O.N.C.E Part 7 Liburan Bersama

1827 Kata
Author Pov. Letisha pasrah dibawa Devan, dia bahkan tidak tau kemana mereka akan pergi, apa Devan akan mengembalikan dia pada orang tuanya atau Devan akan membuangnya, selama ini dia bahkan tidak menurut pada Devan, bahkan dia menghancurkan ponsel Devan, laptop Devan, dan kemarin dia menabrakkan mobil Devan pada trotoar saat mabuk.  “Tidur aja kalau capek, perjalanan kita kurang lebih tiga jam,” Saat ini mereka sudah duduk di bisnis class, Xander ternyata tidak main main padanya, sudah lama sekali dirinya tidak merasakan liburan, akhirnya dia bisa mengistirahatkan tubuhnya sebentar untuk refeshing, walau dia juga tidak tau bagaimana Kendari, tapi semoga saja tidak mengecewakan.  “Kita mau kemana?.” Tanya Letisha pelan, takut takut kalau Devan marah padanya, bisa di lempar dia dari pesawat ini.  “Kendari,” Jawab Devan, dia memejamkan matanya, sungguh lelah sekali badannya, dari tadi siang dia belum istirahat sama sekali, bahkan makan malam pun mereka tadi makan malam di bandara, beruntung masih ada waktu untuk sekedar makan, tau sendiri bagaimana kemacetan Jakarta di sore hari.  "Apa kamu tau dimana Kendari?" Tanya Letisha pelan, takut takut Devan marah padanya.  "Tidak tau, Tuan Xander yang menyiapkan tiket dan sebagainya, jadi nikmati saja," Jawab Devan, dasar Devan gila, bagaimana bisa mereka berdua pergi ke Kendari tapi Devan saja tidak tau dimana Kendari, Letisha memijit pelipisnya yang cukup pusing gara gara Devan.   ****  Setelah mengudara kurang lebih tiga jam, kini mereka sampai di Kendari, pihak hotel juga sudah menunggu di tempat penjemputan, mereka segera pergi ke hotel karena perbedaan waktu di Kendari lebih cepat saju jam, maka disini sudah tengah malam.  Letisha bahkan sudah tertidur di mobil waktu perjalanan ke hotel saking lelahnya mungkin, beruntung Devan membangunkannya, coba kalau tidak mungkin Letisha entah dibawa kemana oleh supir hotel. President suite sudah di booking, beruntung sekali liburan Devan kali ini dapat kamar yang besar dan mewah, apa lagi kamarnya langsung menghadap ke pantai mungkin besok pagi dia bisa melihat keindahan pantai di pagi hari.  Letisha hanya diam saja, dia tidak tau kenapa Devan membawanya pergi sejauh ini, apa mungkin nanti Devan akan meninggalkannya disini sendirian? Letisha bahkan tidak punya uang sama sekali kalau Devan benar benar meninggalkannya disini, masa iya dia jadi gembel sih?.  “Jangan berfikir yang aneh aneh, cepat mandi, lalu tidur..” Letisha kaget, bagaimana bisa Devan membaca fikirannya, tapi sudahlah lebih baik dia mandi lalu tidur, badannya juga bau keringat, apa lagi seharian dia tidak ganti baju sama sekali, bahkan mandi hanya kemarin, ya memang kemarin karena saat ini sudah jam satu dini hari.  Setelah selesai mandi dan membereskan barang barangnya dan juga barang barang Devan, Letisha segera membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, sementara Devan sedang mandi.  Tidak butuh waktu lama bagi Devan untuk mandi, namun dia sudah melihat Letisha berbaring di tempat tidur, sepertinya istrinya itu memang sudah tidur, lebih baik Devan juga ikut tidur, badannya juga cukup lelah.  Devan tidur disamping Letisha, namun Letisha tidak sengaja berbalik pada Devan, dengan begitu wajah mereka saling berhadap hadapan, mau tidak mau Devan memandangi wajah cntik istrinya yang sedang terlelap dengan sangat nyenyak. Pagi pagi sekali Devan sudah membangunkan Letisha yang masih tidur, entah kenapa Devan ingin jalan jalan ke pantai pagi hari menikmati udara yang masih segar, berbeda dengan Jakarta yang sudah berpolusi, walau di pagi hari.  Dengan terpaksa Letisha bangun dari tidurnya walau masih mengantuk dan dingin dia tidak mampu membantah Devan, dengan mata yang masih setengah terpejam Letisha bangkit dari tidurnya, pergi kekamar mandi, dia hanya cuci muka dan gosok gigi, dia tidak mau mandi sepagi ini, yang benar saja ini baru jam lima pagi.  