Aroha rasanya ingin sekali mengumpat. Tentu saja pada Dira yang membiarkan orang luar masuk ke dalam teritori pribadi pada dokter dan staff rumah sakit macam ini. Tapi tidak—Aroha tidak akan mengulangi kesalahannya yang sama di tempo lalu, dengan memperlihatkan kepanikan atau rasanya malunya dengan tindakan yang nyata. Aroha jelas tidak akan melakukannya lagi.
Wanita itu dengan gerakan elegan berusaha untuk merapihkan rambutnya, tersenyum formal dan merapihkan penampilannya sebisa mungkin meski dengan gerakan yang minim.
“Mas Alvar, bisa tunggu di depan ruang emergency? Nanti saya ke sanan.” Aroha angkat bicara, mencoba untuk terlihat setenang mungkin.
“A-ah, baik. Kalau begitu saya tunggu di luar.” Alvar membungkukkan tubuhnya sebelum pamit pergi, berterima kasih pada Dira yang sudah mengantarnya ke tempat itu.
Dira membalas ucapan itu dengan senyum canggung, membiarkan Alvar pergi karena merasa tidak berhak pula menahannya. Tepat setelah Alvar keluar dari ruangan itu dan pintu tertutup, dirinya bisa mendengar suara Dira dan Aroha yang berbincang.
“Aku sengaja bawa dia ke sini biar kalian bisa ngobrol di sini. Kenapa malah suruh dia tunggu di luar?” Itu suara Dira, yang masih bisa Alvar dengar.
“DIRAAAA!!!”
Yang Alvar dengar selanjutnya hanya teriakan Aroha juga suara aduhan yang keluar dari mulut Dira. Pria itu menoleh dan sempat berhenti, namun pada akhirnya mempercepat langkahnya dan memutuskan segera pergi dari sana agar tidak harus menguping pembicaraan apa pun di antara kedua orang itu.
“Awh! Auw, auwww… Sakit, Ar! Sakit! Kenapa sih? Lepasin! Duh lepasin, cepet! Leher gue bisa patah nih!” Dira yang lehernya dikunci oleh Aroha memukul-mukul lengan wanita itu agar Aroha melepaskannya.
“Sakit, Ar! Sakit!”
Aroha akhirnya melepaskan Dira, setelah Dira benar-benar terdengar kepayahan. Wanita itu kini berdiri di hadapan Dira, menatap pria itu dengan kedua tangan berada di pinggang.
“Kamu tuh ya! Nggak kasihan dikit sama temen apa? Simpati dikit lah kalau memang nggak punya rasa kasihan!”
Dahi Dira berkerut tajam, sama sekali tidak mengerti maksud dari ucapan temannya itu.
“Apa sih? Soal apa? Memangnya aku salah apa?”
“Kamu nggak seharusnya bawa dia ke siniiii… Aku udah hilang muka di depannya sekali, jadi bisa kan jangan ditambah lagi?! Keadaanku sekarang jelas sama sekali nggak pantas untuk dilihat… bangun tidur, belum mandi dua hari, muka—” Aroha bergumam sendiri di ujung kalimatnya, terlihat frustrasi sendiri.
“Hilang muka? Kenapa? Di depan Siapa?”
Aroha memutar bola matanya malas, menghembuskan napasnya jengah. Percuma saja bicara pada Dria, pikirnya. Pria itu toh memang tidak pernah…
“Ah, Alvar? Yang tadi aku bawa—”
Lirikan Aroha pada Dira seolah menjawab pertanyaan pria itu, yang tentu saja sama sekali tidak Dira duga.
“KAMU SUKA SAMA DIA?! SEORANG AROHA?! SERIUS?”
“HUSSHHH!” Aroha maju untuk menutup mulut Dira, membekap pria itu dan enggan melepaskannya sebelum Dira memastikan bahwa tidak akan bersuara sekeras tadi.
“Bukan suka! Tapi dia yang Ayah jodohin sama aku! Kalaupun kami nggak berakhir sama-sama seenggaknya aku nggak kehilangan muka di depannya sebagai wanita yang—rapih? Cantik? Nggak berantakan! Ah, apa pun lah itu!”
Mendengar itu Dira baru mengerti situasinya. Aroha ini, kadang memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak dipikirkan dan mengabaikan sesuatu yang justru seharusnya dia pikirkan.
“Kirain aku apa. Kamu di depan orang-orang di sini bodo amat, kenapa di depan cowok itu kelihatannya harus banget kelihatan perfect? Apa kalau bukan karena suka.”
“Ck, nggak! Dibilang nggak suka! Cuma… ini sebagai anak—ah, udahlah. Nggak ngaruh juga ngomongin ini sama kamu.” Aroha berbalik memunggungi Dira, mengambil handuk juga peralatan mandinya di kolong meja dan berlalu dari sana.
“Aku ambil liburku hari ini. Bilang itu kalau ada yang cari aku lagi.”
Dira tidak mengatakan apa-apa atau mencegah Aroha, karena tahu wanita itu memang sudah bekerja keras lebih dari seminggu ini dan berhak mendapatkan liburnya, dan mungkin hari libur itu akan Aroha gunakan untuk bicara dengan Alvar.
***
“Maaf, Mas. Nunggu lama banget ya? Tadi saya mand—eum… ngurusin beberapa hal dulu.” Aroha keluar dengan penampilannya yang sudah segar, menghampiri Alvar yang sudah duduk di luar ruangan emergency lebih dari setengah jam kurang-lebih.
“Tidak, Mbak. Sama sekali tidak lama.” Alvar berdiri, memperhatikan Aroha sekilas yang sudah meninggalkan seragam dokternya dan berganti baju biasa.
“Saya yang justru minta maaf karena sudah ganggu Mbak Aroha. Harusnya saya datang dan coba menghubungi Mbak dulu.”
Aroha mengibaskan tangannya di depan wajah. “Nggak perlu seformal itu bicaranya Mas, santai aja. Dan… ya memang lebih baik kalau Mas Alvar hubungin saya dulu sih, tapi memang Mas punya nomer saya?”
A-ah… soal itu…
“Anyway, kebetulan hari ini juga saya ambil libur. Jadi kalau memang Mas ketemu saya untuk bicara, lebih baik kita bicara di luar rumah sakit supaya lebih leluasa. Jadi Mas nggak perlu merasa nggak enak, karena saya juga memang berniat untuk bicara sama Mas dalam waktu dekat.”
Alvar mengangguk pelan.
“Mas bawa kendaraan? Atau saya harus pinjam kendaraan teman saya dulu karena saya terakhir kali datang diantar Mas dan nggak bawa mobil saya sendiri.”
“Ah, nggak perlu. Saya… bawa kendaran. Sebelah sini, Mbak.” Alvar mengarahkan Aroha dengan gesture tubuhnya.
Kali ini giliran Aroha yang mengangguk pelan, mengikuti langkah Alvar yang berjalan di sampingnya.
“Ngomong-ngomong, saya minta maaf untuk yang sebelumnya.” Aroha yang angkat bicara lebih dulu ketika keduanya sudah berada di mobil pria itu, memasang sabuk pengamannya selagi Alvar menyalakan mesin mobil.
“Maaf?”
“Saya kira kita seumuran, jadi cara bicara saya tempo hari mungkin terdengar kurang sopan di telinga, Mas. Maka dari itu saya minta maaf.” Aroha meringis, mengingat kesalahannya setelah beberapa hari lalu tahu mengenai usia Alvar yang 4 tahun di atasnya.
“Eh, nggak, Mbak. Saya sama sekali nggak merasa begitu kok. Jadi Mbak nggak perlu—”
“Tetap aja saya harus minta maaf, terlepas dari Mas merasa terganggu dengan itu atau nggak. Tapi saya merasa terganggu karena sikap saya sendiri."
Alvar lagi-lagi berakhir mengangguk kaku, kemudian izin untuk menjalankan mobilnya yang ditanggapi Aroha dengan senyum diiringi sebuah gelengan.
Pria ini… benar-benar sangat kaku dan terlalu mendalami pekerjaannya. Pikir Aroha.
“Hhm… karena ini hari libur saya, boleh saya yang tentuin kemana kita pergi?” Tanya Aroha menoleh ke arah Alvar yang sudah fokus mengemudi.
“Tentu. Ada tempat yang ingin Mbak kunjungi?”
“Hm. Saya butuh kegiatan fisik karena udah terlalu lama nggak kena sinar matahari di dalam rumah sakit. So, bis akita ke sana?”
Alvar menoleh ke arah wanita yang duduk di sampingnya, menatapnya dengan pandangan tanya. Aroha tersenyum tipis—sempat dilihat Alvar sebelum kembali fokus dengan kemudi.