Reina menghapus airmatanya yang membasahi pipi. Dia menyembunyikan wajahnya ketika mendengar suara pintu ditutup dan suara langkah kaki yang semakin mendekat. Ekspresi Varen mengeras saat dia melihat istrinya sedang menangis. “Apa wanita mempunyai stok airmata berlebih? Kenapa kamu selalu menangis hanya gara-gara hal sepele?” tanya Varen dengan nada suaranya yang terdengar kesal. Reina menatap suaminya dengan tajam. “Hal sepele untukmu tapi hal besar untukku.” Varen mendengus, wanita memang makhluk paling rumit dan sulit dimengerti. Tidak neneknya, tidak istrinya semuanya sama saja dimata Varen. Bahkan bibinya pun tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. “Lihatlah ini! Aku meninggalkan catatan untukmu diatas nakas. Aku juga mengirimkan pesan yang sama ke ponselmu.” Varen mengulurkan sel