Devan tidak tau apa nama pantainya, namun pantai ini berada di depan hotel tempatnya menginap, Devan tidak menyangka banyak sekali orang yang datang untuk menyaksikan sunrise di tepi pantai, namun sepertinya kebanyakan orang di lingkungan sekitar, tidak ada turis asing, mungkin hanya dirinya yang berwajah asing.  “Mau foto?,” Tanya Devan pada Letisha, pemandangan pagi ini memang bagus, jadi sayang kalau tidak di abadikan lewat potret kamera.  “Boleh..” Letisha langsung berjalan menuju tempat yang bagus untuk foto, apa lagi sinar matahari berwarna jingga di pagi hari sungguh menakjubkan, jarang jarang Letisha bisa menikmati pemandangan pantai sebagus ini, walau dia tinggal di Jogja namun dia jarang sekali keluar untuk ke pantai atau sekedar main, hidupnya hanya untuk belajar, beruntung jika dia ke Jakarta dia bisa menyelinap ke club sebentar.   Setelah mengambil banyak foto Devan mengajak Letisha untuk ke pinggir pantai, ada beberapa warung yang sudah buka, mungkin bisa menikmati segelas kopi panas atau s**u panas, ternyata udara di Kendari jika pagi begini cukup dingin juga.  “Tisha, mau duduk disana?,” Devan tau Letisha kedinginan, dia lupa meminta pelayan untuk menyiapkan jaket untuk Letisha, jadi didalam koper mereka tidak ada jaket sama sekali, mungkin nanti siang Devan harus mengajak Letisha belanja baju di mall. Letisha hanya menganguk menyetujui ajakan Devan untuk duduk di sebuah kedai pinggir pantai, matahari sudah menampakan sinarnya, warna jingga yang sangat indah sinarnya belum cukup untuk menghangatkan tubuh mereka berdua…  Devan memesankan minum untuk Letisha mungkin chocolate hangat pas untuk pagi seperti ini, dan kopi untuknya.  “Tisha,, apa kamu kedinginan?.” Tanya Devan, setelah Chocolate hangat milik Letisha di hidangkan, kedua tangan Letisha terus memegang gelasnya, seolah olah mencari kehangatan dari gelas hangat di hadapannya.  “Lumayan,, tapi enggak papa kok, mungkin karena aku enggak biasa bangun pagi, makanya udara di pagi hari cukup dingin,” Balas Letisha, santai, Letisha mencoba sesantai mungkin, tidak mungkin mereka liburan namun keduanya malah bersitegang.  “Kalau kamu kedinginan lebih baik kita kembali ke hotel.” Ajak Devan, Devan juga tidak tega melihat Letisha kedinginan.  “Enggak mau,, aku mau disini, jarang jarang aku melihat matahari terbit, dan ini tu bagus banget,” Melihat permohonan Letisha, mau tidak mau Devan menurutinya, lagian kalau kembali ke hotel Devan juga tidak tau mau ngapain.  “Sepertinya kamu harus banyak banyak bangun pagi biar bis alihat sunrise,” Balas Devan. “Benar,, mungkin aku harus bangun pagi, tapi,, enggak bisa, rasanya tidur di jam jam empat ke bawah tu nyaman banget,,” Leisha cemberut,   Mereka kembali ke hotel jam tujuh pagi, langsung sarapan di restoran bawah, Devan ingin pergi kepulau Bokori, tadi dia sempat berbincang dengan masyarakat disini jika ada pulau eksotis disekitar sini, yang menjadi destinasi wisata favorit disini, Devan tertarik setelah mengetahui keindahan pulau Bokori apa lagi pasir putihnya sangat indah. *** Perjalanan mereka di mulai dari pusat kota Kendari ke kampung Bajo, butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit lalu mereka harus menyewa kapal untuk mengantarkan ke pulau Bokori, semoga cuaca dan gelombang cukup bagus karena mereka berada di kapal selama tiga jam. Letisha hampir tidak pernah menaiki kapal seperti ini merasa pusing, apa lagi mereka harus bersama sama dengan penumpang kapal lainnya, Devan sebenarnya bisa saja menyewa kapal untuk mereka berdua namun dia lebih memilih untuk berangkat bersama sama dengan wisatawan lainnya. “Kenapa?,” Tanya Devan, Letisha sedari tadi hanya diam, di tempat duduknya, padahal tadi di perjalanan Letisha asik menikmati keindahan pantai dan bukit.  “Pusing..” Jawab Letisha pelan, mereka sudah di tengah tengah laut, tidak mungkin mereka kembali ke kampung Bajo.  “Tahan sebentar, sebentar lagi sampai..” Devan menarik Letisha kedalam pelukannya, tohh mereka sudah halal jadi tidak masalah dong mau pelukan di depan umum. Letisha awalnya kaget Devan memeluknya, namun lama kelamaan di pelukan Devan Letisha merasa nyaman, bahkan rasa pusingnya hilang, bilang aja butuh di peluk Devan, Letisha, Letisha. Mereka sampai di dermaga kecil pinggir pantai, benar apa kata orang tadi pagi, pulau Bokori memang indah, pasirnya putih, airnya jernih, Devan ingin bermain di pantai namun melihat Letisha yang tadi mengeluh pusing Devan memutuskan untuk menyewa cottage agar Letisha bisa istirahat, Devan sebenarnya juga sedikit lelah, ya lebih baik mereka istirahat di cottage sebentar.  “Kita istirahat sebentar,” Devan mengajak Letisha masuk kedalam cottage kecil di pinggir pantai, Devan hanya menyawa sampai sore, hanya untuk istirahat sebentar sih ngapain nyewa lama lama.  Letisha langsung duduk di kursi yang terbuat drai kayu, jendela yang menghadap langsung ke pantai membuat Letisha melupakan rasa lelahnya, menikmati angin dan deburan ombak menajdi obat untuk Letisha.  “Tidur dulu Tisha, kamu bisa kelelahan nanti.” Devan menyuruh Letisha untuk tidur, Devan hanya tidak ingin Letisha kelelahan apa lagi Devan ingin menjelajah kota Kendari dan pulau di sekitarnya.  “Aku cuci muka dulu,” Letisha mengambil sabun pencuci wajahnya, lalu pergi ke kamar mandi, beruntung cottagenya sudah memiliki kamar mandi walau kecil dan hanya ada closet jongkok dan ember untuk menanpung air.  Letisha membaringkan tubuhnya disamping Devan, karena Devan sudah terlebih dulu berbaring di tempat tidur.  Mengabaikan Devan, Letisha langsung memejamkan matanya, benar apa kata Devan, dia dan Devan butuh istirahat untuk memulihkan energi mereka sebelum menjelajah di pulau Bokori ini.  ****  Sore hari keadaan Letisha sudah membaik, dia bahkan sudah pergi jalan jalan ke pantai di depan cottage, Devan masih tidur, Letisha tidak berani membangunkan Devan. Letisha baru kali ini melihat pantai seindah ini, apa lagi pasir putihnya, lautan biru yang membentang tak terhingga sungguh keindahan yang luar biasa.  Letisha duduk di tepi pantai, pasir putihnya sangat indah, ini seperti private beach tidak banyak orang berlalu lalang memang hanya nelayan dan anak anak kecil yang lewat itu saja hanya satu dua orang, sungguh betah sekali dirinya disini, bisa mengurung diri dalam keindahan alam yang telah Tuhan ciptakan.  “Kenapa tidak membangunkan ku?,” Tanya Devan, Devan bangun dari tidurnya namun dia tidak menemukan Letisha di sampingnya, Devan segera mencari Letisha keluar, ternyata Letisha sednag duduk di tepi pantai sendirian sambil memandangi laut biru.  “Maaf, aku takut mengganggu tidur kamu,” Jawab Letisha pelan. Kan jadi serba salah kalau gini, Letisha takut Devan marah jika dia membangunkan Devan, tapi Devan juga marah padanya ketika dirinya tidak berada di dalam cottage.  “Yaudah,, mau mandi di pantai?,” Tanya Devan, sore sore gini, cuaca cerah, pas untuk main air, apa lagi airnya sangat jernih.  “Boleh dehhh..” Letisha segera bangkit dari duduknya lalu berjalan ke air pantai yang tenang, bahkan ombaknya tidak besar cocok sekali untuk berenang.  Mereka puas bermain air, kejar kejaran di pinggir pantai, bahkan mereka mengajak anak anak kecil ikut bergabung dengan mereka, saking asiknya mereka bermain hingga matahari tergelincir keufuk barat dan langit sudah mulai menggelap mereka baru kembali ke cottage.  Mereka tertahan di cottage karena sudah tidak ada kapal lagi, beruntung tadi Devan dan Letisha membawa baju ganti, cobba kalau tidak baju mereka sudah basah semua, apa lagi disini tidak ada toko baju sama sekali.  Selesai makan malam mereka segera tidur, namun Letisha tidak bisa tidur, pulau ini sangat sepi, dia takut jika terjadi sesuatu pada mereka, Devan yang melihat Letisha gelisah di depan jendela langsung memeluk Letisha dari belakang, ingat mereka udah sah jadi bebas mau ngapain aja.  “Kenapa?.” Bisik Devan pada Letisha, Letisha yang kaget langsung menoleh namun bibirnya malah bertemu bibir Devan.  Devan tidak menyia nyiakan kesempatan ini langsung melumat bibir Letisha dengan pelan, menikmati bibir Letisha yang menjadi candu untuknya. Mereka melanjutakn kegiatan mereka di tempat tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN