Chapter 3 - Dewasa dan Anak-Anak

2013 Kata
Malam itu, dunia maya perlahan mulai tenang kembali. Sepanjang siang, berbagai portal berita hiburan dipenuhi oleh spekulasi liar mengenai foto Anna Lister dan pria misterius yang menemaninya makan siang di sebuah kafe kecil. Hal ini karena kesalahan dari pihak paparazi yang salah menduga. Namun badai gosip itu mereda cukup cepat setelah agensi Anna merilis pernyataan resmi yang singkat namun jelas. Pihak agensi Anna langsung mempublikasikan klarifikasi ke media yang menyatakan: “Selamat siang. Menanggapi foto yang beredar, kami menyatakan bahwa hubungan Anna Lister saat ini dalam kondisi baik dan harmonis. Foto tersebut diambil tanpa izin dan disalahartikan; saat itu mereka hanya sedang menikmati makan siang pribadi.” “​Kami tegaskan tidak ada perselisihan sebagaimana yang diberitakan. Kami meminta semua pihak menghormati privasi Anna Lister dan berhenti menyebarkan spekulasi tidak berdasar. Terima kasih atas pengertiannya.” Pernyataan itu cukup untuk meredam spekulasi tentang “dewi nasional mereka yang tersakiti”. Meskipun begitu, satu hal masih membuat publik penasaran setengah mati, yaitu sosok pria tinggi yang wajahnya entah sengaja atau memang tidak sengaja terkaburkan dalam foto-foto itu. Beberapa para penggemar bahkan mulai membuat teori aneh. Ada yang bilang pria itu seorang pengusaha kaya yang sangat tertutup. Ada yang berspekulasi dia anggota keluarga kerajaan negara lain. Ada juga yang yakin bahwa pria tersebut adalah agen rahasia. Media memang tidak pernah kekurangan imajinasi dan tidak akan pernah berhenti beristirahat. ———————————————————————— Di apartemen Anna yang mewah di pusat kota, Anna baru saja selesai membersihkan wajah. Ia memakai pakaian biasa layaknya manusia normal. Celana pendek dan baju oversize warna putih yang sedikit menerawang pakaian dalamnya. Anna menyalakan lampu ruang tamu dinyalakan dengan cahaya hangat yang membuat ruangan terasa nyaman. Di luar jendela besar, lampu kota berkilauan membuat kota menjadi sangat indah dengan kilauan putih dan emas di setiap gedung. Rambut panjang Anna yang tergerai pun diikat dengan asal-asalan. Hari ini benar-benar melelahkan. Bukan karena syuting dan photoshoot yang jalan non stop. Tapi karena drama yang sama sekali tidak ia rencanakan. Anna baru saja hendak menjatuhkan dirinya ke sofa. Namun, suara bel apartment berbunyi. Ting tong. Anna berhenti sejenak. Ia melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam. Lalu melirik ke arah pintu. “Siapa yang datang malam-malam begini?” Tanya Anna sambil memiringkan kepala. Anna berjalan ke pintu dengan langkah pelan, lalu mengintip melalui kamera kecil di samping pintu. Dan jantungnya langsung melonjak. Itu adalah Alexandre. Anna segera membuka pintu, tidak membiarkan pria kesayangannya itu berdiri lebih lama di sana. Masih mengenakan kemeja putih yang sama seperti siang tadi. Namun kali ini tanpa dasi dan jasnya. Anna tidak memperdulikan kemana perginya dasi dan jas Alexandre. Mata Anna beralih pada kerah Alexandre yang sedikit terbuka, membuatnya terlihat lebih santai dari biasanya. Di tangannya ada sebuah tas kecil. “Ale?” Anna berkedip, “Kamu kenapa ke sini?”. Alexandre melangkah masuk tanpa banyak bicara. “Rei dan tim keamanan menyarankan aku untuk tidak pulang ke kediaman dinas malam ini,” jawabnya singkat. Ia meletakkan tasnya di meja. “Beberapa wartawan mencoba membuntuti mobilku.” Anna mengangkat alisnya. Alexandre melanjutkan dengan nada praktis seperti sedang menjelaskan strategi pertahanan negara. “Menginap di tempatmu lebih efisien daripada aku harus menambah personel keamanan di rumah.” Anna menatapnya beberapa detik. Lalu senyum bahagia perlahan muncul di wajahnya, “Jadi kamu… mau menginap?”. Alexandre menatapnya sebentar, “Kamu keberatan, hm?”. Pria itu menganalisis ekspresi Anna yang 100% dirinya tahu kalau wanita itu sangat bahagia saat ini. “Kurasa tidak” lanjutnya. Alexandre masuk ke dalam apartment Anna. Ia melepaskan sepatunya dan memakai sandal rumahan yang tersedia di rak dekat pintu. Pria itu berjalan ke sofa dan duduk dengan tenang. Anna menutup pintu dan mengikuti Alexandre dari belakang. Anna pun duduk disebelah Alexandre, sedikit bersandar di tubuh prianya. Alexandre menghela napas panjang. Baru kali ini sepanjang hari Anna melihat pria itu benar-benar terlihat lelah. Anna yang duduk di sampingnya, merekahkan senyumnya dan malah semakin lebar. Ia sama sekali tidak keberatan kalau Alexandre menginap di rumahnya. Anna malah sangat senang dan bahagia. Justru sebaliknya, Anna merasa seperti baru mendapatkan mainan baru untuk digoda. Anna langsung mengubah posisi duduknya menjadi tegap. Tanpa aba-aba, Anna menyalakan mode radio rusaknya, mulai menumpahkan segala kejadian hari itu dari yang penting sampai yang tidak penting sama sekali. “Ale, tahu gak? Tadi Melly marah-marah sampai pembuluh darah di keningnya hampir pecah!” Alexandre meraih remote televisi. Menyalakan layar besar di depan mereka. Anna tetap melanjutkan ceritanya tanpa jeda. Anna: “Dia bilang brand kosmetikku hampir saja memutus kontrak karena mereka pikir aku tipe wanita yang suka menangis di kafe!” Saluran televisi berubah. Berita ekonomi internasional muncul. “Melly pikir aku wanita macam apa sih!” Anna terus mengoceh. Sementara layar televisi berubah dari berita menjadi grafik saham memenuhi layar. “Padahal kan aku cuma kesal sama saladku, bukan sama kamu,” lanjut Anna. Alexandre dengan ekspresi malasnya terus mengubah saluran televisi. “Enggak deng, aku emang benar-benar kesal sama kamu, Ale.” Lanjut Anna. “Terus ya, tadi aku sempat lihat komentar-komentar” Alexandre menatap layar televisi dengan serius. Sepertinya ia menemukan saluran televisi kesukaannya. Animasi kelinci-kelinci yang berbicara dengan bahasa yang tidak diketahui. “Masa ada yang bilang kamu itu mafia!” Anna tertawa kecil. “Ada juga yang bilang kamu agen rahasia!” Ia mencondongkan tubuh ke arah Alexandre. Anna: “Lucu banget mereka. Masa kamu agen rahasia.” Segala ocehan Anna keluar tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Alexandre. Anna tetap terus berbicara, “Oh iya, aku juga baru beli cat kuku baru! Warnanya Australia coral. Menurutmu cocok gak kalau aku pakai untuk photoshoot besok?” Alexandre tetap menatap televisi. Saluran kembali berubah. Tampaknya Alexandre sudah bosan dengan animasi kelinci yang menurut dirinya itu kelinci bodoh. Layar kembali menunjukkan grafik ekonomi dunia terlihat naik turun dengan dramatis. Anna pun akhirnya menyadari kalau Alexandre tidak mendengarkannya. Wanita itumenatapnya kesal. “Ale! Aku sedang bicara!” jerit Anna. Alexandre hanya mengangkat alisnya. Pria itu akhirnya menjawab tapi matanya masih mengarah ke layar televisi. “Hmm.” Anna mengerutkan kening. “Hmm itu apa maksudnya?” tanyanya dengan kesal. “Coral,” kata Alexandre singkat. “Bagus.” Anna melongo, Alexandre tahu apa yang dia bicarakan. “Kamu bahkan tidak melihat tanganku!” lanjut Anna. Dan Anna pun kembali melanjutkan ceritanya. Tentang asisten manajernya yang sering salah membawa pesanan kopi. Tentang skrip drama barunya yang menurutnya terlalu klise. Tentang kucing tetangga yang suka mengeong di lorong apartemen setiap tengah malam. Namun Alexandre tetaplah Alexandre. Punggungnya tegak. Matanya fokus pada layar televisi. Sesekali ia hanya mengangguk minimalis. Kesabaran Anna akhirnya habis. Dengan gerakan kilat wanita itu memberikan kejutan kecil pada pinggang Alexandre. Cubit! “Aduh.” Alexandre tersentak. Ia menoleh dengan alis yang bertaut tajam. “Anna? jangan suka cubit dibilangin.”. “Kamu tidak mendengarkan!” protes Anna. Bibirnya mengerucut. “Dari tadi aku bicara panjang lebar, kamu malah sibuk melihat televisi. Malah gak jelas lagi yang kamu tonton itu!” seru Anna. Alexandre hanya mengelus pinggangnya tapi matanya sesekali ke televisi. Anna langsung meraih bantal sofa lalu memukul bahu Alexandre. Puk. “Rasakan ini!” Puk. “Dasar Menteri menyebalkan!” Puk. “Dasar Menteri galak!” Alexandre tidak menghindar dari serangan Anna. Ia hanya diam menerima serangan bantal empuk itu dengan wajah datar. Akhirnya ia mematikan televisi. Kemudian menangkap kedua pergelangan tangan Anna dengan satu tangan besarnya. Serangan itu langsung berhenti. “Maaf,” kata Alexandre singkat. Ia menatap Anna langsung di mata sang wanita. “Aku tadi mendengarkan.” Anna masih cemberut. “Tentang manajermu,” lanjut Alexandre. “Tentang komentar-komentar.” Ia menambahkan pelan. “Dan tentang warna kuku kamu.” Anna mendengus. Namun kemarahannya langsung menguap ketika menyadari tangannya masih berada dalam genggaman Alexandre. Hangat dan kuat. Anna melepaskan bantalnya. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu Alexandre dengan santai. “Habisnya kamu kaku sekali,” gumam Anna, nadanya begitu manja. Alexandre perlahan melepaskan tangannya. Lalu secara alami melingkarkan lengannya di pinggang Anna. Jemarinya mulai meraih dan mengelus rambut panjang Anna dengan gerakan pelan. Momen seperti ini jarang sekali terjadi. Alexandre tidak banyak bicara. Namun sentuhan pria jutek ini selalu jujur. “Ale,” panggil Anna pelan. Alexandre: “Ya?” Anna: “Pekerjaanmu hari ini… melelahkan?” Alexandre terdiam beberapa detik. Ia menatap langit-langit apartemen. “Aku harus menghentikan rapat harian kedua siang tadi.” Anna langsung mendongak. “Kenapa? Ada keadaan darurat negara?” tanya Anna. Alexandre menghela napas, “Ya”. Anna hanya mengangguk dan mendusel kepalanya di d**a Alexandre. “Boleh gak aku tanya, keadaan apa?” Tanya Anna. Alexandre menempatkan dagunya di atas kepala Anna. “Laporan intelijen masuk ke mejaku di tengah rapat.” balas Alexandre. Alexandre melanjutkan dengan nada datar. “Isinya bukan tentang perbatasan.” “Tapi tentang foto seorang artis yang katanya sedang menangis di kafe karena pria berbaju biru navy.” Anna membeku, “Kamu… membubarkan rapatmu hanya karena fotoku?” Alexandre menjawab tanpa ragu, “Aku tidak bisa fokus mendengar laporan pengadaan senjata kalau aku tahu ada kemungkinan aku telah membuat kekasihku benar-benar menangis.” Anna terdiam. Pria itu melanjutkan. “Meskipun itu berita palsu dan salah. Aku tetap harus memastikan situasinya terkendali.” Anna menatap wajah Alexandre lama. Kadang-kadang Alexandre terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Bukan secara fisik. Tapi dari cara ia memandang dunia. “Kamu terlalu dewasa, Ale,” bisik Anna. Alexandre menoleh sedikit. Anna melanjutkan dengan pelan, “Kasihan kamh Ale, dipaksa dewasa oleh keadaan.” “Jabatan kamu, tanggung jawabmu, keluarga kamu. Kamu gak pernah ya ngerasa ingin santai aja gitu sebentar?” Tanya Anna. Alexandre terdiam lalu senyum tipis muncul di wajah tegasnya. Senyum mahal yang sangat jarang terlihat. “Duniaku tidak memberikan izin untuk itu, Anna. Satu saja aku lengah, banyak hal bisa berantakan.” ucap Alexandre. Beberapa detik berlalu. Alexandre akhirnya bertanya, “Bagaimana dengan harimu? Apa jadwalmu juga seberat rapat alutsista?” Anna tertawa kecil. “Oh, hariku sangat kosong!”. Ia menghitung dengan jari. “Tadi setelah dari agensi, aku tidur siang terus nonton tutorial makeup. Pesan makanan lewat aplikasi lalu santai menunggu berita skandal kita turun.” Alexandre menyeringai. “Enak sekali, santai. Tidak ada rahasia negara, tidak ada rapat membosankan.” “Hidupku itu simpel, Ale.” balas Anna. Alexandre tiba-tiba berhenti mengelus rambutnya. Ia menoleh perlahan. Tatapannya berubah, “Hidupmu memang sangat enak.” Nada suara Alexandre dingin. Anna mengerutkan kening. “Kenapa nadamu jadi begitu?” Alexandre melepaskan rangkulannya. Ia bersandar ke belakang menciptakan jarak kecil di antara mereka. “Kamu punya kemewahan yang luar biasa, Anna.” Alexandre menatapnya langsung. “Kamu bisa mengoceh tentang hal-hal tidak penting selama berjam-jam. Kamu bisa tidur siang tanpa khawatir ada telepon darurat dari istana. Kamu bisa merasa dunia ini simpel.” Anna menatapnya bingung, “Ale… apa maksudmu?”. Alexandre menjawab dengan nada yang tajam, “Kamu bisa tetap kekanak-kanakan karena hidupmu mengizinkan itu.” “Kamu tidak perlu memikirkan nasib ribuan prajurit, tidak perlu memikirkan stabilitas anggaran negara.” Alexandre menambahkan dengan sarkasme halus, “Jadi jangan membandingkan keribetan hidupku dengan duniamu yang ringan.” Anna terdiam. Alexandre melanjutkan, “Sangat mudah merasa hidup ini simpel ketika beban terberatmu hanyalah komentar negatif di Instagram.” Apartemen Anna mendadak terasa dingin. Anna ingin membantah. Ingin mengatakan bahwa dunia hiburan juga penuh tekanan. Bahwa ia juga sering dihujat. Bahwa hidupnya tidak selalu mudah. Namun tatapan Alexandre membuat semua kata itu tertahan di tenggorokannya. Alexandre berdiri, “Aku akan mandi.” Suaranya kembali datar, “Lalu tidur di kamar tamu.” Anna tidak bergerak. “Besok aku harus berangkat pukul lima pagi.” Tanpa menoleh lagi, Alexandre berjalan menuju lorong apartemen. Pintu kamar mandi tertutup pelan. Anna masih duduk di sofa. Diam. Untuk pertama kalinya malam itu Anna menyadari sesuatu, meskipun mereka duduk sangat dekat, dunia mereka ternyata berada di dua sisi yang berbeda. Dan untuk pertama kalinya, Anna merasa bahwa pria yang selama ini selalu ia goda dengan santai itu menyimpan beban yang jauh lebih berat daripada yang pernah ia bayangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN