"Seok ... Park Wooseok ...." "Argh! Siialannn!" Wooseok mengacak rambutnya, lalu berguling-guling di tempat tidurnya dengan kesal. Wooseok menderita saat ini. Dia tak bisa melupakan bayangan Joana. Bibir penuh wanita itu, dan cara wanita itu memanggil namanya. Wooseok benar-benar menjadi tidak normal. Sudah pukul tiga pagi, dan dia tak bisa menutup matanya sama sekali. "Dasar bodoh! Kenapa aku harus menciumnya? karena itu aku semakin tak bisa melupakannya, argh!" Wooseok menutup wajahnya dengan bantal, beberapa menit kemudian dia terdiam. "Nana ... hiks," ekspresi Wooseok berubah. Dia duduk lalu melempar bantal di tangannya ke lantai, "Nana? kenapa dia memanggil Direktur dengan begitu lembutnya? Hahaha, Nana? benar-benar tak masuk akal," Wooseok mendengus lalu meletakkan tangannya di p

