O.N.C.E Part 4 Kesepian yang Tiada Ujung

1610 Kata
Author Pov. Devan sengaja pulang larut malam, dia masih marah dengan Letisha, Letisha sudah menjadi istrinya, dia bukan lagi wanita bebas, dia memiliki tanggung jawab sebagai seorang istri tapi kelakuannya tidak berubah masih suka clubing dan menghabiskan uang Devan untuk belanja hal hal yang tidak berguna.   Jangan salahkan Devan jika dia menarik kembali silvercardnya, dan juga mobil milik Devan. Sesekali orang seperti Letisha harus di beri pelajaran biar bisa berfikir.  Memang Letisha baru seklai clubing namun untuk berbelanja hal hal yang tidak berguna Letisha hampir setiap hari memberi tas sepatu baju dari online shop, Devan tau, tentu saja dari bukti transaksi tiap Letisha berbelanja selalu masuk ke emailnya.  “Selamat malam Tuan Devan, Nona Letisha belum pulang dari tadi siang,” Baru saja Devan sampai di dalam rumahnya, pelayannya melapor jika Letisha belum kembali, apa wanita itu benar benar menjadi jalang?,  “Apa dia mengatakan pergi kemana?,” Tanya Devan. Devan kira kejadian semalam mampu membuat Letisha sadar akan kesalahannya, ternyata tidak, Letisha tidak merasa bersalah sama sekali.  “Tidak Tuan, kami semua sudah melarang Nona, namun Nona tidak perduli, maafkan kami Tuan,” Devan hanya mengangguk, Devan faham orang seperti apa Letisha, biarkan dia bebas di luar sana, Devan tidak perduli lagi.  “Biarkan saja, kunci semua akses ke rumah ini, termasuk gerbang depan, jangan biarkan Letisha masuk, kalau perlu minta penjaga untuk menyiapkan anjing penjaga.” Pelayan yang namanya Laila hanya mengangguk, dia merupakn orang kepercayaan Devan dirumah ini.  “Bibi bisa istirahat, jangan perdulikan Letisha.” Bi Laila mengangguk lalu pergi meninggalkan Devan. *** Jam tiga pagi Letisha baru kembali dari pesta dengan teman temannya yang tinggal di Jakarta akhirnya Letisha punya teman lagi, awalnya Letisha ingin menginap di Hotel namun dia takut Devan kembali marah padanya satu masalah belum selesai dan Letisha tidak ingin menambah masalah baru, lebih baik dia pulang dini hari ketika Devan sudah tidur, tohh mereka pisah ranjang selama seminggu menikah jadi Devan tidak akan tau jika dirinya pulang dini hari, asal pelayan dan pengawal Devan tidak mengadu semuanya aman.  Taxi yang mengantarnya di hadang pengawal yang berjaga, gerbang rumah Devan tidak dibuka membuat Letisha keluar dari taxi, beruntung Letisha masih bisa melihat argo taxi, jika tidak bisa ketipu seperti beberapa bulan yang lalu, uang satu juta di atmnya ludes di ambil supir taxi.  “Kenapa kalian tidak membukakan gerbangnya, kamu enggak tau kalau aku capek?.” Bentak Letisha pada penjaga, dia sudah setengah mabuk, bahkan jalanpun Letisha sempoyongan.  “Maaf Nona, namun ini perintah Tuan Devan, anda dilarang masuk kedalam rumah ini.” Kepala Letisha makin pusing, dia hanya mampu bersandar di gerbang, entah siapa yang bicara bahkan Letisha tidak begitu baik meresponnya.  “Apa apaan kamu Devan, aku benci kamu Devan, benci….” Letisha teriak teriak di depan gerbang, padahal dia sudah tidak mampun untuk berdiri tegak, tapi suara Letisha cukup kencang. **** Sementara Devan yang bangun karena haus lima belas menit lalu, tidak bisa kembali tidur lagi, dia melihat sebuah taxi behenti di depan rumahnya, Devan yakin jika itu Letisha, dia tau Letisha akan marah padanya, namun dia tidak perduli, Letisha harus diberi pelajaran, jika omongan tidak bisa di dengar maka tindakan akan Devan lakukan itulah prinsipnya, apa lagi untuk mendisiplinkan wanita seperti Letisha.  Sayup sayup dia mendengar suara bentakan Letisha, Devan tertarik untuk mendengar, dia memutuskan untuk pergi keluar, lagian dia tidak bisa tidur, tidak ada salahnya mendengar suara cempreng Letisha. “Selamat malam Tuan Devan.” Penjaga gerbang mengucap salam pada Devan.  “Malam. Biarkan dia malam ini diluar, jangan dibukakan pintunya, abaikan dirinya, jika ada tetangga yang protes bilang saja dia orang mabuk yang salah rumah.” Penjaga hanya mengangguk mengiyakan intruksi dari Devan.  “Devan.. aku benci kamu,, aku benci..” Devan jelas mendengar suara Letisha, yang teriak teriak, namun dia tidak perduli, ini pelajaran buat Letisha agar tidak main main dengan Devan lagi.  *** Letisha baru dibawa masuk pengawal yang berjaga setelah medapat instruksi dari Devan, sebenarnya mereka kasihan dengan Letisha, pasti sangat kedinginan, apa lagi baju kurang bahan yang di pakai Letisha, pasti menambah rasa dingin pada tubuhnya.   Para pelayan langsung menggantikan baju Letisha dengan piyama agar Letisha bisa tidur dengan nyaman, Devan hanya melihat dari jauh, dia sangat malas melihat Letisha dengan wajah penuh make up, ditambah lagi bau alcohol, baju kurang bahan, padahal di New York banyak sekali wanita wanita sepeti ini, namun kenapa melihat Letisha seperti itu dirinya malah jijik.  Devan segera berangkat ke kantor, ya lebih baik begitu siang nanti ada meeting, lebih baik dia mempersiapkan segalanya, jadi ketika Xander datang semuanya sudah selesai dipersiapkan. *** Devan yang melihat Xander baru datang dengan piyama tidurnya membawa tas di tangan kanan dan baju kerjanya di tangan kirinya, yang benar saja ini bukan pagi lagi, setengah sepuluh, Xander baru datang, wahhh wahhh boss yang patut di contoh ya seperti ini.  “Selamat siang Tuan Xander.” Sapa Devan pada Xander, Xander sama sekali tidak memperdulikan sapaannya Devan, dia segera masuk keruang kerjanya, mandi, dan bersiap, tiga puluh menit lagi dia akan meeting dengan clientnya dari Amerika dan dia baru datang, semoga Devan sudah mempersiapkan segalanya.  Devan mendapat kabar dari Bi Laila jika Letisha demam, mungkin efek tadi malam dia tidur di luar, Devan yang biasanya lembur sampai jam tujuh malam, setelah jam kerjanya selesai yakni jam empat sore, dia segera pulang, walau bagaimanapun Letisha itu istrinya, dan Devan mau tidak mau harus bertanggung jawab dengan keadaan Letisha.  Devan menemani Letisha hingga menjelang malam namun Letisha tertidur, mungkin pengaruh obat yang Letisha minum tadi, karena Dokter sudah datang memeriksa Letisha tadi siang sebelum Devan kembali ke rumah. Devan memilih untuk mandi, sedari tadi dia hanya duduk disamping Letisha, mengkompres dahi Letisha dengan telaten, kalau gini aja suamiable banget,, Devan bersyukur suhu tubuh Letisha berangsur turun, semoga saja malam ini Letisha sudah membaik.  Selesai mandi Devan melihat Letisha sudah bangun dari tidurnya, Devan segera menghampiri Letisha. “Gimana keadaan kamu?.” Tanya Devan, Letisha hanya diam, entah apa yang terjadi tadi malam, dia tidak ingat, yang pasti tadi siang saat dia bangun tubuhnya lemas, badannya panas, tapi dia menggigil kedinginan, beruntung sekarang sudah lebih baik.  “Emmmm..” Letisha hanya bergumang dan mengangguk, tenggorokannya sakit, mungkin kering karena dia tidur dari tadi siang, tadi dia sempat bangun sebentar untuk minum obat lalu tidur kembali.  Devan segera mengambilkan air putih yang berada di meja samping tempat tidur, Devan tau jika tenggorokan Letisha kering.  “Minum dulu,” Devan membantu Letisha bangun, menata bantal untuk Letisha bersender, setelah posisi Letisha nyaman Devan memberikan gelas berisi air pada Letisha, dengan perlahan Letsiha meneguk air dalam gelas itu, hanya sedikit karena tenggorokannya masih sakit.  “Makasih…” Letisha memberikan gelasnya pada Devan setelah dia minum sedikit airnya.  “Istirahat dulu, aku akan meminta pelayan membuatkan kamu sup atau bubur.” Letisha hanya diam, dia bingung dengan sikap Devan padanya, kadang dia baik padanya, tapi kadang Devan bisa juga jahat padanya, namun apapun itu dia tidak bisa protes, orang tuanya tidak perduli lagi padanya, bahkan setelah dia menikah baik Papa dan Mamanya tidak ada yang menghubunginya, saat dia menghubungi orang tuanya tidak ada balasan sama sekali, apa mungkin dia benar benar telah di buang?, hanya Devan yang dia punya saat ini, lalu jika Devan mengusirnya meninggalkannya apa dia sanggup sendirian?.  Tanpa Letisha sadari air matanya mulai menetas, apa selamanya dia akan seperti ini, apa selamanya dia akan sendirian?, sampai kapan orang tuanya mengabaikannya?.. Kapan kebahagiaan datang padanya, kapan semuanya penderitaannya berakhir, haruskan selamanya dia pura pura Bahagia didepan semua orang, seolah olah tidak terjadi apa apa. Bi Laila datang membawakan bubur, air putih, dan juga obat Letisha, Letish sedari tadi hanya berbaring sambil menangis, namun dia segera menghapus air matanya ketika ada orang yang mengetuk pintu kamarnya, dan ternyata Bi Laila.  “Non Letisha, Bibi bawakan bubur, masih hangat Non,” Letisha mencoba bangkit dari berbaringnya, lemas sekali tubuhnya, seperti tidak memiliki tulang. Setelah Letisha nyaman bersender, Bi Laila mulai menyendokan bubur pada Letisha, namun Letisha menolak.  “Biar saya aja Bi, saya bisa kok.” Letisha mengambil alih mangkok yang di pegang Bi Laila. Letisha menyendokan bubur dengan pelan ke mulutnya, namun baru beberapa suap Letisha sudah menghentikan makannya.  “Aku sudah kenyang Bi,” Letisha memberikan mangkoknya kembali ke Bi Laila, Bi Laila menyerahkan segelas air putih pada Letisha, air ini hangat, cukup melegakan tenggorokannya yang perih.  “Non, diminum dulu obatnya,” Bi Laila menyerahkan tiga butir obat pada Letisha, Letisha sendiri sebenarnya tidak menyukai obat, dari dulu setiap dia sakit dia tidak mau minum obat, tapi kali ini mau tidak mau dia harus meminumnya, jika dia tidak mau mencari masalah dengan Devan.  Setelah meminum obat yang semuanya pahit itu, namun tidak lebih pahit dari kisah hidupnya, Letisha kembali berbaring, ya lebih baik dia tidur, sepertinya obat yang dia minum tadi ada efek sampingnya yang bisa membuatnya mengantuk, terbukti setelah lima belas menit Letisha sudah terlelap. Devan kembali ke kamar Letisha setelah makan malam, namun Letisha sudah kembali tidur, Devan hanya mengamati Letisha dari sofa, karena dia sedang menyelesaikan pekerjaannya, sungguh melelahkan sebenarnya menjadi asisten Xander yang harus serba siap kapanpun dimanapun, namun semuanya terbayar dengan upah yang Devan terima tiap bulan, belum lagi bonus kerja Devan tiap bulan, mana bayarannya Devan bukan rupiah tadi dollar, bayangkan saja uangnya pasti banyak, cukup untuk menafkahi istri dan anaknya nanti. Selesai mengerjakan pekerjaannya Devan ikut berbaring di samping Letisha, tubuh Letisha tidak sepanas tadi, obatnya cukup efektif menurunkan demam, Devan menarik tubuh Letisha kedalam dekapannya, baru kali ini mereka tidur satu ranjang setelah menikah, biasanya Devan akan tidur di kantor ataupun di ruang kerjanya karena kelelahan. Letisha mencari posisi yang nyaman, bahkan tangan kanannya sudah memeluk perut Devan, Devan sendiri tidak protes, dia malah tersenyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN