pulau sekitar yang memiliki sekolah yang sesuai jenjang Pendidikan mereka.” Letisha tidak menyangka Pendidikan disini sangat minim, andai dia masih berada diorganisasi seperti saat dia kuliah dulu, mungkin dia akan mengajak teman temannya datang dan mengajar disini. “Lalu untuk kesehatan sendiri, apa ada Dokter dikampung ini?.” Tanya Letisha lagi. “Tidak ada Dokter, hanya ada satu perawat itupun baru lulus kuliah satu tahun yang lalu dan baru buka praktik di kampung ini,” Letisha mengangguk. “Untuk rumah sakit, apa ada rumah sakit terdekat?.” Tanya Devan, “Ada di Wangi Wangi itupun hanya rumah sakit pemerintah daerah dan beberapa rumah sakit kecil, namun kami beruntung, akses kesana cukup mudah dan berada di dekat pantai, berbeda dengan dulu, butuh beberapa jam untuk sampai dirumah sakit Kendari, belum lagi terkadang tidak ada Dokter yang menangani, sekarang sudah lebih baik, semoga kedepannya semakin baik,” Doa dan harapan diucapkan laki laki yang mengantar mereka ke pasar apung. Hanya butuh waktu lima menit mereka sampai di pasar apung, Letisha melihat banyak sekali pedagang dan penjual makanan disini, wahhh sungguh ini benar benar menakjubkan, bahkan buah buahan dan sayuran juga ada, apa mungkin mereka pergi kedaratan sebelum berjualan disini, tapi mungkin saja, karena disini tidak ada tanah untuk bercocok tanam. Kapal berhenti di dermaga, Devan dan Letisha segera turun dari kapal, mereka akan sarapan terlebih dulu, sebelum menjelajah lebih lanjut. Makanan disini rata rata ikan, cumi, kerang, udang, jarang sekali ada sayur, namun itu sungguh enak sekali, apa lagi aromanya sangat menggugah selera makan. “Devan, aku mau keliling pasar lagi,” Devan mengangguk, mengiyakan, setelah mereka makan, mereka berdua kembali ke dermaga, tadi Devan sempat mengajak orang yang mengantarnya untuk ikut makan, namun dia bilang dia sudah makan, jadi dia menuggu di dermaga saja. “Pak, saya mau keliling dulu ke pasar, apa bisa?,” Tanya Letisha, mereka sudah duduk kembali dikapal. “Bisa Non, biasanya wisatawan berkunjung kesini membeli pernak pernik, saya antar ke penjualnya,” Letisha mengangguk, wahhh dia sudah tidak sabar untuk membeli pernak pernik itu. Benar saja,, Letisha langsung kalap membeli banyak aksesoris, walau harganya tidak semahal aksesoris miliknya namun Letisha suka, mulai dari motifnya hingga kain tenunnya, Letisha membeli beberapa gelang, kalung, dan kain tenun khas kampung Bajo, hampir semua pernak pernik yang di jual terbuat dari cangkang kerang, ada juga dari tempurung kepala, namun itu hanya beberapa. Devan tentu saja yang membayar semua belanjaan Letisha, namun Devan tidak pernah mengeluh sama sekali, dia hanya membayar apa yang dibeli Letisha, toh Letisha tidak membeli barang yang aneh aneh, jadi tidak ada alasan bagi Devan untuk marah ataupun melarang Letisha untuk berbelanja, yang penting uang ada. Letisha bahkan membeli pernak pernik yang bisa dipajang di rumah, karena disisni banyak banget pernak pernik lucu dan pastinya enak banget di pandang. Setelah pulang dari pasar apung, Devan dan Letisha segera bersiap, mereka harus kembali di Wangi Wangi, untuk mengejar penerbangan nanti malam, dari Kendari ke Jakarta, beruntung semua barang barang Devan dan Letisha berada di hotel Wangi Wangi dekat dengan bandara, jadi tidak perlu kembali ke hotel di Kendari. Devan dan Letisha terlebih dulu kembali ke hotel mengambil barang barangnya dan juga menata barang barang yang Letisha beli di Suku Bajo. Dua koper dan satu kardus besar, bahkan baju Letisha dan Devan di jadikan satu koper, satu koper lagi digunakan untuk menaruh belanjaan Letisha dan Devan, begitu juga dengan kardus yang penuh dengan pernak pernik dan hiasan yang Letisha beli. “Dev, kira kira overload bagasi enggak ya?.” Tanya Letisha, takut takut barang mereka tidak bisa ke angkut. “Santai aja,, lagian kita naik bisnis class pasti dapat tambahan bagasi.” Balas Devan, Devan masih sibuk memberikan selotip pada kardus dihadapannya. “Ok lah,, aku pesan taxi dulu ke bawah, minta sama petugas hotel buat nyiapin taxi,” Devan mengangguk, membiarkan Letisha memesan taxi kebawah, lagian ini sudah hampir selesai. Hanya butuh waktu lima belas menit taxi datang, beruntung barang barang Devan dan letisha sudah diangkut dibawa keluar ke loby hotel. Tidak lupa Devan memberikan tips pada petugas hotel yang membantu mereka membawakan barang barangnya. “Devan laper,,” Letisha dan Devan sudah sampai di bandara tiga puluh menit yang lalu, penerbangan masih sembilan puluh menit, namun mereka sudah chek in di bandara. “Ayo cari makan,” Devan mengajak Letisha mencari makan. “Yang cepat saji, aku udah kelaparan.” Pinta Letisha. Devan membawa Letisha ke restoran cepat saji yang berada di bandara. “Kamu pesan makanan, aku ketoilet bentar, jangan beli minuman bersoda,” Devan menyarkan uang pada Letisha, meninggalkan Letisha di restoran sementara Devan pergi ke toilet. “Devan astaga.” Letisha kaget dengan keberadaan Devan yang duduk di hadapannya karena sedari tadi dia hanya duduk sendirian. “Kenapa?,” Tanya Devan tanpa rasa bersalah telah membuat istrinya itu kaget. “Kamu bikin kaget,” Balas Letisha. “Makanya jangan bengong,, suami ganteng gini malah di anggurin.” Balas Devan dengan pedenya. “Emang kamu genteng?.” Tanya Letisha balik, membuat Devan menghentikan kunyahannya. “Kamu kira aku jelek?.” Devan malah kembali bertanya pada Letisha. “Kamu enggak genteng, kamu enggak jelek, tapi kamu tampan,” Ucapan Letisha barusan mampu mereda emosi Devan, lanjutkan makanmu, Devan sedikit salting karena baru kali ini Letisha memujinya secara terang terangan. Devan tidak memperdulikan Letisha, dia langsung mengambil piring yang berisi nasi ayam goreng, sudah beberapa hari dia hanya makan makanan laut, dia merindukan daging dan sayuran. Sambil menunggu take off Letisha tiduran di kursi tunggu bandara, beruntung hari ini tidak banyak orang jadi dia bisa tidur walau hanya beberapa saat karena Devan membangunkannya, dan mengancam akan meninggalkannya di Wangi Wangi jika dia tidur lagi, mau tidak mau Letisha menahan kantuknya hingga mereka berada di pesawat, untung mereka kembali ke Jakarta dengan bisnis class, jadi Letisha menggunakan waktu penerbangan selama kurang lebih tiga jam itu untuk tidur, begitu juga dengan Devan, dia terlelap setelah melihat Letisha tidur. *** Devan membangunkan Letisha setelah pesawat landing, namun Letisha tidak junjung juga bangun, mau tidak mau Devan mengendong Letisha hingga sampai ke mobilnya, beruntung dia memiliki akses untuk membawa mobilnya hingga ke landasan pacu bandara, jadi Devan tidak terlalu kelelahan. Berterimakasihlah pada Xander, karena sebenarnya Xander yang memiliki akses tersebut, namun Devan juga bisa menggunakannya karena Devan asisten Xander. “Selamat malam Tuan Devan, selamat datang kembali,” Supir Devan menyapa Devan. “Malam, tolong ambil koper dan barang barang lainnya,” Pinta Devan, sementara Devan meletakkan Letisha di kursi belakang, lalu dia ikut masuk kedalam mobil, membenarkan posisi Letisha agar nyaman dalam tidurnya. Devan baru sempat mengaktifkan ponselnya, banyak sekali panggilan dari Xander, dan juga dari perusahaan, Devan membaca pesan dari Xander jika sudah kembali dari liburannya segera menyusulnya ke Australia karena ada masalah di perusahaan cabang di Sidney. Devan segera membalas pesan dari Xander, jika besok dia akan menyusul Xander ke Sidney, tidak mungkin sekarang, ini sudah tengah malam dan Devan belum menyiapkan segala keperluannya. Letisha tertidur lelap hingga sampai di rumah, bahkan Devan kembali membangunkannya, namun Letisha tidak kunjung bangun juga, apa mungkin dia selelah itu hingga dia terus terusan tertidur dari Kendari hingga sampai di Jakarta. Devan kembali menggendong Letisha hingga sampai ke kamarnya, walau kamar mereka di lantai dua, mau tidak mau Devan mengendongnya, Devan tidak akan setega itu meninggalkan Letisha di mobil. Devan menidurkan Letisha dengan hati hati di ranjang, lalu menyelimutinya, Devan tentu tidak langsung tidur, dia butuh mandi karena terakhir mandi tadi pagi, itu saja hanya mandi bebek, hanya siram siram air saja. Setelah selesai mandi, Devan segera keruang kerjanya, dia harus berkemas agar besok dia tidak terburu buru. Devan menyelesaikan beberapa file yang harus dia kerjakan sebelum besok dia menyusul Xander ke Australia. Jam dua pagi Devan baru saja masuk kedalam kamarnya, setelah dia menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkelai selama satu minggu ini karena dia sama sekali tidak membawa laptop dan sebagainya. Devan segera berbaring disamping Letisha, dia juga butuh tidur walau beberapa jam saja. *** Letisha bangun dari tidurnya, dia sudah berbaring nyaman di tempat tidur, waahhh apa selama itu dia tidur, tapi siapa yang memindahkannya ke kamar, dia tidak mungkin berjalan sendirikan?. Letisha segera mandi, tubuhnya lengket oleh keringat, sungguh, kemarin dia hanya mandi siram siram air saja. Selesai mandi Letisha segera turun ke lantai satu, ini sudah setengah delapan, mungkinkah Devan sudah bangun, atau Devan sudah berangkat kerja, bisa jadi sih, dilihat jika Devan itu laki laki gila kerja. Sementara saat ini Devan sudah sampai di bandara, dia sengaja mengambil penerbangan pagi agar dia cepat sampai disana, karena Devan tau Xander tidak bisa bekerja sendirian, Xander butuh asisten untuk menemaninya. Devan langsung tidur sesampainya dia sampai di pesawat, Devan tentu saja memilih bisnis class agar dia bisa tidur untuk beberapa jam kedepan, bisa saja Devan memakai jet milik Xander namun Devan mengurungkan niatnya, lebih baik di bisnis class karena Xander sudah membawa jetnya, bukannya apa apa namun Devan tidak mau ribut urus izin ini itu di bandara. *** Letisha baru saja ingin membongkar kopernya, waktu di Kendari dia membeli beberapa peranak pernik, tapi dia tidak menemukan kopernya dan juga koper Devan, apa mungkin masih dibawah. Letisha turun kebawah, ahhh benar, kopernya dan juga koper Devan masih berada di dekat sofa ruang keluarga begitu juga dengan kerdus besar berisi hiasan yang dia beli di waktu liburan kemarin, Letisha segera membuka koper miliknya, berisi aksesoris dan kain tenun, bajunya dna baju Devan berada di koper Devan. Letisha mengumpulkan baju baju kotor miliknya yang ada di koper, Bi Laila yang melihat Letisha duduk di lantai sambil mengeluarkan barang barang di kopernya segera menghampiri Letisha. “Non, ada apa?,” Tanya Bi Laila pada Letisha, “Ehhhh Bi, enggak papa kok, Cuma mau mengeluarkan baju baju kotor aja.” Jawab Letisha, “Biar Bibi bantu Non,” Bi Laila segera ikut duduk di lantai, membantu Letisha. “Ini, Bibi bantuin Letisha pilih mana yang gelang mana yang kalung aja,, Letisha mau lipat kain kain tenun ini.” Letisha menunjukan tumpukan kain yang ada di dalam koper. Bi Laila mengangguk, lalu membuka beberapa plastik yang isinya pernak pernik yang masih campur aduk. Bi Laila selesai memisahkan mana yang gelang mana yang kalung, sementara Letisha sudah membuka kardus besar berisi hiasan rumah. Dengan hati hati Letisha mengeluarkan satu persatu barang yang ada didalam kardus, beruntung tidak ada barang yang mudah pecah, namun Letisha tetap berhati hati untuk mengelurkan barang barang itu. Devan ternyata juga menaruh makanan makanan yang Letisha beli kedalam kardus, pantas dari tau Letisha mencari cari tidak ada, dasar Devan. “Non, itu mau langsung di pajang atau disimpan dulu?.” Tanya Bi Laila, melihat Letisha mengeluarkan barang barang dari dalam kardus yang isinya pajangan dalam rumah. “Sebagian langsung pajang di lantai satu sebagian di lantai dua Bi, ada juga yang mau aku pajang di kamar.” Letisha menjawab pertanyaan Bi Laila sambil mengeluarkan pajangan dari kadus. “Bi, tolong buatin minum dong,” Pinta Letisha, Bi Laila mengangguk lalu membuatkan minuman untuk Letisha. “Bi dimana Devan?.” Tanya Letisha ketika Bi Laila dan Nining datang menghampiri Letisha yang sibuk memilih mana yang harus di pajang di lantai satu dan lantai dua. “Tuan Devan tadi pagi sudah berangkat ke Sidney Non, itu yang Bibi tau, soalnya pak Kasmin yang mengantar Tuan Devan ke bandara,” Letisha kaget, gimana bisa, padahal mereka baru saja liburan, dan tadi malam baru sampai rumah, Devan sudah pergi ke Sidney paginya, apa Devan tidak merasa lelah sama sekali?. Wahhhh…. “Serius Bi, apa Devan itu sudah gila, bagimana bisa dia tidak memiliki rasa lelah sedikitpun?,” Letisha heran pada Devan, wahh suaminya memang gila sepertinya. “Tuan Devan sudah biasa Non, walau Bibi tidak terlalu mengenal Tuan Devan, namun dari cerita cerita para supir Tuan Devan memang bisa sehari kesana kesini, mengurus pekerjaannya,” Letisha hanya mengangguk, menanggapi perkataan Bi Laila. “Ternyata Devan laki laki pekerja keras juga,” Ucap Letisha membuat Bi Laila mengangguk mneyetujui ucapan Letisha barusan. “Bi, tolong ini di cuci pakaian kotornya, kain tenun ini untuk Bibi, Indah sama Nining, makanan ini di bagiin ke pekerja, lalu ini ada pernak pernik, Bibi bisa bagikan ke pekerja siapa tau ada yang mau, Letisha mau simpan barang barang ini.” Bi Laila mengangguk, mengiyakan perintah Letisha. Letisha memasukan barang barang miliknya kedalam koper yang tadi berisi aksesoris dan kain tenun. Letisha membeli beberapa bungkus kacang mete, karena memang banyak terjual disana, dan dia juga menyukai kacang mete. Karasi, camilan dengan rasa manis dan lembut ini membuat Letisha jatuh cinta ketika dia mencobanya, jadi dia membeli beberapa bungkus untuk dia bawa pulang. Dan masiha da beberapa keripik keripik lainnya, sebagian dia bagikan pada pekerja di rumahnya, sebagian lagi dia bagikan untuk teman temannya dan mungkin untuk pasangan Xander dan Kezia. “Lalu Non, ini mau dipajang dimana?.” Tanya Bi Laila. “Setelah makan siang aja Bi,, aku udah laper banget,” Bi Laila mengangguk, beruntung Indah sudah selesai masak, jadi Letisha bisa mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN